Logo Header Antaranews Jogja

Ekosistem gajah berubah pascabencana Sumatera

Senin, 23 Februari 2026 04:45 WIB
Image Print
Penjaga gajah jinak CRU DAS Peusangan Wahdi bersama dengan gajah jinak bernama Osin di CRU DAS Peusangan yang terletak di Desa Negeri Antara, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Minggu (22/02/2026). ANTARA/Fajar Satriyo

Bener Meriah (ANTARA) - Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan yang terletak di Desa Negeri Antara, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, terdampak bencana Sumatera, ekosistem gajah Sumatera ikut berubah.

Dalam pantauan pewarta, sungai Peusangan kini mengalami longsor di beberapa titik dan perluasan lebar aliran sekitar 200 meter.

“Kalau kondisi setelah bencana itu memang ada sedikit perubahan, karena gajah-gajah jina ini kita cari makannya, dan ada beberapa tempat yang memang tempatnya sudah hilang, sudah kena longsor,” kata penjaga gajah jinak di CRU Das Peusangan Wahdi di Desa negeri Antara, Minggu.

“Sama tempat yang biasanya kami kasih minum, sehingga kami tidak bisa turun lagi ke tempat itu, karena sudah jadi semacam tebing,” imbuhnya.

Gajah merupakan hewan yang memiliki ingatan spasial membuat mereka cenderung setia dan bisa melakukan kebiasaan turun-temurun. Dengan kondisi ekosistem yang terdampak maka mengganggu pada pola kebiasaan kawanan gajah.

Saat ini Conservation Respons Unit (CRU) Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan saat ini mempunyai total tiga ekor gajah Sumatera jinak dengan rerata umur 35 tahun.

Baca juga: Kemenhut resmi melarang atraksi gajah tunggang secara nasional

Wahdi mengatakan bahwa untuk merawat gajah jinak disini dibutuhkan ketekunan karena dalam segi perawatan gajah harus dimandikan dua kali dalam sehari.

Selain itu, perawatan gajah yakni berupa mengajarkan mereka untuk terus berjalan setiap hari sesuai dengan ekosistem aslinya.

“Kemudian ada sedikit latihan, latihan rutin itu namanya, ada untuk angkat kaki, dan juga semacam pemeliharaan cara dia bisa buka mulut seperti ini, biar bisa dia nampak giginya, supaya kami bisa cek apakah giginya bermasalah atau yang lainnya,” ungkap Wahdi.

Kondisi bencana Sumatra juga berdampak pada kawanan gajah liar yang berada di sekitar area DAS Peusangan.

Baca juga: Kemenhut melaporkan kematian gajah diduga akibat kawat listrik di Aceh

Dalam keterangannya, Wahdi sering melihat kawanan gajah kerap kesulitan untuk menyeberangi aliran sungai Peusangan yang kini mengalami pelebaran.

Untuk terus menjaga ekosistem gajah, sebelumnya Presiden Prabowo Subianto telah berkomitmen mendukung langkah konservasi gajah Sumatera yang saat ini populasinya terancam.

Pemerintah baru saja memberikan hibah lahan seluas 20 ribu hektare kepada World Wildlife Fund (WWF) untuk langkah konkrit membantu konservasi gajah yang saat ini ekosistemnya terancam oleh konflik satwa liar di Aceh.






Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Sungai Peusangan terdampak bencana, ekosistem gajah berubah



Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026