Dinkes Yogyakarta imbau masyarakat waspada leptospirosis

id leptospirosis,Yogyakarta,PHBS,Dinkes Yogyakarta

Dinkes Yogyakarta imbau masyarakat waspada leptospirosis

Hama tikus. ANTARA FOTO/Liem Mahesa Putra/hp/aa.

Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan menjaga kebersihan lingkungan guna mencegah penularan leptospirosis menyusul temuan enam kasus hingga Februari 2026.

Kepala Seksi Pencegahan, Pengendalian Penyakit Menular, dan Imunisasi Dinkes Kota Yogyakarta Endang Sri Rahayu menyebut kasus leptospirosis di Kota Yogyakarta bersifat endemis.

"Selalu ada setiap tahun. Istilahnya endemis. Tidak tinggi, tetapi tetap harus diwaspadai," ujar dia di Yogyakarta, Selasa.

Berdasarkan data Dinkes Kota Yogyakarta, pada 2023 tercatat 11 kasus, tahun 2024 sebanyak sembilan kasus, dan 2025 meningkat menjadi 14 kasus. Sementara sejak Januari hingga akhir Februari 2026 ditemukan enam kasus.

Seluruh kasus yang ditemukan tahun ini, kata dia, merupakan warga berdomisili di Kota Yogyakarta dan telah menjalani perawatan hingga dinyatakan sembuh.

"Kasus ditemukan di lingkungan yang terdapat tikus. Namun, penularan tidak semata-mata terjadi di rumah. Aktivitas di luar rumah seperti di pasar, sungai, sawah, atau tempat lain yang berisiko terpapar air tercemar juga menjadi faktor penting," kata dia.

Endang menjelaskan leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan melalui bakteri Leptospira yang umumnya berasal dari air kencing tikus terinfeksi.

Bakteri tersebut dapat masuk ke tubuh manusia melalui luka pada kulit maupun mukosa seperti mata, hidung, mulut, dan telinga.

Menurut dia, penularan dapat melalui air, makanan, minuman, atau benda yang terkontaminasi dengan gejala awal meliputi demam, pusing, nyeri otot terutama pada betis, mata merah atau kekuningan, serta berkurangnya jumlah urine.

"Demamnya biasanya tidak terlalu tinggi, sekitar 37-38 derajat, tapi nyeri betis itu khas. Kalau ada gejala seperti itu, segera periksa ke fasilitas kesehatan," ujar dia.

Menurut dia, musim hujan meningkatkan risiko penyebaran leptospirosis karena lingkungan lembap dan tumpukan sampah dapat memicu peningkatan populasi tikus.

Ia mengimbau masyarakat rutin membersihkan lingkungan dan tidak menumpuk sampah serta menggunakan alat pelindung diri seperti sepatu bot dan sarung tangan saat membersihkan selokan atau mengelola sampah.

Selain itu, warga disarankan segera mandi dengan sabun setelah terpapar air banjir atau air kotor serta menutup luka terbuka agar tidak menjadi pintu masuk bakteri.

"Intinya tetap waspada, jaga kebersihan, dan terapkan PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat). Itu yang paling penting," ujar Endang.

Pewarta :
Editor: Eka Arifa Rusqiyati
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.