Logo Header Antaranews Jogja

Bagaimana suasana Beijing menjelang pertemuan Xi dan Trump?

Rabu, 13 Mei 2026 17:49 WIB
Image Print
Gerbang Utara Balai Besar Rakyat di Beijing, Selasa (12/5/2026). ANTARA/Desca Lidya Natalia.

Beijing (ANTARA) - Udara musim panas di Beijing mulai menyengat. Berjalan di luar ruangan tanpa pelindung kepala terasa memusingkan, terlebih ketika bulu-bulu putih dari pohon kapuk beterbangan di berbagai sudut kota, mengganggu hidung dan mata. Kondisi itu membuat Beijing bukan pilihan favorit bagi sebagian orang.

Namun bagi sebagian lainnya, Beijing tetap menjadi salah satu tujuan utama di China, apa pun musimnya.

Sejak Januari hingga Mei tahun ini, sejumlah pemimpin negara dan pemerintahan datang ke Beijing. Mereka antara lain Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung, Perdana Menteri Kanada Mark Carney, Kanselir Jerman Friedrich Merz, Presiden Uruguay Luis Lacalle Pou, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez, Presiden Tajikistan Emomali Rahmon, hingga tentu saja sosok yang paling ditunggu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Lantas seperti apa kondisi Beijing menjelang kedatangan Trump? Masih panas dan ketat seperti biasa kah?

Beijing sebagai ibu kota

Sebagai ibu kota negara, Beijing memang memiliki tingkat pengamanan yang lebih ketat dibanding kota-kota lainnya, khususnya di sekitar lapangan Tiananmen, Balai Besar Rakyat maupun gedung-gedung pemerintahan di sekitarnya.

Presiden Xi dan Donald Trump sendiri rencananya akan bertemu di Balai Besar Rakyat ( dibaca Rénmín Dàhuìtáng) yaitu bangunan simbol utama Republik Rakyat China yang terletak di sisi barat Lapangan Tiananmen.

Balai Besar Rakyat didirikan atas usulan pendiri Republik Rakyat China, Mao Zedong, yang menginginkan sebuah aula besar untuk pertemuan rakyat. Bangunan itu kemudian resmi berdiri pada 24 September 1959 sebagai hadiah ulang tahun ke-10 berdirinya Republik Rakyat China.

Sesuai namanya, “Da” atau “Besar”, gedung ini memang berdiri megah di atas lahan seluas 150.000 meter persegi dengan luas bangunan mencapai 171.800 meter persegi. Ciri khas utamanya terletak pada fasad berbentuk menyerupai gunung, dengan bagian tengah lebih tinggi dan sisi kiri-kanan lebih rendah, yang melambangkan kestabilan negara.

Bangunan itu juga dikelilingi 134 pilar bulat, 12 di antaranya adalah pilar marmer setinggi 25 meter di pintu timur (pintu utama) dengan lambang RRC di atasnya.

Meski demikian, para kepala negara umumnya masuk melalui pintu utara yang menghadap ke Jalan Chang’an, salah satu jalan utama di Beijing. Jika cuaca kurang baik atau ada pertimbangan tertentu, aula besar di sisi utara Balai Besar Rakyat dipilih sebagai lokasi upacara penyambutan, meski seremoni biasanya digelar di halaman depan Gerbang Timur.

Pada Selasa (12/5), aula itu tampak lengang. Hamparan karpet merah membentang di bawah cahaya lampu-lampu chandelier, sementara guci-guci raksasa berdiri di sudut-sudut ruangan.

Aula utara di Balai Besar Rakyat di Beijing, Selasa (12/5/2026). (ANTARA/Desca Lidya Natalia)

Hari itu Presiden Xi setidaknya menerima tiga tamu resmi yaitu Putra Mahkota sekaligus Menteri Senior pada Kantor Perdana Menteri Brunei Darussalam Al-Muhtadee Billah, Direktur Jenderal UNESCO Khaled El-Enany dan Presiden Tajikistan Emomali Rahmon secara berturut-turut mulai pukul 16.00 - 18.00.

Rombongan yang ikut dalam tiga pertemuan itu pun tidak terlalu besar, sehingga ruangan yang digunakan pun ruangan-ruangan berukuran kecil dan sedang tentu dengan meja-meja raksasa yang memberikan kesan "dekat tapi jauh" saat pertemuan.

Pun tidak ada dekorasi berbeda di dalam Balai Besar Rakyat. Bendera Merah dengan Lima Bintang ( atau W Xng Hóng Qí) yang dipasang bersama bendera Tajikistan berwarna merah, putih, hijau yang dipasang di sejumlah tiang di sekitar lapangan Tiananmen menjadi satu-satunya penanda bahwa kepala negara dari Tajikistan berkunjung ke Beijing hari itu.

Bendera Brunei hanya dipasang di ruang pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan Pangeran Al-Muhtadee Billah. Sang pangeran tidak mendapat penyambutan kenegaraan karena bukan kepala negara.

Dari sisi pengamanan, jumlah kendaraan polisi yang biasa bersiaga di sekitar Great Hall of the People tampak ditambah. Sejumlah persimpangan juga ditutup bagi pejalan kaki, sementara pesepeda diwajibkan menunjukkan kartu identitas di beberapa titik pemeriksaan di sekitar Tiananmen Square dan Balai Besar Rakyat. Pemeriksaan seperti itu sebenarnya juga kerap dilakukan pada hari biasa, meski tanpa kunjungan kepala negara.

Kawasan tersebut memang selalu dijaga lebih ketat dibanding area lain di Beijing. Selain menjadi lokasi sidang tahunan parlemen China, konferensi partai, dan pertemuan kepala negara, tempat itu juga dianggap memiliki makna simbolis penting. Perdana Menteri pertama China, Zhou Enlai, pernah menyebut kawasan itu mewakili prinsip bahwa “rakyat adalah tuan negara”, sehingga kewibawaannya harus dijaga.


Selain ke Balai Besar Rakyat, Trump juga dijadwalkan mengunjungi Temple of Heaven atau Tintán (), kompleks yang dibangun pada 1420 pada masa Dinasti Ming. Tempat itu awalnya digunakan sebagai lokasi pemujaan kepada dewa langit pada musim dingin serta doa memohon panen yang baik pada musim semi.

Bangunan utama di kompleks tersebut adalah Aula Qinian atau Hall of Prayer for Good Harvests. Bangunan itu berbentuk lingkaran sebagai simbol langit, sementara halaman dan pagar luarnya berbentuk persegi yang melambangkan bumi. Seluruh strukturnya dibangun tanpa paku besi, melainkan menggunakan teknik sambungan kayu tradisional China. Susunan bangunan bertingkat tiga juga melambangkan hubungan antara langit, manusia, dan bumi.

Berdasarkan laporan media lokal, pengelola Kuil Langit telah mengumumkan penutupan sementara seluruh kawasan pada 13–14 Mei. Bahkan Aula Qinian sudah lebih dulu ditutup sejak 12 Mei.

Memang, sejumlah kepala negara mendapat perlakuan khusus dari Presiden China Xi Jinping.

Saat kunjungan terakhirnya pada 2017, Trump diajak Xi mengunjungi Forbidden City yang berada tepat di seberang Tiananmen Square. Perlakuan serupa juga diterima Presiden Prancis Emmanuel Macron yang memperoleh akses privat ke Forbidden City pada Desember 2025 dan ditemani Xi ke Chengdu. Sementara Raja Belanda Willem-Alexander beberapa kali mendapat pertemuan bernuansa personal bersama Xi dan Ibu Negara Peng Liyuan di Zhongnanhai, kediaman resmi Presiden China, dalam kunjungan pada 2015 dan 2018.

Isi pertemuan

Hingga sehari menjelang pertemuan, pemerintah China belum menjelaskan secara rinci agenda yang akan dibahas oleh Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Beijing.

"Selama kunjungan Presiden Trump ke Tiongkok, kedua kepala negara akan melakukan pertukaran pandangan mendalam tentang isu-isu utama yang menyangkut hubungan China-AS dan perdamaian serta pembangunan dunia," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Rabu (13/5).

Namun, Guo Jiakun tidak menjelaskan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan “isu-isu utama” tersebut.

Sebelum bertolak ke Beijing, Trump hanya menyebut penjualan senjata Amerika Serikat ke Taiwan serta nasib pengusaha media Hong Kong Jimmy Lai yang sedang dipenjara sebagai bagian dari agenda pembicaraan.

Trump juga dilaporkan membawa belasan CEO dan eksekutif perusahaan besar AS. Mereka antara lain Larry Fink, Stephen Schwarzman, Kelly Ortberg, Brian Sikes, Jane Fraser, dan Jim Anderson.

