
Kepala BRIN tegaskan kebijaksanaan peneliti tak tergantikan oleh AI

Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menegaskan kekuatan hati dan kebijaksanaan seorang peneliti tidak akan pernah bisa digantikan oleh teknologi kecerdasan buatan (AI) secanggih apapun.
Dalam kegiatan pengukuhan profesor riset di Jakarta, Kamis, Kepala BRIN mengingatkan agar pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak lantas memicu masalah baru berupa dehumanisasi di berbagai sektor kehidupan.
"Di kala sekarang AI sudah menjadi dominan, di kala sekarang ini AI itu menjadi sesuatu yang keniscayaan, maka AI sudah bisa menggantikan banyak hal, dalam hal yang berkaitan dengan soal kemampuan teknis kita berpikir, kemampuan teknis kita meriset dan sebagainya. Tapi kekuatan wisdom, itulah kekuatan hati. Soal hati ini tidak bisa digantikan oleh AI," kata Arif Satria.
Ia menyebut ara peneliti senior dan profesor riset yang telah mencapai titik pemahaman utuh antara nilai, hati, nalar, dan logika tersebut, diharapkan mampu menjadi teladan (role model) yang inspiratif bagi para peneliti muda di Tanah Air.
Baca juga: Wamenkomdigi tekankan tata kelola AI berbasis etika untuk regulasi
"Apa artinya ilmu hanya untuk ilmu? Apa artinya riset hanya untuk riset? Tentu, kita dilahirkan di muka bumi ini adalah dalam rangka untuk mempercepat proses perubahan ke arah yang lebih baik," ujar Arif Satria.
"Mandat kita sebagai manusia karena kita yang hadir di muka bumi untuk membawa perubahan, untuk membawa kemajuan. Kita dibekali oleh Tuhan berupa otak, berupa akal, dan berupa hati. Jadi, dalam diri manusia itu nurani, itulah yang juga harus terus dibangkitkan ya, untuk mengimbangi kekuatan akal kita, kekuatan nalar kita, kekuatan otak kita," lanjut Arif.
Kepala BRIN juga menyoroti fenomena di bidang ilmu sosial, dimana realitas kekayaan bangsa Indonesia selama ini justru lebih banyak dipotret dan diteliti oleh pihak asing menggunakan kacamata serta teori mereka sendiri.
Baca juga: Aplikasi Simetris berbasis AI diuji coba, siap beri solusi cegah kssus keracunan MBG di Yogyakarta
Arif menantang para ilmuwan sosial dalam negeri untuk lebih proaktif dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi dalam mengangkat kekayaan keragaman sosial menggunakan cara pandang lokal.
Menurut dia, dengan terus memperkuat rasa percaya diri dan mempertahankan semangat sebagai seorang pembelajar, bangsa Indonesia mampu mematahkan dominasi Barat dan bertransformasi menjadi produsen ilmu pengetahuan yang disegani di tingkat global.
"Nah, itulah yang menurut saya yang diperlukan hari ini adalah bagaimana kita terus confidence. Confidence dengan cara pandang kita, dengan kekayaan kita, kekayaan nilai budaya kita, dan kekayaan realitas yang ada di Indonesia. Dan itu adalah bisa menjadi sebuah model bagi kita untuk memperkaya hasrat ilmu pengetahuan global," tutur Kepala BRIN Arif Satria.
Baca juga: Kepala BRIN tegaskan kebijaksanaan peneliti tak tergantikan oleh AI
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kepala BRIN: Kekuatan kebijaksanaan peneliti tak tergantikan oleh AI
Pewarta : Sean Filo Muhamad
Editor:
Wening Caya Ing Tyas
COPYRIGHT © ANTARA 2026
