Kerusakan di Komodo semakin hebat
Kamis, 2 Agustus 2012 14:36 WIB
Taman Nasional Komodo di NTT ( antaranews.com))
Jakarta (ANTARA Jogja) - Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) menyatakan sangat khawatir mengingat tingkat kerusakan di Komodo, Nusa Tenggara Timur, belakangan ini semakin hebat.
"Pengrusakan di Komodo semakin hebat, kita harus mulai melakukan sesuatu," kata Ketua Umum GIPI, Didien Junaedy, di Jakarta, Kamis.
Pihaknya mengaku mendapatkan laporan dan teguran baik melalui surat elektronik maupun secara langsung dari banyak aktivitas lingkungan dan lembaga swadaya masyarakat dari dalam dan luar negeri.
Ia menambahkan, pantauan langsung di lapangan juga memprihatinkan di mana di area larangan atau "no take zone" yang seharusnya menjadi area konservasi justru menjadi tempat penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak dan jaring yang merusak.
"Kerusakan terutama di daerah no take zone, sekarang banyak orang mencari dengan dinamit. Sekarang orang berani termasuk umum untuk menangkap ikan menggunakan net atau juga potas yang merusak," katanya.
Pihaknya sedang membahas persoalan itu dengan melakukan pertemuan bersama pemangku kepentingan terkait agar dapat menemukan solusi terbaik.
"Kami sedang 'meeting' salah satunya berupaya untuk menyumbangkan jagawana-jagawana baru untuk meningkatkan pengawasan di daerah itu," katanya.
Ia juga meminta semua pihak untuk turut serta peduli pada keberlanjutan ekosistem di wilayah itu mengingat mass tourism juga berdampak pada tingkat kerusakan yang lebih tinggi.
Di Komodo kita juga harus mempertimbangkan caring capacity," katanya.
Menanggapi hal itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), mengakui, ada masalah kerusakan di Komodo yang harus segera diatasi.
"Kita lihat kerusakan terumbu karang bukan hanya karena bom atau dinamit tetapi juga karena ada satwa seperti star fish yang memangsa koral. Tapi kami juga paham ada masalah," katanya.
Menurut dia, solusi untuk persoalan itu harus komprehensif dengan meningkatkan pengawasan yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan terkait sekaligus meningkatkan pengawasan yang telah dilakukan.
Selain itu, ia menekankan perlunya edukasi bagi masyarakat setempat agar bisa mengubah perilaku dalam hal menangkap ikan supaya tidak menggunakan peralatan yang merusak.
"Kita harus berikan edukasi untuk mengubah perilaku mereka dan juga harus mencari alternatif income bagi mereka," katanya.
H016
"Pengrusakan di Komodo semakin hebat, kita harus mulai melakukan sesuatu," kata Ketua Umum GIPI, Didien Junaedy, di Jakarta, Kamis.
Pihaknya mengaku mendapatkan laporan dan teguran baik melalui surat elektronik maupun secara langsung dari banyak aktivitas lingkungan dan lembaga swadaya masyarakat dari dalam dan luar negeri.
Ia menambahkan, pantauan langsung di lapangan juga memprihatinkan di mana di area larangan atau "no take zone" yang seharusnya menjadi area konservasi justru menjadi tempat penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak dan jaring yang merusak.
"Kerusakan terutama di daerah no take zone, sekarang banyak orang mencari dengan dinamit. Sekarang orang berani termasuk umum untuk menangkap ikan menggunakan net atau juga potas yang merusak," katanya.
Pihaknya sedang membahas persoalan itu dengan melakukan pertemuan bersama pemangku kepentingan terkait agar dapat menemukan solusi terbaik.
"Kami sedang 'meeting' salah satunya berupaya untuk menyumbangkan jagawana-jagawana baru untuk meningkatkan pengawasan di daerah itu," katanya.
Ia juga meminta semua pihak untuk turut serta peduli pada keberlanjutan ekosistem di wilayah itu mengingat mass tourism juga berdampak pada tingkat kerusakan yang lebih tinggi.
Di Komodo kita juga harus mempertimbangkan caring capacity," katanya.
Menanggapi hal itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), mengakui, ada masalah kerusakan di Komodo yang harus segera diatasi.
"Kita lihat kerusakan terumbu karang bukan hanya karena bom atau dinamit tetapi juga karena ada satwa seperti star fish yang memangsa koral. Tapi kami juga paham ada masalah," katanya.
Menurut dia, solusi untuk persoalan itu harus komprehensif dengan meningkatkan pengawasan yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan terkait sekaligus meningkatkan pengawasan yang telah dilakukan.
Selain itu, ia menekankan perlunya edukasi bagi masyarakat setempat agar bisa mengubah perilaku dalam hal menangkap ikan supaya tidak menggunakan peralatan yang merusak.
"Kita harus berikan edukasi untuk mengubah perilaku mereka dan juga harus mencari alternatif income bagi mereka," katanya.
H016
Pewarta :
Editor : Heru Jarot Cahyono
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Indonesia menyampaikan belasungkawa atas kecelakaan kapal WN Spanyol di NTT
02 January 2026 19:15 WIB
Satu maskapai dilaporkan siap buka rute penerbangan internasional ke Bandara Komodo
15 September 2025 7:40 WIB
Awas, BMKG prakirakan gelombang tinggi di perairan Manggarai Barat
08 September 2024 20:17 WIB, 2024
Pelaku pariwisata dukung pembangunan Taman Nasional Komodo, NTT, dongkrak pariwisata
20 August 2024 13:29 WIB, 2024
PIS membantu sistem irigasi tenaga surya di Cagar Biosfer Komodo. NTT
17 August 2024 14:18 WIB, 2024
Menparekraf: Ekosistem wisata bahari Taman Nasional Komodo, NTT, agar dijaga
16 August 2024 9:38 WIB, 2024