Turut bergabung pula Larry Culp, David Solomon, Jacob Thaysen, Michael Miebach, Dina Powell McCormick, serta Sanjay Mehrotra.

Kemudian Larry Culp (CEO GE Aerospace), David Solomon (CEO Goldman Sachs), Jacob Thaysen (CEO Illumina), Michael Miebach (CEO Mastercard), Dina Powell McCormick (Presiden dan Wakil Ketua Meta), Sanjay Mehrotra (CEO Micron),

Nama lainnya adalah Cristiano Amon, Elon Musk, Ryan McInerney, dan Jensen Huang yang disebut bergabung paling akhir ke pesawat Air Force One saat pengisian bahan bakar di Alaska.

Xinhua pada Rabu (13/5) pun menerbitkan satu tajuk rencana panjang yang berjudul "Hubungan China-AS tidak dapat kembali ke masa lalu, tapi dapat memiliki masa depan yang lebih baik".

Tulisan itu menyebut hubungan China-Amerika Serikat mengalami dua fase pasang surut dalam hampir satu dekade terakhir. Fase pertama adalah perang dagang terhadap China yang dilancarkan AS pada 2018, sedangkan fase kedua terkonsentrasi pada 2025.

"Hanya dalam beberapa bulan, hubungan China-AS mengalami proses dari suasana yang seperti badai akan datang hingga kembali cenderung stabil," demikian disebutkan dalam tulisan itu.

Saat ini, dialog China-Amerika Serikat disebut berlangsung dalam posisi yang lebih setara, dengan komunikasi yang lebih pragmatis dan landasan yang lebih jelas.

China juga menegaskan tidak menantang ataupun berupaya menggantikan Amerika Serikat, bahkan mengaku senang melihat AS tetap makmur dan berkembang. Namun Beijing kembali menekankan bahwa Taiwan merupakan isu inti paling penting dan sensitif dalam hubungan kedua negara.

Presiden China Xi Jinping pun berulang kali menyampaikan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Taiwan adalah bagian dari wilayah China. Beijing, menurut Xi, akan terus membela kedaulatan dan keutuhan wilayahnya serta tidak akan pernah membiarkan Taiwan memisahkan diri.

Karena itu, pertemuan di Beijing diharapkan mampu mendorong kedua negara memilih berjalan berdampingan. Langkah tersebut dinilai bukan hanya bermanfaat bagi China dan AS, tetapi juga bagi masa depan dunia.

Dunia memang menantikan pertemuan kedua pemimpin negara besar yang melakukan negosiasi resmi di "bangunan besar" dan tur privat ke "Kuil Langit"

Penantian itu mengingatkan pada sepenggal syair Kaisar Qianlong Emperor (1735–1796) saat mempersembahkan sesaji di Kuil Langit: (Yu qi huán x wàn fng tóng), yang secara bebas dapat dimaknai, “Saat panen melimpah datang, kebahagiaan menyebar ke seluruh penjuru negeri.”

Bila China dan Amerika Serikat sama-sama memperoleh hasil positif dari pertemuan itu, harapannya dampak baiknya juga dapat dirasakan negara-negara lain di dunia.

Bendera Brunei hanya dipasang di ruang pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan Pangeran Al-Muhtadee Billah. Sang pangeran tidak mendapat penyambutan kenegaraan karena bukan kepala negara.

Dari sisi pengamanan, jumlah kendaraan polisi yang biasa bersiaga di sekitar Great Hall of the People tampak ditambah. Sejumlah persimpangan juga ditutup bagi pejalan kaki, sementara pesepeda diwajibkan menunjukkan kartu identitas di beberapa titik pemeriksaan di sekitar Tiananmen Square dan Balai Besar Rakyat. Pemeriksaan seperti itu sebenarnya juga kerap dilakukan pada hari biasa, meski tanpa kunjungan kepala negara.

Kawasan tersebut memang selalu dijaga lebih ketat dibanding area lain di Beijing. Selain menjadi lokasi sidang tahunan parlemen China, konferensi partai, dan pertemuan kepala negara, tempat itu juga dianggap memiliki makna simbolis penting. Perdana Menteri pertama China, Zhou Enlai, pernah menyebut kawasan itu mewakili prinsip bahwa “rakyat adalah tuan negara”, sehingga kewibawaannya harus dijaga.


Selain ke Balai Besar Rakyat, Trump juga dijadwalkan mengunjungi Temple of Heaven atau Tintán (), kompleks yang dibangun pada 1420 pada masa Dinasti Ming. Tempat itu awalnya digunakan sebagai lokasi pemujaan kepada dewa langit pada musim dingin serta doa memohon panen yang baik pada musim semi.

Bangunan utama di kompleks tersebut adalah Aula Qinian atau Hall of Prayer for Good Harvests. Bangunan itu berbentuk lingkaran sebagai simbol langit, sementara halaman dan pagar luarnya berbentuk persegi yang melambangkan bumi. Seluruh strukturnya dibangun tanpa paku besi, melainkan menggunakan teknik sambungan kayu tradisional China. Susunan bangunan bertingkat tiga juga melambangkan hubungan antara langit, manusia, dan bumi.

Berdasarkan laporan media lokal, pengelola Kuil Langit telah mengumumkan penutupan sementara seluruh kawasan pada 13–14 Mei. Bahkan Aula Qinian sudah lebih dulu ditutup sejak 12 Mei.

Memang, sejumlah kepala negara mendapat perlakuan khusus dari Presiden China Xi Jinping.

Saat kunjungan terakhirnya pada 2017, Trump diajak Xi mengunjungi Forbidden City yang berada tepat di seberang Tiananmen Square. Perlakuan serupa juga diterima Presiden Prancis Emmanuel Macron yang memperoleh akses privat ke Forbidden City pada Desember 2025 dan ditemani Xi ke Chengdu. Sementara Raja Belanda Willem-Alexander beberapa kali mendapat pertemuan bernuansa personal bersama Xi dan Ibu Negara Peng Liyuan di Zhongnanhai, kediaman resmi Presiden China, dalam kunjungan pada 2015 dan 2018.

Isi pertemuan

Hingga sehari menjelang pertemuan, pemerintah China belum menjelaskan secara rinci agenda yang akan dibahas oleh Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Beijing.

"Selama kunjungan Presiden Trump ke Tiongkok, kedua kepala negara akan melakukan pertukaran pandangan mendalam tentang isu-isu utama yang menyangkut hubungan China-AS dan perdamaian serta pembangunan dunia," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Rabu (13/5).

Namun, Guo Jiakun tidak menjelaskan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan “isu-isu utama” tersebut.

Sebelum bertolak ke Beijing, Trump hanya menyebut penjualan senjata Amerika Serikat ke Taiwan serta nasib pengusaha media Hong Kong Jimmy Lai yang sedang dipenjara sebagai bagian dari agenda pembicaraan.

Trump juga dilaporkan membawa belasan CEO dan eksekutif perusahaan besar AS. Mereka antara lain Larry Fink, Stephen Schwarzman, Kelly Ortberg, Brian Sikes, Jane Fraser, dan Jim Anderson.

Turut bergabung pula Larry Culp, David Solomon, Jacob Thaysen, Michael Miebach, Dina Powell McCormick, serta Sanjay Mehrotra.

Kemudian Larry Culp (CEO GE Aerospace), David Solomon (CEO Goldman Sachs), Jacob Thaysen (CEO Illumina), Michael Miebach (CEO Mastercard), Dina Powell McCormick (Presiden dan Wakil Ketua Meta), Sanjay Mehrotra (CEO Micron),

Nama lainnya adalah Cristiano Amon, Elon Musk, Ryan McInerney, dan Jensen Huang yang disebut bergabung paling akhir ke pesawat Air Force One saat pengisian bahan bakar di Alaska.

Xinhua pada Rabu (13/5) pun menerbitkan satu tajuk rencana panjang yang berjudul "Hubungan China-AS tidak dapat kembali ke masa lalu, tapi dapat memiliki masa depan yang lebih baik".

Tulisan itu menyebut hubungan China-Amerika Serikat mengalami dua fase pasang surut dalam hampir satu dekade terakhir. Fase pertama adalah perang dagang terhadap China yang dilancarkan AS pada 2018, sedangkan fase kedua terkonsentrasi pada 2025.

"Hanya dalam beberapa bulan, hubungan China-AS mengalami proses dari suasana yang seperti badai akan datang hingga kembali cenderung stabil," demikian disebutkan dalam tulisan itu.

Saat ini, dialog China-Amerika Serikat disebut berlangsung dalam posisi yang lebih setara, dengan komunikasi yang lebih pragmatis dan landasan yang lebih jelas.

