Yogyakarta jadi percontohan embarkasi haji tanpa asrama

id yogyakarta,haji,embarkasi,percontohan,tanpa asrama, hotel

Yogyakarta jadi percontohan embarkasi haji tanpa asrama

ilustrasi - Jamaah caon haji kloter 97 atau sapu jagat asal Yogyakarta saat menunggu antrean pemeriksaan barang bawaan sebelum diberangkatjkan berhaji di asrama haji Donohudan Boyolali, Senin. Foto:Bambang Dwi Marwoto

Yogyakarta (ANTARA) - Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia tengah mematangkan berbagai persiapan, salah satunya adalah penambahan embarkasi baru di Yogyakarta, yang akan menjadi percontohan penggunaan hotel sebagai asrama haji, tanpa perlu membangun asrama haji baru.

Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochamad Irfan Yusuf atau yang akrab disapa Gus Irfan dalam Media Briefing Outlook Penyelenggaraan Haji 1447 H/2026 M, di Asrama Haji Jakarta, Kamis (8/1) mengungkapkan bahwa Yogyakarta dipilih karena kemudahan akses serta kesiapan fasilitas yang ada.

"Di Yogyakarta ini agak istimewa karena kami membuat embarkasi tanpa memiliki asrama haji. Kami menggunakan hotel yang sudah ada sebagai asrama haji. Yogyakarta menjadi salah satu percontohan, bagaimana embarkasi tanpa asrama haji," kata Menhaj.

Selain itu, keberadaan embarkasi Yogyakarta akan mempermudah jamaah haji dari wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta, yang sebelumnya harus bergabung dengan embarkasi lainnya.

Bandara YIA sebagai Embarkasi dan Debarkasi Haji untuk wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan sebagian wilayah Provinsi Jawa Tengah di antaranya Kabupaten Kebumen, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Magelang, Kota Magelang, dan Kabupaten Temanggung.

"Embarkasi haji Yogyakarta mulai beroperasi pada tahun 2026, melayani jamaah dari DIY dan sebagian Jawa Tengah. Embarkasi ini diharapkan dapat memangkas jarak dan waktu tempuh jamaah, mengurangi kepadatan di embarkasi lain, serta mengoptimalkan fungsi Bandara Internasional Yogyakarta," tambah Menteri Haji.

Menurut Menteri Haji, persiapan lainnya juga terus dimatangkan, terutama dalam hal akomodasi, konsumsi, dan transportasi untuk jamaah haji.

"Transportasi sudah 100 persen siap, konsumsi juga sudah 100 persen, dan kami sedang menyelesaikan akomodasi di Mekah. Insyaallah dalam satu minggu ini, kami pastikan akan bisa segera selesai," katanya.

Pelayanan kepada jamaah haji, menurutnya, merupakan prioritas utama, dan semua persiapan ini dilakukan dengan transparansi dan akuntabilitas yang tinggi. Kementerian Haji telah memastikan bahwa sistem yang digunakan dalam pemilihan penyedia layanan, termasuk akomodasi dan transportasi, dilakukan secara terbuka dengan prosedur yang jelas.

Menteri Haji juga mengungkapkan bahwa pelunasan biaya haji tahun ini sudah mencapai 95,72 persen untuk jamaah reguler dan 96,5 persen untuk jamaah khusus, dan diharapkan dapat mencapai 100 persen dalam waktu dekat. Pelunasan yang hampir mencapai 100 persen ini menunjukkan tingginya antusiasme jamaah haji tahun ini.

Selain itu, Menteri Haji menekankan bahwa petugas haji yang telah disiapkan selama satu bulan akan memberikan pelayanan terbaik kepada jamaah. Pelatihan petugas haji juga sudah dilaksanakan dengan baik, mereka akan dilatih dalam aspek fisik, pemahaman tugas, dan juga diberi pengetahuan tentang fikih haji, serta Bahasa Arab.

Untuk masalah kesehatan, pemeriksaan kesehatan bagi jamaah haji kali ini lebih ketat dibandingkan sebelumnya. Pemerintah memastikan bahwa hanya jamaah yang benar-benar siap secara fisik yang akan diberangkatkan.

"Kesehatan jamaah adalah prioritas utama kami dan kami berharap seluruh jamaah bisa melaksanakan ibadah haji dengan kondisi sehat, baik sebelum, selama, maupun setelah keberangkatan," tutup Menteri Haji.

Pemerintah, tambah Menhaj, berkomitmen menyelenggarakan haji 2026 secara profesional, transparan, dan berorientasi pada pelayanan serta perlindungan jemaah.

Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.