Gedung SD berusia 84 tahun masih digunakan
Jumat, 11 November 2011 0:22 WIB
Ilustrasi Gedung Sekolah dengan kondisi memprihatinkan (FOTO ANTARA/M.Ali Khumaini)
Kulon Progo (ANTARA News) - Gedung Sekolah Dasar Bopkri Palihan di Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang dibangun pada 1927, sampai sekarang masih digunakan, padahal kondisi sebagian bangunannya rusak parah.
"Empat ruangan kelas sudah retak dindingnya, dan atap rusak parah," kata Kepala Sekolah SD Bopkri Palihan Sumiyati, di Temon, Kulon Progo, Kamis.
Menurut dia, kondisi atap di tiga ruang kelas dan satu ruang guru sudah sangat mengkhawatirkan. Sebagian kayu sudah terlihat rapuh, dan ada genteng yang sudah bocor, yaitu di ruang kelas 4.
Ia mengatakan secara fisik bangunan ruang kelas 4, 5 dan 6 di sekolahnya bisa dikatakan rusak berat. Kerusakan paling parah terlihat dari kondisi kayu penyangga genteng, dan sebagian dinding retak.
"Bangunan itu sudah berusia tua. Pada 20 tahun lalu sebelum saya masuk ke sini, pernah diperbaiki, tetapi hanya atapnya," katanya.
Menurut dia, pihak yayasan tidak bisa berbuat apa-apa, karena tidak memiliki dana. Begitu pula dengan Dinas Pendidikan Kulon Progo.
"Pernah sekolah ini disurvei oleh Dinas Pendidikan sekitar tiga tahun lalu, tetapi sampai sekarang belum ada kejelasan. Kami tidak tahu harus berbuat apa lagi," katanya.
Ia meminta Dinas Pendidikan Kulon Progo memberikan solusi atau bantuan terkait rusaknya gedung SD Bopkri Palihan. "Itu harapan kami kalau bisa. Kami hanya ingin siswa dan guru tenang saat belajar. Tidak takut atap atau dinding roboh," katanya.
Sementara itu, salah seorang guru SD Bopkri Palihan Yohanes mengatakan dirinya khawatir dengan kondisi bangunan di ruang kelas 4, 5 dan 6. Sebab, atap ruangan tersebut mulai lapuk, sehingga membahayakan keselamatan para siswa.
"Kalau runtuh saat kegiatan belajar dilakukan, lalu siapa yang akan disalahkan," katanya. (ANT-159/M008)
"Empat ruangan kelas sudah retak dindingnya, dan atap rusak parah," kata Kepala Sekolah SD Bopkri Palihan Sumiyati, di Temon, Kulon Progo, Kamis.
Menurut dia, kondisi atap di tiga ruang kelas dan satu ruang guru sudah sangat mengkhawatirkan. Sebagian kayu sudah terlihat rapuh, dan ada genteng yang sudah bocor, yaitu di ruang kelas 4.
Ia mengatakan secara fisik bangunan ruang kelas 4, 5 dan 6 di sekolahnya bisa dikatakan rusak berat. Kerusakan paling parah terlihat dari kondisi kayu penyangga genteng, dan sebagian dinding retak.
"Bangunan itu sudah berusia tua. Pada 20 tahun lalu sebelum saya masuk ke sini, pernah diperbaiki, tetapi hanya atapnya," katanya.
Menurut dia, pihak yayasan tidak bisa berbuat apa-apa, karena tidak memiliki dana. Begitu pula dengan Dinas Pendidikan Kulon Progo.
"Pernah sekolah ini disurvei oleh Dinas Pendidikan sekitar tiga tahun lalu, tetapi sampai sekarang belum ada kejelasan. Kami tidak tahu harus berbuat apa lagi," katanya.
Ia meminta Dinas Pendidikan Kulon Progo memberikan solusi atau bantuan terkait rusaknya gedung SD Bopkri Palihan. "Itu harapan kami kalau bisa. Kami hanya ingin siswa dan guru tenang saat belajar. Tidak takut atap atau dinding roboh," katanya.
Sementara itu, salah seorang guru SD Bopkri Palihan Yohanes mengatakan dirinya khawatir dengan kondisi bangunan di ruang kelas 4, 5 dan 6. Sebab, atap ruangan tersebut mulai lapuk, sehingga membahayakan keselamatan para siswa.
"Kalau runtuh saat kegiatan belajar dilakukan, lalu siapa yang akan disalahkan," katanya. (ANT-159/M008)
Pewarta :
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kementerian ATR/BPNbahas dasar penyusunan Anggaran 2027, fokuskan efisiensi dan kualitas layanan
07 April 2026 20:47 WIB
PMI mengirim kapal berisi alat berat dan kebutuhan dasar ke wilayah terdampak bencana Aceh - Sumut
28 December 2025 19:50 WIB