China juga menegaskan tidak menantang ataupun berupaya menggantikan Amerika Serikat, bahkan mengaku senang melihat AS tetap makmur dan berkembang. Namun Beijing kembali menekankan bahwa Taiwan merupakan isu inti paling penting dan sensitif dalam hubungan kedua negara.

Presiden China Xi Jinping pun berulang kali menyampaikan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Taiwan adalah bagian dari wilayah China. Beijing, menurut Xi, akan terus membela kedaulatan dan keutuhan wilayahnya serta tidak akan pernah membiarkan Taiwan memisahkan diri.

Karena itu, pertemuan di Beijing diharapkan mampu mendorong kedua negara memilih berjalan berdampingan. Langkah tersebut dinilai bukan hanya bermanfaat bagi China dan AS, tetapi juga bagi masa depan dunia.

Dunia memang menantikan pertemuan kedua pemimpin negara besar yang melakukan negosiasi resmi di "bangunan besar" dan tur privat ke "Kuil Langit"

Penantian itu mengingatkan pada sepenggal syair Kaisar Qianlong Emperor (1735–1796) saat mempersembahkan sesaji di Kuil Langit: (Yu qi huán x wàn fng tóng), yang secara bebas dapat dimaknai, “Saat panen melimpah datang, kebahagiaan menyebar ke seluruh penjuru negeri.”

Bila China dan Amerika Serikat sama-sama memperoleh hasil positif dari pertemuan itu, harapannya dampak baiknya juga dapat dirasakan negara-negara lain di dunia.

Bendera Brunei hanya dipasang di ruang pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan Pangeran Al-Muhtadee Billah. Sang pangeran tidak mendapat penyambutan kenegaraan karena bukan kepala negara.

Dari sisi pengamanan, jumlah kendaraan polisi yang biasa bersiaga di sekitar Great Hall of the People tampak ditambah. Sejumlah persimpangan juga ditutup bagi pejalan kaki, sementara pesepeda diwajibkan menunjukkan kartu identitas di beberapa titik pemeriksaan di sekitar Tiananmen Square dan Balai Besar Rakyat. Pemeriksaan seperti itu sebenarnya juga kerap dilakukan pada hari biasa, meski tanpa kunjungan kepala negara.

Kawasan tersebut memang selalu dijaga lebih ketat dibanding area lain di Beijing. Selain menjadi lokasi sidang tahunan parlemen China, konferensi partai, dan pertemuan kepala negara, tempat itu juga dianggap memiliki makna simbolis penting. Perdana Menteri pertama China, Zhou Enlai, pernah menyebut kawasan itu mewakili prinsip bahwa “rakyat adalah tuan negara”, sehingga kewibawaannya harus dijaga.


Selain ke Balai Besar Rakyat, Trump juga dijadwalkan mengunjungi Temple of Heaven atau Tintán (), kompleks yang dibangun pada 1420 pada masa Dinasti Ming. Tempat itu awalnya digunakan sebagai lokasi pemujaan kepada dewa langit pada musim dingin serta doa memohon panen yang baik pada musim semi.

Bangunan utama di kompleks tersebut adalah Aula Qinian atau Hall of Prayer for Good Harvests. Bangunan itu berbentuk lingkaran sebagai simbol langit, sementara halaman dan pagar luarnya berbentuk persegi yang melambangkan bumi. Seluruh strukturnya dibangun tanpa paku besi, melainkan menggunakan teknik sambungan kayu tradisional China. Susunan bangunan bertingkat tiga juga melambangkan hubungan antara langit, manusia, dan bumi.

Berdasarkan laporan media lokal, pengelola Kuil Langit telah mengumumkan penutupan sementara seluruh kawasan pada 13–14 Mei. Bahkan Aula Qinian sudah lebih dulu ditutup sejak 12 Mei.

Memang, sejumlah kepala negara mendapat perlakuan khusus dari Presiden China Xi Jinping.

Saat kunjungan terakhirnya pada 2017, Trump diajak Xi mengunjungi Forbidden City yang berada tepat di seberang Tiananmen Square. Perlakuan serupa juga diterima Presiden Prancis Emmanuel Macron yang memperoleh akses privat ke Forbidden City pada Desember 2025 dan ditemani Xi ke Chengdu. Sementara Raja Belanda Willem-Alexander beberapa kali mendapat pertemuan bernuansa personal bersama Xi dan Ibu Negara Peng Liyuan di Zhongnanhai, kediaman resmi Presiden China, dalam kunjungan pada 2015 dan 2018.

Isi pertemuan

Hingga sehari menjelang pertemuan, pemerintah China belum menjelaskan secara rinci agenda yang akan dibahas oleh Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Beijing.

"Selama kunjungan Presiden Trump ke Tiongkok, kedua kepala negara akan melakukan pertukaran pandangan mendalam tentang isu-isu utama yang menyangkut hubungan China-AS dan perdamaian serta pembangunan dunia," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Rabu (13/5).

Namun, Guo Jiakun tidak menjelaskan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan “isu-isu utama” tersebut.

Sebelum bertolak ke Beijing, Trump hanya menyebut penjualan senjata Amerika Serikat ke Taiwan serta nasib pengusaha media Hong Kong Jimmy Lai yang sedang dipenjara sebagai bagian dari agenda pembicaraan.

Trump juga dilaporkan membawa belasan CEO dan eksekutif perusahaan besar AS. Mereka antara lain Larry Fink, Stephen Schwarzman, Kelly Ortberg, Brian Sikes, Jane Fraser, dan Jim Anderson.

Turut bergabung pula Larry Culp, David Solomon, Jacob Thaysen, Michael Miebach, Dina Powell McCormick, serta Sanjay Mehrotra.

Kemudian Larry Culp (CEO GE Aerospace), David Solomon (CEO Goldman Sachs), Jacob Thaysen (CEO Illumina), Michael Miebach (CEO Mastercard), Dina Powell McCormick (Presiden dan Wakil Ketua Meta), Sanjay Mehrotra (CEO Micron),

Nama lainnya adalah Cristiano Amon, Elon Musk, Ryan McInerney, dan Jensen Huang yang disebut bergabung paling akhir ke pesawat Air Force One saat pengisian bahan bakar di Alaska.

Xinhua pada Rabu (13/5) pun menerbitkan satu tajuk rencana panjang yang berjudul "Hubungan China-AS tidak dapat kembali ke masa lalu, tapi dapat memiliki masa depan yang lebih baik".

Tulisan itu menyebut hubungan China-Amerika Serikat mengalami dua fase pasang surut dalam hampir satu dekade terakhir. Fase pertama adalah perang dagang terhadap China yang dilancarkan AS pada 2018, sedangkan fase kedua terkonsentrasi pada 2025.

"Hanya dalam beberapa bulan, hubungan China-AS mengalami proses dari suasana yang seperti badai akan datang hingga kembali cenderung stabil," demikian disebutkan dalam tulisan itu.

Saat ini, dialog China-Amerika Serikat disebut berlangsung dalam posisi yang lebih setara, dengan komunikasi yang lebih pragmatis dan landasan yang lebih jelas.

China juga menegaskan tidak menantang ataupun berupaya menggantikan Amerika Serikat, bahkan mengaku senang melihat AS tetap makmur dan berkembang. Namun Beijing kembali menekankan bahwa Taiwan merupakan isu inti paling penting dan sensitif dalam hubungan kedua negara.

Presiden China Xi Jinping pun berulang kali menyampaikan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Taiwan adalah bagian dari wilayah China. Beijing, menurut Xi, akan terus membela kedaulatan dan keutuhan wilayahnya serta tidak akan pernah membiarkan Taiwan memisahkan diri.

Karena itu, pertemuan di Beijing diharapkan mampu mendorong kedua negara memilih berjalan berdampingan. Langkah tersebut dinilai bukan hanya bermanfaat bagi China dan AS, tetapi juga bagi masa depan dunia.

Dunia memang menantikan pertemuan kedua pemimpin negara besar yang melakukan negosiasi resmi di "bangunan besar" dan tur privat ke "Kuil Langit"

Penantian itu mengingatkan pada sepenggal syair Kaisar Qianlong Emperor (1735–1796) saat mempersembahkan sesaji di Kuil Langit: (Yu qi huán x wàn fng tóng), yang secara bebas dapat dimaknai, “Saat panen melimpah datang, kebahagiaan menyebar ke seluruh penjuru negeri.”

Bila China dan Amerika Serikat sama-sama memperoleh hasil positif dari pertemuan itu, harapannya dampak baiknya juga dapat dirasakan negara-negara lain di dunia.

Bendera Brunei hanya dipasang di ruang pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan Pangeran Al-Muhtadee Billah. Sang pangeran tidak mendapat penyambutan kenegaraan karena bukan kepala negara.

