Logo Header Antaranews Jogja

Era digital, Wartawan dituntut inovatif dan berintegritas

Rabu, 9 September 2026 21:41 WIB
Image Print
Kepala Perwakilan BI NTB Hario Kartiko Pamungkas pada acara Capacity Building bagi wartawan media DIY yang diselenggarakan di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Rabu (9/9). ANTARA/Nur Istibsaroh

Mataram (ANTARA) - Wartawan dituntut untuk terus melahirkan karya jurnalistik yang inovatif, interaktif, dan adaptif di tengah pesatnya transformasi digital serta derasnya arus informasi tanpa sedikit pun mengabaikan fondasi utama integritas jurnalisme.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY Sri Darmadi Sudibyo dalam sambutannya secara daring pada kegiatan Capacity Building bagi wartawan media DIY yang diselenggarakan di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Sudibyo menjelaskan pesatnya perkembangan teknologi serta banjirnya informasi di era digital harus dimanfaatkan sebagai peluang untuk memperkuat kapasitas teknis wartawan agar mampu melahirkan produk berita yang lebih presisi, relevan, dan memiliki daya saing tinggi.

Ia menegaskan bahwa kecanggihan teknologi maupun tuntutan kecepatan tidak boleh membuat media mengabaikan prinsip-prinsip dasar jurnalisme, seperti integritas, akurasi, serta keberimbangan berita dalam menyampaikan fakta kepada publik.

"Di tengah arus perubahan ini, tentu hal yang perlu terus kita kedepankan adalah terkait dengan fondasi utama jurnalisme kita, ini menyangkut masalah integritas dan akurasi," ujar Sudibyo.

Ia berharap pelatihan ini dapat memperkokoh semangat para jurnalis dalam menyajikan karya berkualitas yang tidak hanya adaptif terhadap perkembangan teknologi, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Sejalan dengan hal tersebut, wartawan Tempo Stefanus Pramono yang memaparkan materinya secara daring menekankan pekerja media saat ini harus lebih berorientasi pada kebutuhan audiens serta mampu mengemas fakta secara menarik di tengah ketatnya persaingan dengan konten digital berdurasi pendek.

Ia menyoroti maraknya penyebaran informasi yang belum terverifikasi di media sosial, pergeseran minat pembaca, hingga tekanan praktik self-censorship sebagai tantangan besar yang harus dijawab oleh media profesional guna merawat kepercayaan publik.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BI NTB Hario Kartiko Pamungkas yang hadir langsung dalam acara tersebut menyampaikan peran media yang profesional dan berintegritas sangat krusial dalam membantu menyebarluaskan serta menerjemahkan berbagai kebijakan ekonomi bank sentral agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat luas.

"BI membutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk media, agar ketika ada kebijakan yang dikeluarkan atau diubah, masyarakat memperoleh informasi yang benar sehingga kebijakan dapat dipahami dan dilaksanakan dengan baik," tegas Hario.

Hario menambahkan selain memperkuat sinergi komunikasi kebijakan, media juga memegang peran strategis dalam mengawal potensi perekonomian daerah, seperti sektor pertanian, pertambangan, hingga pengembangan pariwisata regional NTB.

Sektor pariwisata, lanjut Haryo, menjadi kekuatan lain yang terus dikembangkan di NTB, karena memiliki sejumlah destinasi wisata yang menjadi daya tarik wisatawan, termasuk kawasan Mandalika yang berada di Kabupaten Lombok Tengah.

Hario menilai pengembangan pariwisata tidak dapat dilakukan secara terpisah antarwilayah dan diperlukan kerja sama regional antara Bali, NTB, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) agar potensi ekonomi masing-masing daerah dapat saling melengkapi.

“Antara Bali, NTB, dan NTT perlu terus memperkuat hubungan. Bukan hanya dari sisi pariwisata, tetapi juga perdagangan, konektivitas, dan inklusi,” katanya.



Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026