
Bakat saja tak cukup

Jakarta (ANTARA) - Indonesia sejak lama dikenal tidak pernah benar-benar kekurangan talenta olahraga. Dari sekolah, klub, kejuaraan daerah hingga sentra pembinaan, selalu ada nama baru yang muncul membawa harapan.
Namun perjalanan dari seorang anak berbakat menjadi atlet kelas dunia jauh lebih panjang daripada sekadar menemukan potensi.
Di antara keduanya ada pembinaan, kompetisi, pelatih, fasilitas, data, sport science, pendanaan, hingga keputusan mengenai ke mana seorang atlet harus diarahkan. Satu mata rantai terputus, satu talenta bisa berhenti sebelum mencapai puncak.
Itulah persoalan yang kini coba dibenahi pemerintah melalui Manajemen Talenta Nasional (MTN).
Kantor Staf Presiden (KSP) bahkan mengingatkan semua pihak agar tidak terlalu nyaman dengan sebutan bahwa Indonesia sebagai "gudang talenta".
"Bakat saja tidak cukup. Tantangan terbesar kita bukan pada absennya potensi, melainkan pada trajectory-nya," kata Tenaga Ahli Utama KSP Lindsey Afsari Puteri dalam Road to Talent Fest 2026 Bidang Olahraga di Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Jakarta, Kamis (13/8).
Trajectory yang dimaksud adalah perjalanan seorang atlet sejak ditemukan, dibina, berkembang, hingga akhirnya mampu menghasilkan prestasi secara konsisten.
Persoalannya, perjalanan itu tidak selalu mulus.
KSP memetakan data olahraga yang masih terfragmentasi, pembinaan yang kurang sinkron antarlembaga, akses kompetisi yang belum merata di daerah, penerapan sport science yang belum optimal, hingga ketidakpastian mengenai karier atlet setelah masa kompetisi sebagai sejumlah pekerjaan rumah.
"Rantai pembinaan ini tidak boleh putus di tengah jalan," ujar Lindsey.
Mencari sejak bawah
Pembenahan itu tidak mungkin dimulai ketika atlet sudah berada di pelatnas.
Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora Surono mengatakan fondasi prestasi harus dibangun sejak anak mengenal gerak dasar.
Berlari, melompat, melempar, menendang, berenang, hingga kemampuan gerak lainnya menjadi dasar sebelum seorang anak diarahkan menuju cabang olahraga yang sesuai dengan potensinya.
Pada usia berikutnya, proses mulai bergeser menuju pemanduan bakat.
Dari sana tersedia jalur berupa kelas olahraga, Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP), Sekolah Khusus Olahragawan (SKO), hingga sentra pembinaan di tingkat daerah sebelum talenta terbaik masuk ke jenjang nasional.
Kompetisi menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
Festival olahraga bisa menjadi pintu awal bagi anak usia sekolah sebelum meningkat menuju kejuaraan antardaerah, kejuaraan nasional, hingga kompetisi internasional sesuai tahapan perkembangan atlet.
Namun proses menemukan atlet dengan kapasitas menuju level dunia ternyata tidak sederhana.
Surono mengungkapkan Kemenpora pernah melakukan tes terhadap sekitar 2.500 calon atlet untuk masuk pembinaan di Cibubur pada kelompok usia muda.
Hanya sekitar 50 yang akhirnya terpilih. Bahkan menurut dia, sebagian masih belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan antropometri dari cabang olahraga yang dituju.
Angka itu menunjukkan bahwa populasi besar dan banyaknya anak yang berolahraga tidak otomatis menghasilkan atlet elite.
Bakat harus ditemukan dengan tepat.
Setiap cabang mempunyai karakter berbeda. Ada yang membutuhkan tinggi badan tertentu, kecepatan, kekuatan, power, koordinasi, hingga karakteristik fisik yang sangat spesifik.
Karena itu, pembinaan prestasi mulai diarahkan makin presisi.
Bukan lagi sekadar menentukan cabang olahraga unggulan, tetapi juga membaca nomor dan kelas pertandingan mana yang paling mungkin menghasilkan prestasi.
Surono mencontohkan bagaimana pemetaan pada angkat besi dapat dilakukan hingga kelas berat, sedangkan atletik dan renang dianalisis sampai nomor yang mempunyai peluang lebih besar untuk bersaing di level Asia maupun dunia.
Dengan pendekatan itu, pertanyaan pembinaan berubah.
Bukan hanya siapa atlet terbaik yang dimiliki Indonesia, tetapi di nomor mana kemampuan terbaik atlet tersebut dapat menghasilkan medali.
Indonesia sebenarnya memiliki contoh bagaimana proses panjang pembinaan bisa berujung pada prestasi tertinggi.
Surono menyebut Rizki Juniansyah sebagai salah satu gambaran perjalanan tersebut.
Rizki telah masuk pembinaan sejak usia sekolah, berkembang melalui PPLP Banten, menembus level junior dunia, kemudian masuk pelatnas sebelum akhirnya mencapai puncak dengan medali emas Olimpiade Paris 2024.
Bagi Kemenpora, perjalanan itu dapat menjadi salah satu rujukan untuk mencari karakter calon lifter berikutnya, mulai dari antropometri, kekuatan, kecepatan, power, hingga kemampuan teknis.
Panjat tebing memberikan gambaran lain.
Cabang tersebut berkembang dari keberhasilan Asian Games 2018 menuju pembinaan dan kompetisi internasional yang makin intensif hingga Veddriq Leonardo meraih emas Olimpiade Paris 2024.
Dua contoh tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan tidak muncul pada hari pertandingan. Ada proses bertahun-tahun di belakangnya.
Karena itu, pemerintah mulai melihat pembinaan olahraga dalam horizon yang jauh lebih panjang. Atlet usia muda yang disiapkan hari ini bukan semata untuk kejuaraan tahun depan, tetapi bisa diarahkan menuju Olimpiade satu atau bahkan dua dekade berikutnya.
Pewarta : Muhammad Ramdan
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026