Dari sisi pengamanan, jumlah kendaraan polisi yang biasa bersiaga di sekitar Great Hall of the People tampak ditambah. Sejumlah persimpangan juga ditutup bagi pejalan kaki, sementara pesepeda diwajibkan menunjukkan kartu identitas di beberapa titik pemeriksaan di sekitar Tiananmen Square dan Balai Besar Rakyat. Pemeriksaan seperti itu sebenarnya juga kerap dilakukan pada hari biasa, meski tanpa kunjungan kepala negara.

Kawasan tersebut memang selalu dijaga lebih ketat dibanding area lain di Beijing. Selain menjadi lokasi sidang tahunan parlemen China, konferensi partai, dan pertemuan kepala negara, tempat itu juga dianggap memiliki makna simbolis penting. Perdana Menteri pertama China, Zhou Enlai, pernah menyebut kawasan itu mewakili prinsip bahwa “rakyat adalah tuan negara”, sehingga kewibawaannya harus dijaga.


Selain ke Balai Besar Rakyat, Trump juga dijadwalkan mengunjungi Temple of Heaven atau Tintán (), kompleks yang dibangun pada 1420 pada masa Dinasti Ming. Tempat itu awalnya digunakan sebagai lokasi pemujaan kepada dewa langit pada musim dingin serta doa memohon panen yang baik pada musim semi.

Bangunan utama di kompleks tersebut adalah Aula Qinian atau Hall of Prayer for Good Harvests. Bangunan itu berbentuk lingkaran sebagai simbol langit, sementara halaman dan pagar luarnya berbentuk persegi yang melambangkan bumi. Seluruh strukturnya dibangun tanpa paku besi, melainkan menggunakan teknik sambungan kayu tradisional China. Susunan bangunan bertingkat tiga juga melambangkan hubungan antara langit, manusia, dan bumi.

Berdasarkan laporan media lokal, pengelola Kuil Langit telah mengumumkan penutupan sementara seluruh kawasan pada 13–14 Mei. Bahkan Aula Qinian sudah lebih dulu ditutup sejak 12 Mei.

Memang, sejumlah kepala negara mendapat perlakuan khusus dari Presiden China Xi Jinping.

Saat kunjungan terakhirnya pada 2017, Trump diajak Xi mengunjungi Forbidden City yang berada tepat di seberang Tiananmen Square. Perlakuan serupa juga diterima Presiden Prancis Emmanuel Macron yang memperoleh akses privat ke Forbidden City pada Desember 2025 dan ditemani Xi ke Chengdu. Sementara Raja Belanda Willem-Alexander beberapa kali mendapat pertemuan bernuansa personal bersama Xi dan Ibu Negara Peng Liyuan di Zhongnanhai, kediaman resmi Presiden China, dalam kunjungan pada 2015 dan 2018.

Isi pertemuan

Hingga sehari menjelang pertemuan, pemerintah China belum menjelaskan secara rinci agenda yang akan dibahas oleh Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Beijing.

"Selama kunjungan Presiden Trump ke Tiongkok, kedua kepala negara akan melakukan pertukaran pandangan mendalam tentang isu-isu utama yang menyangkut hubungan China-AS dan perdamaian serta pembangunan dunia," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Rabu (13/5).

Namun, Guo Jiakun tidak menjelaskan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan “isu-isu utama” tersebut.

Sebelum bertolak ke Beijing, Trump hanya menyebut penjualan senjata Amerika Serikat ke Taiwan serta nasib pengusaha media Hong Kong Jimmy Lai yang sedang dipenjara sebagai bagian dari agenda pembicaraan.

Trump juga dilaporkan membawa belasan CEO dan eksekutif perusahaan besar AS. Mereka antara lain Larry Fink, Stephen Schwarzman, Kelly Ortberg, Brian Sikes, Jane Fraser, dan Jim Anderson.

Turut bergabung pula Larry Culp, David Solomon, Jacob Thaysen, Michael Miebach, Dina Powell McCormick, serta Sanjay Mehrotra.

Kemudian Larry Culp (CEO GE Aerospace), David Solomon (CEO Goldman Sachs), Jacob Thaysen (CEO Illumina), Michael Miebach (CEO Mastercard), Dina Powell McCormick (Presiden dan Wakil Ketua Meta), Sanjay Mehrotra (CEO Micron),

Nama lainnya adalah Cristiano Amon, Elon Musk, Ryan McInerney, dan Jensen Huang yang disebut bergabung paling akhir ke pesawat Air Force One saat pengisian bahan bakar di Alaska.

Xinhua pada Rabu (13/5) pun menerbitkan satu tajuk rencana panjang yang berjudul "Hubungan China-AS tidak dapat kembali ke masa lalu, tapi dapat memiliki masa depan yang lebih baik".

Tulisan itu menyebut hubungan China-Amerika Serikat mengalami dua fase pasang surut dalam hampir satu dekade terakhir. Fase pertama adalah perang dagang terhadap China yang dilancarkan AS pada 2018, sedangkan fase kedua terkonsentrasi pada 2025.

"Hanya dalam beberapa bulan, hubungan China-AS mengalami proses dari suasana yang seperti badai akan datang hingga kembali cenderung stabil," demikian disebutkan dalam tulisan itu.

Saat ini, dialog China-Amerika Serikat disebut berlangsung dalam posisi yang lebih setara, dengan komunikasi yang lebih pragmatis dan landasan yang lebih jelas.

China juga menegaskan tidak menantang ataupun berupaya menggantikan Amerika Serikat, bahkan mengaku senang melihat AS tetap makmur dan berkembang. Namun Beijing kembali menekankan bahwa Taiwan merupakan isu inti paling penting dan sensitif dalam hubungan kedua negara.

Presiden China Xi Jinping pun berulang kali menyampaikan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Taiwan adalah bagian dari wilayah China. Beijing, menurut Xi, akan terus membela kedaulatan dan keutuhan wilayahnya serta tidak akan pernah membiarkan Taiwan memisahkan diri.

Karena itu, pertemuan di Beijing diharapkan mampu mendorong kedua negara memilih berjalan berdampingan. Langkah tersebut dinilai bukan hanya bermanfaat bagi China dan AS, tetapi juga bagi masa depan dunia.

Dunia memang menantikan pertemuan kedua pemimpin negara besar yang melakukan negosiasi resmi di "bangunan besar" dan tur privat ke "Kuil Langit"

Penantian itu mengingatkan pada sepenggal syair Kaisar Qianlong Emperor (1735–1796) saat mempersembahkan sesaji di Kuil Langit: (Yu qi huán x wàn fng tóng), yang secara bebas dapat dimaknai, “Saat panen melimpah datang, kebahagiaan menyebar ke seluruh penjuru negeri.”

Bila China dan Amerika Serikat sama-sama memperoleh hasil positif dari pertemuan itu, harapannya dampak baiknya juga dapat dirasakan negara-negara lain di dunia.

Bendera Brunei hanya dipasang di ruang pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan Pangeran Al-Muhtadee Billah. Sang pangeran tidak mendapat penyambutan kenegaraan karena bukan kepala negara.

Dari sisi pengamanan, jumlah kendaraan polisi yang biasa bersiaga di sekitar Great Hall of the People tampak ditambah. Sejumlah persimpangan juga ditutup bagi pejalan kaki, sementara pesepeda diwajibkan menunjukkan kartu identitas di beberapa titik pemeriksaan di sekitar Tiananmen Square dan Balai Besar Rakyat. Pemeriksaan seperti itu sebenarnya juga kerap dilakukan pada hari biasa, meski tanpa kunjungan kepala negara.

Kawasan tersebut memang selalu dijaga lebih ketat dibanding area lain di Beijing. Selain menjadi lokasi sidang tahunan parlemen China, konferensi partai, dan pertemuan kepala negara, tempat itu juga dianggap memiliki makna simbolis penting. Perdana Menteri pertama China, Zhou Enlai, pernah menyebut kawasan itu mewakili prinsip bahwa “rakyat adalah tuan negara”, sehingga kewibawaannya harus dijaga.


Selain ke Balai Besar Rakyat, Trump juga dijadwalkan mengunjungi Temple of Heaven atau Tintán (), kompleks yang dibangun pada 1420 pada masa Dinasti Ming. Tempat itu awalnya digunakan sebagai lokasi pemujaan kepada dewa langit pada musim dingin serta doa memohon panen yang baik pada musim semi.

