Yogyakarta (ANTARA) - Pasar Ngasem, pasar tradisional tertua di Yogyakarta, menyimpan jejak sejarah panjang yang berasal dari masa kerajaan. Dikenal sejak abad ke-19 sebagai pusat perdagangan burung, pasar ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang ekonomi bagi warga, tetapi juga sebagai simpul budaya dan kehidupan sosial masyarakat Yogyakarta.
Pasar ini awalnya identik dengan perdagangan burung yang ramai dikunjungi pembeli dari berbagai daerah. Aktivitas jual beli burung, sangkar dan perlengkapan pemeliharaan hewan menjadikan Pasar Ngasem sebagai ikon yang melekat di benak masyarakat. Meskipun kini fungsi pasar telah bergeser, pamornya sebagai ruang pertemuan budaya tetap kuat.
Bagi pedagang, Pasar Ngasem bukan sekadar tempat mencari rezeki, tetapi juga ruang untuk menjaga tradisi.
“Biasa, laris manis. Yang membedakan Pasar Ngasem dengan pasar lain itu ya karena ada Taman Sari di sini, jadi lebih ramai. Prospeknya juga bagus karena pengunjungnya lebih banyak, apalagi banyak wisatawan datang ke sini,” ujar Deby, salah satu pedagang makanan tradisional.
Di area dalam, deretan pedagang kuliner tradisional menyajikan aneka jajanan Jawa yang dimasak langsung di hadapan pembeli. Suasana ini sering menarik perhatian wisatawan yang tengah berkunjung ke kawasan Tamansari.
“Yang membuat saya tertarik itu karena banyak makanan khas Jawa yang masih diolah langsung di depan mata pengunjung. Rasanya berbeda, apalagi makanan tradisional di sini jarang saya temui di daerah saya,” kata Wawan, wisatawan asal Cianjur, Jawa Barat.
Selain kuliner, suasana guyub rukun antar-penjual juga memberi kesan tersendiri.
“Saya lihat-lihat di sini nggak ada persaingan yang saling menjatuhkan. Malah terasa akrab satu sama lain. Jadi bukan sekadar belanja, tapi juga merasakan kebudayaan Yogyakarta yang masih terjaga,” tambah Wawan.
Keberadaan Taman Sari yang hanya selemparan batu dari Pasar Ngasem membuat kawasan ini semakin menarik. Wisatawan dapat menikmati jejak sejarah kerajaan sekaligus merasakan kehidupan pasar tradisional yang penuh warna.
“Kalau pesan saya, semoga pasar ini terus ada dan makin dikembangkan. Supaya UMKM seperti ibu-ibu pedagang di sini bisa memenuhi kebutuhannya dari hasil jualan. Kesannya sangat menarik. Saya bisa belajar tentang budaya Jawa yang berbeda dengan Sunda, tapi tetap akrab dan hangat,” pungkas Wawan.
