
Penjualan mobkas EV alami kenaikan

Jakarta (ANTARA) - Tren kendaraan listrik bekas mulai menunjukkan peningkatan minat di pasar otomotif domestik, sejumlah penjual mengungkapkan bahwa mobil listrik bekas kini semakin diminati konsumen, terutama di tengah kenaikan harga bahan bakar.
Penjual kendaraan bekas daring, Fariz Czaesariyan mengatakan, permintaan terhadap kendaraan elektrifikasi murni bekas mengalami peningkatan cukup agresif dalam beberapa waktu terakhir.
“Untuk sekarang jelas segmen EV bekas yang lagi digandrungi banyak calon pembeli. Karena harga BBM yang juga cenderung naik. Lalu tren EV bekas yang ‘terkenal’ nilai depresiasinya lumayan tinggi menjadi daya tarik lebih bagi para calon pembeli,” ujar Fariz kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, kendaraan listrik bekas di rentang harga Rp120 juta hingga Rp180 juta kini banyak diburu konsumen sebagai kendaraan kedua.
Hal tersebut didorong oleh pertimbangan efisiensi operasional di tengah penyesuaian harga BBM nonsubsidi, terutama pada jenis diesel.
Sementara itu, kendaraan berbahan bakar konvensional, khususnya diesel, justru mengalami perlambatan penjualan di pasar mobil bekas.
Fariz menuturkan, segmen mobil bekas bermesin pembakaran internal (ICE) di kisaran harga Rp200 juta hingga Rp300 juta saat ini cenderung sepi peminat.
“Untuk sekarang, di segmen mobil (ICE) bekas di rentang harga Rp200 juta sampai Rp300 jutaan sangat terasa sepi ya,” kata dia.
Keluhan serupa juga disampaikan Pemilik Khayangan Garage, Juan Darmawan. Ia mengaku penjualan mobil bekas di tempat usahanya mengalami penurunan hingga 40 persen dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
“Sebulan itu biasanya mobil bisa keluar sebanyak 5 sampai dengan 8 unit. Sekarang-sekarang ini, paling banyak 4 unit, itu juga udah susah banget,” ujar Juan.
Menurut dia, segmen kendaraan diesel menjadi yang paling terdampak,“Yang jelas mobkas diesel lagi jatuh penjualannya karena imbas BBM naik".
Meski demikian, Juan menilai kondisi tersebut masih merupakan bagian dari dinamika pasar yang sebelumnya juga pernah terjadi. Selain itu, masyarakat saat ini cenderung lebih memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan pokok.
Pewarta : Chairul Rohman
Editor:
Eka Arifa Rusqiyati
COPYRIGHT © ANTARA 2026