Bangunan utama di kompleks tersebut adalah Aula Qinian atau Hall of Prayer for Good Harvests. Bangunan itu berbentuk lingkaran sebagai simbol langit, sementara halaman dan pagar luarnya berbentuk persegi yang melambangkan bumi. Seluruh strukturnya dibangun tanpa paku besi, melainkan menggunakan teknik sambungan kayu tradisional China. Susunan bangunan bertingkat tiga juga melambangkan hubungan antara langit, manusia, dan bumi.

Berdasarkan laporan media lokal, pengelola Kuil Langit telah mengumumkan penutupan sementara seluruh kawasan pada 13–14 Mei. Bahkan Aula Qinian sudah lebih dulu ditutup sejak 12 Mei.

Memang, sejumlah kepala negara mendapat perlakuan khusus dari Presiden China Xi Jinping.

Saat kunjungan terakhirnya pada 2017, Trump diajak Xi mengunjungi Forbidden City yang berada tepat di seberang Tiananmen Square. Perlakuan serupa juga diterima Presiden Prancis Emmanuel Macron yang memperoleh akses privat ke Forbidden City pada Desember 2025 dan ditemani Xi ke Chengdu. Sementara Raja Belanda Willem-Alexander beberapa kali mendapat pertemuan bernuansa personal bersama Xi dan Ibu Negara Peng Liyuan di Zhongnanhai, kediaman resmi Presiden China, dalam kunjungan pada 2015 dan 2018.

Isi pertemuan

Hingga sehari menjelang pertemuan, pemerintah China belum menjelaskan secara rinci agenda yang akan dibahas oleh Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Beijing.

"Selama kunjungan Presiden Trump ke Tiongkok, kedua kepala negara akan melakukan pertukaran pandangan mendalam tentang isu-isu utama yang menyangkut hubungan China-AS dan perdamaian serta pembangunan dunia," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Rabu (13/5).

Namun, Guo Jiakun tidak menjelaskan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan “isu-isu utama” tersebut.

Sebelum bertolak ke Beijing, Trump hanya menyebut penjualan senjata Amerika Serikat ke Taiwan serta nasib pengusaha media Hong Kong Jimmy Lai yang sedang dipenjara sebagai bagian dari agenda pembicaraan.

Trump juga dilaporkan membawa belasan CEO dan eksekutif perusahaan besar AS. Mereka antara lain Larry Fink, Stephen Schwarzman, Kelly Ortberg, Brian Sikes, Jane Fraser, dan Jim Anderson.

Turut bergabung pula Larry Culp, David Solomon, Jacob Thaysen, Michael Miebach, Dina Powell McCormick, serta Sanjay Mehrotra.

Kemudian Larry Culp (CEO GE Aerospace), David Solomon (CEO Goldman Sachs), Jacob Thaysen (CEO Illumina), Michael Miebach (CEO Mastercard), Dina Powell McCormick (Presiden dan Wakil Ketua Meta), Sanjay Mehrotra (CEO Micron),

Nama lainnya adalah Cristiano Amon, Elon Musk, Ryan McInerney, dan Jensen Huang yang disebut bergabung paling akhir ke pesawat Air Force One saat pengisian bahan bakar di Alaska.

Xinhua pada Rabu (13/5) pun menerbitkan satu tajuk rencana panjang yang berjudul "Hubungan China-AS tidak dapat kembali ke masa lalu, tapi dapat memiliki masa depan yang lebih baik".

Tulisan itu menyebut hubungan China-Amerika Serikat mengalami dua fase pasang surut dalam hampir satu dekade terakhir. Fase pertama adalah perang dagang terhadap China yang dilancarkan AS pada 2018, sedangkan fase kedua terkonsentrasi pada 2025.

"Hanya dalam beberapa bulan, hubungan China-AS mengalami proses dari suasana yang seperti badai akan datang hingga kembali cenderung stabil," demikian disebutkan dalam tulisan itu.

Saat ini, dialog China-Amerika Serikat disebut berlangsung dalam posisi yang lebih setara, dengan komunikasi yang lebih pragmatis dan landasan yang lebih jelas.

China juga menegaskan tidak menantang ataupun berupaya menggantikan Amerika Serikat, bahkan mengaku senang melihat AS tetap makmur dan berkembang. Namun Beijing kembali menekankan bahwa Taiwan merupakan isu inti paling penting dan sensitif dalam hubungan kedua negara.

Presiden China Xi Jinping pun berulang kali menyampaikan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Taiwan adalah bagian dari wilayah China. Beijing, menurut Xi, akan terus membela kedaulatan dan keutuhan wilayahnya serta tidak akan pernah membiarkan Taiwan memisahkan diri.

Karena itu, pertemuan di Beijing diharapkan mampu mendorong kedua negara memilih berjalan berdampingan. Langkah tersebut dinilai bukan hanya bermanfaat bagi China dan AS, tetapi juga bagi masa depan dunia.

Dunia memang menantikan pertemuan kedua pemimpin negara besar yang melakukan negosiasi resmi di "bangunan besar" dan tur privat ke "Kuil Langit"

Penantian itu mengingatkan pada sepenggal syair Kaisar Qianlong Emperor (1735–1796) saat mempersembahkan sesaji di Kuil Langit: (Yu qi huán x wàn fng tóng), yang secara bebas dapat dimaknai, “Saat panen melimpah datang, kebahagiaan menyebar ke seluruh penjuru negeri.”

Bila China dan Amerika Serikat sama-sama memperoleh hasil positif dari pertemuan itu, harapannya dampak baiknya juga dapat dirasakan negara-negara lain di dunia.

Bendera Brunei hanya dipasang di ruang pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan Pangeran Al-Muhtadee Billah. Sang pangeran tidak mendapat penyambutan kenegaraan karena bukan kepala negara.

Dari sisi pengamanan, jumlah kendaraan polisi yang biasa bersiaga di sekitar Great Hall of the People tampak ditambah. Sejumlah persimpangan juga ditutup bagi pejalan kaki, sementara pesepeda diwajibkan menunjukkan kartu identitas di beberapa titik pemeriksaan di sekitar Tiananmen Square dan Balai Besar Rakyat. Pemeriksaan seperti itu sebenarnya juga kerap dilakukan pada hari biasa, meski tanpa kunjungan kepala negara.

Kawasan tersebut memang selalu dijaga lebih ketat dibanding area lain di Beijing. Selain menjadi lokasi sidang tahunan parlemen China, konferensi partai, dan pertemuan kepala negara, tempat itu juga dianggap memiliki makna simbolis penting. Perdana Menteri pertama China, Zhou Enlai, pernah menyebut kawasan itu mewakili prinsip bahwa “rakyat adalah tuan negara”, sehingga kewibawaannya harus dijaga.


Selain ke Balai Besar Rakyat, Trump juga dijadwalkan mengunjungi Temple of Heaven atau Tintán (), kompleks yang dibangun pada 1420 pada masa Dinasti Ming. Tempat itu awalnya digunakan sebagai lokasi pemujaan kepada dewa langit pada musim dingin serta doa memohon panen yang baik pada musim semi.

Bangunan utama di kompleks tersebut adalah Aula Qinian atau Hall of Prayer for Good Harvests. Bangunan itu berbentuk lingkaran sebagai simbol langit, sementara halaman dan pagar luarnya berbentuk persegi yang melambangkan bumi. Seluruh strukturnya dibangun tanpa paku besi, melainkan menggunakan teknik sambungan kayu tradisional China. Susunan bangunan bertingkat tiga juga melambangkan hubungan antara langit, manusia, dan bumi.

Berdasarkan laporan media lokal, pengelola Kuil Langit telah mengumumkan penutupan sementara seluruh kawasan pada 13–14 Mei. Bahkan Aula Qinian sudah lebih dulu ditutup sejak 12 Mei.

Memang, sejumlah kepala negara mendapat perlakuan khusus dari Presiden China Xi Jinping.

Saat kunjungan terakhirnya pada 2017, Trump diajak Xi mengunjungi Forbidden City yang berada tepat di seberang Tiananmen Square. Perlakuan serupa juga diterima Presiden Prancis Emmanuel Macron yang memperoleh akses privat ke Forbidden City pada Desember 2025 dan ditemani Xi ke Chengdu. Sementara Raja Belanda Willem-Alexander beberapa kali mendapat pertemuan bernuansa personal bersama Xi dan Ibu Negara Peng Liyuan di Zhongnanhai, kediaman resmi Presiden China, dalam kunjungan pada 2015 dan 2018.

Isi pertemuan

Hingga sehari menjelang pertemuan, pemerintah China belum menjelaskan secara rinci agenda yang akan dibahas oleh Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Beijing.

"Selama kunjungan Presiden Trump ke Tiongkok, kedua kepala negara akan melakukan pertukaran pandangan mendalam tentang isu-isu utama yang menyangkut hubungan China-AS dan perdamaian serta pembangunan dunia," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Rabu (13/5).

