Logo Header Antaranews Jogja

Barantin menyiagakan satgas 24 jam awasi ternak kurban

Kamis, 21 Mei 2026 11:59 WIB
Image Print
Petugas Badan Karantina Indonesia (Barantin) memeriksa 275 sapi asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berada di dalam kapal pengangkut ternak saat proses pemeriksaan karantina di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (21/5/2026). (ANTARA/Aria Ananda)

Jakarta (ANTARA) - Badan Karantina Indonesia (Barantin) membentuk satuan tugas khusus untuk mengawasi lalu lintas hewan ternak selama 24 jam setiap hari menjelang Idul Adha 2026.

Kepala Barantin Abdul Kadir Karding mengatakan satgas tersebut dibentuk di Unit Pelaksana Teknis (UPT) atau Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) yang menjadi jalur utama keluar-masuk hewan kurban.

“Saya pimpin rapat untuk memastikan pembentukan satgas di setiap UPT atau BKHIT yang selama ini menjadi alur keluar-masuk hewan kurban,” kata Karding di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis.

Menurut dia, satgas tersebut bertugas memastikan pemeriksaan hewan kurban berjalan sesuai prosedur, mulai dari daerah asal, selama perjalanan, hingga daerah tujuan.

Karding mengatakan Barantin menerapkan lima pilar strategi utama dalam mitigasi risiko, yakni analisis tren pergerakan ternak, evaluasi hambatan tahun sebelumnya, kesiapan sarana dan prasarana, penguatan regulasi, sinergi lintas sektor, serta aksi nyata pengawasan lalu lintas hewan.

Ia menyebut satgas juga melakukan patroli di jalur tidak resmi untuk mencegah pelanggaran lalu lintas ternak.

“Kalau ada temuan penyelundupan, pasti kita musnahkan dan tindak berdasarkan SOP karantina,” ujarnya.

Karding mengatakan pengawasan juga dilakukan di tempat penampungan sementara untuk memastikan status kesehatan hewan tetap terpantau sebelum dipotong atau didistribusikan lebih lanjut.

Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding meninjau kondisi sapi asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), saat inspeksi kedatangan hewan kurban di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (21/5/2026). (ANTARA/Aria Ananda)

Ia menyampaikan Barantin belum menemukan kasus penyelundupan maupun penyakit hewan menular seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Lumpy Skin Disease (LSD), maupun antraks pada lalu lintas ternak kurban tahun ini.

"Sampai hari ini sih enggak ada (temuan kasus). Laporan-laporan sebelumnya juga tidak ditemukan," ungkap dia.

Meski demikian, menurut dia, terdapat satu hingga dua ternak yang mengalami gangguan kesehatan ringan selama perjalanan dan langsung ditangani serta diisolasi oleh dokter hewan pendamping.

Selain itu, Karding menegaskan bahwa pihaknya menyiapkan tindakan karantina tegas apabila ditemukan pelanggaran dokumen maupun indikasi klinis penyakit pada ternak.

Ia menegaskan pengawasan dilakukan untuk mencegah kemunculan penyakit hewan menular di tengah masyarakat.

“Kita tidak ingin ada kejadian-kejadian yang nanti tiba-tiba di tengah masyarakat ada isu, ada fakta, ada penyakit melalui sapi atau melalui kambing,” tegas Karding.

Berdasarkan data sistem informasi Best Trust Barantin, lalu lintas sapi pada Januari-April 2026 mencapai 198.925 ekor atau meningkat 70 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, lalu lintas kambing dan domba tercatat mencapai 103.216 ekor atau meningkat 77 persen dibandingkan tahun lalu.



Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026