Logo Header Antaranews Jogja

PT TWC melatih seribu siswa SMA wujudkan masyarakat tangguh bencana

Sabtu, 23 Mei 2026 15:53 WIB
Image Print
Direktur Operasi IDM Indung Purwita Jati di sela kegiatan kegiatan penguatan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang diselenggarakan Kemenko PMK di SMAN 1 Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (22/6/2026). ANTARA/HO-PT TWC

Yogyakarta (ANTARA) - PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (TWC) atau InJourney Destination Management (IDM) menyelenggarakan pelatihan tanggap bencana kepada 1.000 siswa SMA di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk mewujudkan masyarakat tangguh bencana.

"Sasaran pelatihan merupakan siswa dari sekolah di Kabupaten Sleman, Bantul, Gunungkidul, dan Kota Yogyakarta, terutama yang berada di kawasan rawan bencana," kata Direktur Operasi IDM Indung Purwita Jati di sela kegiatan Apel Kesiapsiagaan dan Gelar Peralatan yang diselenggarakan Kemenko PMK di Lapangan Garuda Candi Prambanan, Sleman, Sabtu.

Menurut dia, program bertajuk InJourney Community Care yang telah berjalan dari Januari hingga Mei 2026 ini menghadirkan serangkaian materi intensif yang mencakup spektrum mitigasi yang meliputi pemahaman risiko mengenai potensi bencana gempa bumi, teknik penyelamatan, evakuasi hingga simulasi penanganan darurat.

"Keterlibatan perusahaan dalam peringatan ini merupakan bagian dari komitmen untuk menghadirkan destinasi yang tidak hanya berorientasi pada pariwisata, tetapi juga memiliki nilai edukasi, keberlanjutan, dan ketangguhan masyarakat," katanya.

Menurut dia, kawasan destinasi wisata memiliki peran strategis sebagai ruang edukasi publik, termasuk dalam membangun kesadaran mitigasi bencana.

"Melalui kolaborasi bersama Kemenko PMK dan berbagai pihak, kami ingin mendorong lahirnya masyarakat yang semakin tangguh, khususnya generasi muda, agar memiliki pemahaman yang baik mengenai kesiapsiagaan dan mampu menjadi bagian dari upaya pengurangan risiko bencana di lingkungan sekitarnya," katanya.

IDM berkolaborasi dengan Kemenko PMK menyelenggarakan Peringatan 20 Tahun Gempa Yogyakarta di Lapangan Garuda, kompleks Candi Prambanan.

Peringatan ini diharapkan bisa menjadi momentum reflektif sekaligus penguatan kesiapsiagaan masyarakat terhadap risiko bencana.

Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK Lilik Kurniawan mengatakan peringatan dua dekade gempa Yogyakarta menjadi pengingat penting akan besarnya risiko bencana yang dihadapi kawasan Yogyakarta dan berbagai wilayah di Indonesia.

"Selain menjadi ruang refleksi atas peristiwa gempa tahun 2006 yang meninggalkan dampak besar bagi masyarakat, momentum ini juga diarahkan sebagai sarana edukasi publik untuk membangun memori kolektif dan memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana di masa mendatang," katanya.

Kegiatan ini menghadirkan pendekatan kolaboratif pentahelix yang melibatkan berbagai pihak, antara lain pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, dan masyarakat secara langsung.

Rangkaian kegiatan dalam peringatan ini meliputi Kunjungan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), Pasar Penyintas, Apel Kesiapsiagaan, Gelar Peralatan Penanggulangan Bencana, hingga Diskusi Panel yang menghadirkan berbagai pemangku kepentingan terkait kebencanaan.

Berbagai agenda tersebut dirancang untuk memperkuat literasi kebencanaan masyarakat sekaligus memperlihatkan kapasitas dan kesiapan peralatan penanggulangan bencana yang dimiliki lintas instansi.

Selain itu, Pasar Penyintas juga menjadi ruang promosi bagi produk-produk UMKM penyintas gempa Yogyakarta 2006 sebagai bagian dari upaya pemulihan dan penguatan ekonomi masyarakat pascabencana.

"Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat koordinasi lintas sektor, meningkatkan kesiapan sumber daya dan peralatan penanggulangan bencana, serta mendorong masyarakat agar tidak hanya menjadi pihak terdampak, tetapi juga menjadi subjek yang proaktif dan tangguh dalam meminimalisir risiko bencana," kata Lilik.

Ia mengatakan, peringatan 20 tahun gempa Yogyakarta bukan sekadar mengenang peristiwa masa lalu, melainkan momentum untuk memperkuat ketangguhan bangsa dalam menghadapi ancaman bencana yang dapat terjadi kapan saja.

"Kita ingin membangun budaya kesiapsiagaan yang hidup di tengah masyarakat. Pengurangan risiko bencana tidak dapat dilakukan sendiri oleh pemerintah, tetapi membutuhkan kolaborasi semua pihak," katanya.

Lilik mengatakan, momentum ini menjadi ruang bersama untuk memperkuat koordinasi, meningkatkan kapasitas masyarakat, serta memastikan bahwa setiap individu memiliki pengetahuan dan kesiapan dalam menghadapi situasi darurat.

Penyelenggaraan Peringatan 20 Tahun Gempa Yogyakarta diharapkan dapat terbangun rekomendasi kebijakan pengurangan risiko bencana yang lebih komprehensif, meningkatnya koordinasi dan komitmen lintas sektor dalam kesiapsiagaan bencana, meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap risiko dan langkah mitigasi bencana, serta semakin luasnya sosialisasi kapasitas dan kesiapan peralatan penanggulangan bencana.

"Momentum ini sekaligus menjadi pengingat bahwa semangat gotong royong dan kolaborasi merupakan fondasi utama dalam membangun Indonesia yang lebih tangguh menghadapi bencana," katanya.

Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK Lilik Kurniawan saat meninjau kesiapan peralatan Basarna pada kegiatan apel Kesiapsiagaan dan Gelar Peralatan di Lapangan Garuda Candi Prambanan, Sleman, DIY, Sabtu (23/5/2026). ANTARA/Victorianus Sat Pranyoto



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: PT TWC latih 1.000 siswa SMA wujudkan masyarakat tangguh bencana



Pewarta :
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026