Namun, Guo Jiakun tidak menjelaskan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan “isu-isu utama” tersebut.

Sebelum bertolak ke Beijing, Trump hanya menyebut penjualan senjata Amerika Serikat ke Taiwan serta nasib pengusaha media Hong Kong Jimmy Lai yang sedang dipenjara sebagai bagian dari agenda pembicaraan.

Trump juga dilaporkan membawa belasan CEO dan eksekutif perusahaan besar AS. Mereka antara lain Larry Fink, Stephen Schwarzman, Kelly Ortberg, Brian Sikes, Jane Fraser, dan Jim Anderson.

Turut bergabung pula Larry Culp, David Solomon, Jacob Thaysen, Michael Miebach, Dina Powell McCormick, serta Sanjay Mehrotra.

Kemudian Larry Culp (CEO GE Aerospace), David Solomon (CEO Goldman Sachs), Jacob Thaysen (CEO Illumina), Michael Miebach (CEO Mastercard), Dina Powell McCormick (Presiden dan Wakil Ketua Meta), Sanjay Mehrotra (CEO Micron),

Nama lainnya adalah Cristiano Amon, Elon Musk, Ryan McInerney, dan Jensen Huang yang disebut bergabung paling akhir ke pesawat Air Force One saat pengisian bahan bakar di Alaska.

Xinhua pada Rabu (13/5) pun menerbitkan satu tajuk rencana panjang yang berjudul "Hubungan China-AS tidak dapat kembali ke masa lalu, tapi dapat memiliki masa depan yang lebih baik".

Tulisan itu menyebut hubungan China-Amerika Serikat mengalami dua fase pasang surut dalam hampir satu dekade terakhir. Fase pertama adalah perang dagang terhadap China yang dilancarkan AS pada 2018, sedangkan fase kedua terkonsentrasi pada 2025.

"Hanya dalam beberapa bulan, hubungan China-AS mengalami proses dari suasana yang seperti badai akan datang hingga kembali cenderung stabil," demikian disebutkan dalam tulisan itu.

Saat ini, dialog China-Amerika Serikat disebut berlangsung dalam posisi yang lebih setara, dengan komunikasi yang lebih pragmatis dan landasan yang lebih jelas.

China juga menegaskan tidak menantang ataupun berupaya menggantikan Amerika Serikat, bahkan mengaku senang melihat AS tetap makmur dan berkembang. Namun Beijing kembali menekankan bahwa Taiwan merupakan isu inti paling penting dan sensitif dalam hubungan kedua negara.

Presiden China Xi Jinping pun berulang kali menyampaikan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Taiwan adalah bagian dari wilayah China. Beijing, menurut Xi, akan terus membela kedaulatan dan keutuhan wilayahnya serta tidak akan pernah membiarkan Taiwan memisahkan diri.

Karena itu, pertemuan di Beijing diharapkan mampu mendorong kedua negara memilih berjalan berdampingan. Langkah tersebut dinilai bukan hanya bermanfaat bagi China dan AS, tetapi juga bagi masa depan dunia.

Dunia memang menantikan pertemuan kedua pemimpin negara besar yang melakukan negosiasi resmi di "bangunan besar" dan tur privat ke "Kuil Langit"

Penantian itu mengingatkan pada sepenggal syair Kaisar Qianlong Emperor (1735–1796) saat mempersembahkan sesaji di Kuil Langit: (Yu qi huán x wàn fng tóng), yang secara bebas dapat dimaknai, “Saat panen melimpah datang, kebahagiaan menyebar ke seluruh penjuru negeri.”

Bila China dan Amerika Serikat sama-sama memperoleh hasil positif dari pertemuan itu, harapannya dampak baiknya juga dapat dirasakan negara-negara lain di dunia.

Bendera Brunei hanya dipasang di ruang pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan Pangeran Al-Muhtadee Billah. Sang pangeran tidak mendapat penyambutan kenegaraan karena bukan kepala negara.

Dari sisi pengamanan, jumlah kendaraan polisi yang biasa bersiaga di sekitar Great Hall of the People tampak ditambah. Sejumlah persimpangan juga ditutup bagi pejalan kaki, sementara pesepeda diwajibkan menunjukkan kartu identitas di beberapa titik pemeriksaan di sekitar Tiananmen Square dan Balai Besar Rakyat. Pemeriksaan seperti itu sebenarnya juga kerap dilakukan pada hari biasa, meski tanpa kunjungan kepala negara.

Kawasan tersebut memang selalu dijaga lebih ketat dibanding area lain di Beijing. Selain menjadi lokasi sidang tahunan parlemen China, konferensi partai, dan pertemuan kepala negara, tempat itu juga dianggap memiliki makna simbolis penting. Perdana Menteri pertama China, Zhou Enlai, pernah menyebut kawasan itu mewakili prinsip bahwa “rakyat adalah tuan negara”, sehingga kewibawaannya harus dijaga.


Selain ke Balai Besar Rakyat, Trump juga dijadwalkan mengunjungi Temple of Heaven atau Tintán (), kompleks yang dibangun pada 1420 pada masa Dinasti Ming. Tempat itu awalnya digunakan sebagai lokasi pemujaan kepada dewa langit pada musim dingin serta doa memohon panen yang baik pada musim semi.

Bangunan utama di kompleks tersebut adalah Aula Qinian atau Hall of Prayer for Good Harvests. Bangunan itu berbentuk lingkaran sebagai simbol langit, sementara halaman dan pagar luarnya berbentuk persegi yang melambangkan bumi. Seluruh strukturnya dibangun tanpa paku besi, melainkan menggunakan teknik sambungan kayu tradisional China. Susunan bangunan bertingkat tiga juga melambangkan hubungan antara langit, manusia, dan bumi.

Berdasarkan laporan media lokal, pengelola Kuil Langit telah mengumumkan penutupan sementara seluruh kawasan pada 13–14 Mei. Bahkan Aula Qinian sudah lebih dulu ditutup sejak 12 Mei.

Memang, sejumlah kepala negara mendapat perlakuan khusus dari Presiden China Xi Jinping.

Saat kunjungan terakhirnya pada 2017, Trump diajak Xi mengunjungi Forbidden City yang berada tepat di seberang Tiananmen Square. Perlakuan serupa juga diterima Presiden Prancis Emmanuel Macron yang memperoleh akses privat ke Forbidden City pada Desember 2025 dan ditemani Xi ke Chengdu. Sementara Raja Belanda Willem-Alexander beberapa kali mendapat pertemuan bernuansa personal bersama Xi dan Ibu Negara Peng Liyuan di Zhongnanhai, kediaman resmi Presiden China, dalam kunjungan pada 2015 dan 2018.



Isi pertemuan

Hingga sehari menjelang pertemuan, pemerintah China belum menjelaskan secara rinci agenda yang akan dibahas oleh Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Beijing.

"Selama kunjungan Presiden Trump ke Tiongkok, kedua kepala negara akan melakukan pertukaran pandangan mendalam tentang isu-isu utama yang menyangkut hubungan China-AS dan perdamaian serta pembangunan dunia," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Rabu (13/5).

Namun, Guo Jiakun tidak menjelaskan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan “isu-isu utama” tersebut.

Sebelum bertolak ke Beijing, Trump hanya menyebut penjualan senjata Amerika Serikat ke Taiwan serta nasib pengusaha media Hong Kong Jimmy Lai yang sedang dipenjara sebagai bagian dari agenda pembicaraan.



Trump juga dilaporkan membawa belasan CEO dan eksekutif perusahaan besar AS. Mereka antara lain Larry Fink, Stephen Schwarzman, Kelly Ortberg, Brian Sikes, Jane Fraser, dan Jim Anderson.

Turut bergabung pula Larry Culp, David Solomon, Jacob Thaysen, Michael Miebach, Dina Powell McCormick, serta Sanjay Mehrotra.

Kemudian Larry Culp (CEO GE Aerospace), David Solomon (CEO Goldman Sachs), Jacob Thaysen (CEO Illumina), Michael Miebach (CEO Mastercard), Dina Powell McCormick (Presiden dan Wakil Ketua Meta), Sanjay Mehrotra (CEO Micron),

Nama lainnya adalah Cristiano Amon, Elon Musk, Ryan McInerney, dan Jensen Huang yang disebut bergabung paling akhir ke pesawat Air Force One saat pengisian bahan bakar di Alaska.

Xinhua pada Rabu (13/5) pun menerbitkan satu tajuk rencana panjang yang berjudul "Hubungan China-AS tidak dapat kembali ke masa lalu, tapi dapat memiliki masa depan yang lebih baik".

Tulisan itu menyebut hubungan China-Amerika Serikat mengalami dua fase pasang surut dalam hampir satu dekade terakhir. Fase pertama adalah perang dagang terhadap China yang dilancarkan AS pada 2018, sedangkan fase kedua terkonsentrasi pada 2025.

"Hanya dalam beberapa bulan, hubungan China-AS mengalami proses dari suasana yang seperti badai akan datang hingga kembali cenderung stabil," demikian disebutkan dalam tulisan itu.

Saat ini, dialog China-Amerika Serikat disebut berlangsung dalam posisi yang lebih setara, dengan komunikasi yang lebih pragmatis dan landasan yang lebih jelas.

China juga menegaskan tidak menantang ataupun berupaya menggantikan Amerika Serikat, bahkan mengaku senang melihat AS tetap makmur dan berkembang. Namun Beijing kembali menekankan bahwa Taiwan merupakan isu inti paling penting dan sensitif dalam hubungan kedua negara.

Presiden China Xi Jinping pun berulang kali menyampaikan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Taiwan adalah bagian dari wilayah China. Beijing, menurut Xi, akan terus membela kedaulatan dan keutuhan wilayahnya serta tidak akan pernah membiarkan Taiwan memisahkan diri.

Karena itu, pertemuan di Beijing diharapkan mampu mendorong kedua negara memilih berjalan berdampingan. Langkah tersebut dinilai bukan hanya bermanfaat bagi China dan AS, tetapi juga bagi masa depan dunia.

Dunia memang menantikan pertemuan kedua pemimpin negara besar yang melakukan negosiasi resmi di "bangunan besar" dan tur privat ke "Kuil Langit"

Penantian itu mengingatkan pada sepenggal syair Kaisar Qianlong Emperor (1735–1796) saat mempersembahkan sesaji di Kuil Langit: (Yu qi huán x wàn fng tóng), yang secara bebas dapat dimaknai, “Saat panen melimpah datang, kebahagiaan menyebar ke seluruh penjuru negeri.”

Bila China dan Amerika Serikat sama-sama memperoleh hasil positif dari pertemuan itu, harapannya dampak baiknya juga dapat dirasakan negara-negara lain di dunia.


Bendera Brunei hanya dipasang di ruang pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan Pangeran Al-Muhtadee Billah. Sang pangeran tidak mendapat penyambutan kenegaraan karena bukan kepala negara.

Dari sisi pengamanan, jumlah kendaraan polisi yang biasa bersiaga di sekitar Great Hall of the People tampak ditambah. Sejumlah persimpangan juga ditutup bagi pejalan kaki, sementara pesepeda diwajibkan menunjukkan kartu identitas di beberapa titik pemeriksaan di sekitar Tiananmen Square dan Balai Besar Rakyat. Pemeriksaan seperti itu sebenarnya juga kerap dilakukan pada hari biasa, meski tanpa kunjungan kepala negara.

Kawasan tersebut memang selalu dijaga lebih ketat dibanding area lain di Beijing. Selain menjadi lokasi sidang tahunan parlemen China, konferensi partai, dan pertemuan kepala negara, tempat itu juga dianggap memiliki makna simbolis penting. Perdana Menteri pertama China, Zhou Enlai, pernah menyebut kawasan itu mewakili prinsip bahwa “rakyat adalah tuan negara”, sehingga kewibawaannya harus dijaga.


Selain ke Balai Besar Rakyat, Trump juga dijadwalkan mengunjungi Temple of Heaven atau Tintán (), kompleks yang dibangun pada 1420 pada masa Dinasti Ming. Tempat itu awalnya digunakan sebagai lokasi pemujaan kepada dewa langit pada musim dingin serta doa memohon panen yang baik pada musim semi.

Bangunan utama di kompleks tersebut adalah Aula Qinian atau Hall of Prayer for Good Harvests. Bangunan itu berbentuk lingkaran sebagai simbol langit, sementara halaman dan pagar luarnya berbentuk persegi yang melambangkan bumi. Seluruh strukturnya dibangun tanpa paku besi, melainkan menggunakan teknik sambungan kayu tradisional China. Susunan bangunan bertingkat tiga juga melambangkan hubungan antara langit, manusia, dan bumi.

Berdasarkan laporan media lokal, pengelola Kuil Langit telah mengumumkan penutupan sementara seluruh kawasan pada 13–14 Mei. Bahkan Aula Qinian sudah lebih dulu ditutup sejak 12 Mei.

Memang, sejumlah kepala negara mendapat perlakuan khusus dari Presiden China Xi Jinping.

Saat kunjungan terakhirnya pada 2017, Trump diajak Xi mengunjungi Forbidden City yang berada tepat di seberang Tiananmen Square. Perlakuan serupa juga diterima Presiden Prancis Emmanuel Macron yang memperoleh akses privat ke Forbidden City pada Desember 2025 dan ditemani Xi ke Chengdu. Sementara Raja Belanda Willem-Alexander beberapa kali mendapat pertemuan bernuansa personal bersama Xi dan Ibu Negara Peng Liyuan di Zhongnanhai, kediaman resmi Presiden China, dalam kunjungan pada 2015 dan 2018.



Isi pertemuan

Hingga sehari menjelang pertemuan, pemerintah China belum menjelaskan secara rinci agenda yang akan dibahas oleh Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Beijing.

"Selama kunjungan Presiden Trump ke Tiongkok, kedua kepala negara akan melakukan pertukaran pandangan mendalam tentang isu-isu utama yang menyangkut hubungan China-AS dan perdamaian serta pembangunan dunia," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Rabu (13/5).

Namun, Guo Jiakun tidak menjelaskan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan “isu-isu utama” tersebut.

Sebelum bertolak ke Beijing, Trump hanya menyebut penjualan senjata Amerika Serikat ke Taiwan serta nasib pengusaha media Hong Kong Jimmy Lai yang sedang dipenjara sebagai bagian dari agenda pembicaraan.



Trump juga dilaporkan membawa belasan CEO dan eksekutif perusahaan besar AS. Mereka antara lain Larry Fink, Stephen Schwarzman, Kelly Ortberg, Brian Sikes, Jane Fraser, dan Jim Anderson.

Turut bergabung pula Larry Culp, David Solomon, Jacob Thaysen, Michael Miebach, Dina Powell McCormick, serta Sanjay Mehrotra.

Kemudian Larry Culp (CEO GE Aerospace), David Solomon (CEO Goldman Sachs), Jacob Thaysen (CEO Illumina), Michael Miebach (CEO Mastercard), Dina Powell McCormick (Presiden dan Wakil Ketua Meta), Sanjay Mehrotra (CEO Micron),

Nama lainnya adalah Cristiano Amon, Elon Musk, Ryan McInerney, dan Jensen Huang yang disebut bergabung paling akhir ke pesawat Air Force One saat pengisian bahan bakar di Alaska.

Xinhua pada Rabu (13/5) pun menerbitkan satu tajuk rencana panjang yang berjudul "Hubungan China-AS tidak dapat kembali ke masa lalu, tapi dapat memiliki masa depan yang lebih baik".

Tulisan itu menyebut hubungan China-Amerika Serikat mengalami dua fase pasang surut dalam hampir satu dekade terakhir. Fase pertama adalah perang dagang terhadap China yang dilancarkan AS pada 2018, sedangkan fase kedua terkonsentrasi pada 2025.

"Hanya dalam beberapa bulan, hubungan China-AS mengalami proses dari suasana yang seperti badai akan datang hingga kembali cenderung stabil," demikian disebutkan dalam tulisan itu.

Saat ini, dialog China-Amerika Serikat disebut berlangsung dalam posisi yang lebih setara, dengan komunikasi yang lebih pragmatis dan landasan yang lebih jelas.

China juga menegaskan tidak menantang ataupun berupaya menggantikan Amerika Serikat, bahkan mengaku senang melihat AS tetap makmur dan berkembang. Namun Beijing kembali menekankan bahwa Taiwan merupakan isu inti paling penting dan sensitif dalam hubungan kedua negara.

Presiden China Xi Jinping pun berulang kali menyampaikan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Taiwan adalah bagian dari wilayah China. Beijing, menurut Xi, akan terus membela kedaulatan dan keutuhan wilayahnya serta tidak akan pernah membiarkan Taiwan memisahkan diri.

Karena itu, pertemuan di Beijing diharapkan mampu mendorong kedua negara memilih berjalan berdampingan. Langkah tersebut dinilai bukan hanya bermanfaat bagi China dan AS, tetapi juga bagi masa depan dunia.

Dunia memang menantikan pertemuan kedua pemimpin negara besar yang melakukan negosiasi resmi di "bangunan besar" dan tur privat ke "Kuil Langit"

Penantian itu mengingatkan pada sepenggal syair Kaisar Qianlong Emperor (1735–1796) saat mempersembahkan sesaji di Kuil Langit: (Yu qi huán x wàn fng tóng), yang secara bebas dapat dimaknai, “Saat panen melimpah datang, kebahagiaan menyebar ke seluruh penjuru negeri.”

Bila China dan Amerika Serikat sama-sama memperoleh hasil positif dari pertemuan itu, harapannya dampak baiknya juga dapat dirasakan negara-negara lain di dunia.



Bendera Brunei hanya dipasang di ruang pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan Pangeran Al-Muhtadee Billah. Sang pangeran tidak mendapat penyambutan kenegaraan karena bukan kepala negara.

Dari sisi pengamanan, jumlah kendaraan polisi yang biasa bersiaga di sekitar Great Hall of the People tampak ditambah. Sejumlah persimpangan juga ditutup bagi pejalan kaki, sementara pesepeda diwajibkan menunjukkan kartu identitas di beberapa titik pemeriksaan di sekitar Tiananmen Square dan Balai Besar Rakyat. Pemeriksaan seperti itu sebenarnya juga kerap dilakukan pada hari biasa, meski tanpa kunjungan kepala negara.

Kawasan tersebut memang selalu dijaga lebih ketat dibanding area lain di Beijing. Selain menjadi lokasi sidang tahunan parlemen China, konferensi partai, dan pertemuan kepala negara, tempat itu juga dianggap memiliki makna simbolis penting. Perdana Menteri pertama China, Zhou Enlai, pernah menyebut kawasan itu mewakili prinsip bahwa “rakyat adalah tuan negara”, sehingga kewibawaannya harus dijaga.


Selain ke Balai Besar Rakyat, Trump juga dijadwalkan mengunjungi Temple of Heaven atau Tintán (), kompleks yang dibangun pada 1420 pada masa Dinasti Ming. Tempat itu awalnya digunakan sebagai lokasi pemujaan kepada dewa langit pada musim dingin serta doa memohon panen yang baik pada musim semi.

Bangunan utama di kompleks tersebut adalah Aula Qinian atau Hall of Prayer for Good Harvests. Bangunan itu berbentuk lingkaran sebagai simbol langit, sementara halaman dan pagar luarnya berbentuk persegi yang melambangkan bumi. Seluruh strukturnya dibangun tanpa paku besi, melainkan menggunakan teknik sambungan kayu tradisional China. Susunan bangunan bertingkat tiga juga melambangkan hubungan antara langit, manusia, dan bumi.

Berdasarkan laporan media lokal, pengelola Kuil Langit telah mengumumkan penutupan sementara seluruh kawasan pada 13–14 Mei. Bahkan Aula Qinian sudah lebih dulu ditutup sejak 12 Mei.

Memang, sejumlah kepala negara mendapat perlakuan khusus dari Presiden China Xi Jinping.

Saat kunjungan terakhirnya pada 2017, Trump diajak Xi mengunjungi Forbidden City yang berada tepat di seberang Tiananmen Square. Perlakuan serupa juga diterima Presiden Prancis Emmanuel Macron yang memperoleh akses privat ke Forbidden City pada Desember 2025 dan ditemani Xi ke Chengdu. Sementara Raja Belanda Willem-Alexander beberapa kali mendapat pertemuan bernuansa personal bersama Xi dan Ibu Negara Peng Liyuan di Zhongnanhai, kediaman resmi Presiden China, dalam kunjungan pada 2015 dan 2018.



Isi pertemuan

Hingga sehari menjelang pertemuan, pemerintah China belum menjelaskan secara rinci agenda yang akan dibahas oleh Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Beijing.

"Selama kunjungan Presiden Trump ke Tiongkok, kedua kepala negara akan melakukan pertukaran pandangan mendalam tentang isu-isu utama yang menyangkut hubungan China-AS dan perdamaian serta pembangunan dunia," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Rabu (13/5).

Namun, Guo Jiakun tidak menjelaskan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan “isu-isu utama” tersebut.

Sebelum bertolak ke Beijing, Trump hanya menyebut penjualan senjata Amerika Serikat ke Taiwan serta nasib pengusaha media Hong Kong Jimmy Lai yang sedang dipenjara sebagai bagian dari agenda pembicaraan.



Trump juga dilaporkan membawa belasan CEO dan eksekutif perusahaan besar AS. Mereka antara lain Larry Fink, Stephen Schwarzman, Kelly Ortberg, Brian Sikes, Jane Fraser, dan Jim Anderson.

Turut bergabung pula Larry Culp, David Solomon, Jacob Thaysen, Michael Miebach, Dina Powell McCormick, serta Sanjay Mehrotra.

Kemudian Larry Culp (CEO GE Aerospace), David Solomon (CEO Goldman Sachs), Jacob Thaysen (CEO Illumina), Michael Miebach (CEO Mastercard), Dina Powell McCormick (Presiden dan Wakil Ketua Meta), Sanjay Mehrotra (CEO Micron),

Nama lainnya adalah Cristiano Amon, Elon Musk, Ryan McInerney, dan Jensen Huang yang disebut bergabung paling akhir ke pesawat Air Force One saat pengisian bahan bakar di Alaska.

Xinhua pada Rabu (13/5) pun menerbitkan satu tajuk rencana panjang yang berjudul "Hubungan China-AS tidak dapat kembali ke masa lalu, tapi dapat memiliki masa depan yang lebih baik".

Tulisan itu menyebut hubungan China-Amerika Serikat mengalami dua fase pasang surut dalam hampir satu dekade terakhir. Fase pertama adalah perang dagang terhadap China yang dilancarkan AS pada 2018, sedangkan fase kedua terkonsentrasi pada 2025.

"Hanya dalam beberapa bulan, hubungan China-AS mengalami proses dari suasana yang seperti badai akan datang hingga kembali cenderung stabil," demikian disebutkan dalam tulisan itu.

Saat ini, dialog China-Amerika Serikat disebut berlangsung dalam posisi yang lebih setara, dengan komunikasi yang lebih pragmatis dan landasan yang lebih jelas.

China juga menegaskan tidak menantang ataupun berupaya menggantikan Amerika Serikat, bahkan mengaku senang melihat AS tetap makmur dan berkembang. Namun Beijing kembali menekankan bahwa Taiwan merupakan isu inti paling penting dan sensitif dalam hubungan kedua negara.

Presiden China Xi Jinping pun berulang kali menyampaikan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Taiwan adalah bagian dari wilayah China. Beijing, menurut Xi, akan terus membela kedaulatan dan keutuhan wilayahnya serta tidak akan pernah membiarkan Taiwan memisahkan diri.

Karena itu, pertemuan di Beijing diharapkan mampu mendorong kedua negara memilih berjalan berdampingan. Langkah tersebut dinilai bukan hanya bermanfaat bagi China dan AS, tetapi juga bagi masa depan dunia.

Dunia memang menantikan pertemuan kedua pemimpin negara besar yang melakukan negosiasi resmi di "bangunan besar" dan tur privat ke "Kuil Langit"

Penantian itu mengingatkan pada sepenggal syair Kaisar Qianlong Emperor (1735–1796) saat mempersembahkan sesaji di Kuil Langit: (Yu qi huán x wàn fng tóng), yang secara bebas dapat dimaknai, “Saat panen melimpah datang, kebahagiaan menyebar ke seluruh penjuru negeri.”

Bila China dan Amerika Serikat sama-sama memperoleh hasil positif dari pertemuan itu, harapannya dampak baiknya juga dapat dirasakan negara-negara lain di dunia.



Bendera Brunei hanya dipasang di ruang pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan Pangeran Al-Muhtadee Billah. Sang pangeran tidak mendapat penyambutan kenegaraan karena bukan kepala negara.

Dari sisi pengamanan, jumlah kendaraan polisi yang biasa bersiaga di sekitar Great Hall of the People tampak ditambah. Sejumlah persimpangan juga ditutup bagi pejalan kaki, sementara pesepeda diwajibkan menunjukkan kartu identitas di beberapa titik pemeriksaan di sekitar Tiananmen Square dan Balai Besar Rakyat. Pemeriksaan seperti itu sebenarnya juga kerap dilakukan pada hari biasa, meski tanpa kunjungan kepala negara.

Kawasan tersebut memang selalu dijaga lebih ketat dibanding area lain di Beijing. Selain menjadi lokasi sidang tahunan parlemen China, konferensi partai, dan pertemuan kepala negara, tempat itu juga dianggap memiliki makna simbolis penting. Perdana Menteri pertama China, Zhou Enl



Pewarta :
Editor: Sutarmi
COPYRIGHT © ANTARA 2026