Penandaan siklus Merapi bantu tingkatkan kesiagaan
Jumat, 14 Juni 2013 19:57 WIB
Gunung Merapi (Foto Istimewa) (dok istimewa)
Jogja (Antara Jogja) - Penandaan siklus empat tahunan erupsi Gunung Merapi bermanfaat untuk membantu meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi kemungkinan bencana,kata Kepala Pusat Studi Bencana Alam Universitas Gadjah Mada Djati Mardiatno.
"Dengan kita mengetahui peluang terjadinya erupsi Merapi, maka manajemen kesiapsiagaan dapat serentak ditingkatkan. Meskipun memang tidak perlu dihadapi dengan kepanikan,"kata Djati di Yogyakarta, Jumat.
Menurut Djati informasi bagi masyarakat terkait aktivitas Gunung Merapi harus dikomunikasikan dengan bahasa yang mudah difahami masyarakat.Sehingga dapat langsung direspon dengan tindakan.
"Asumsi atau data yang ilmiah terkait kegunung apian harus dapat dikomunikasikan dengan bahasa yang sederhana agar bisa dipahami,"katanya.
Ia mengatakan siklus empat tahunan erupsi merapi tidak dapat diterjemhkan secara pasti. Sebab fenomena alam akan selalu berubah-ubah.
"Penggunaan penandaan empat tahunan tidak dapat disalahkan. Karena justru ketika mendekati siklus tersebut masyarakat dapat bersiap siaga. Selanjutnya apabila benar-benar terjadi letusan maka masyarakat tidak panik karena sudah siap,"katanya.
Sebelumnya Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Ma`arif mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Merapi untuk mewaspadai siklus letusan gunung ini yang diperkirakan empat tahun sekali.
Berkaitan dengan siklus tersebut, Syamsul juga meminta masyarakat yang masih bertahan tinggal di sekitar Gunung Merapi bersedia direlokasi di hunian tetap (huntap) yang disediakan pemerintah.
"Walaupun kita tidak bisa memastikan skala letusannya tapi sesuai siklus yang terjadi empat tahun sekali, harus diwaspadai oleh masyarakat setempat,"kata Syamsul.
Sesuai data terakhir BNPB jumlah rumah tangga yang belum bersedia direlokasi di wilayah Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta berjumlah 650 kepala keluarga (KK).
(KR-LQH)
"Dengan kita mengetahui peluang terjadinya erupsi Merapi, maka manajemen kesiapsiagaan dapat serentak ditingkatkan. Meskipun memang tidak perlu dihadapi dengan kepanikan,"kata Djati di Yogyakarta, Jumat.
Menurut Djati informasi bagi masyarakat terkait aktivitas Gunung Merapi harus dikomunikasikan dengan bahasa yang mudah difahami masyarakat.Sehingga dapat langsung direspon dengan tindakan.
"Asumsi atau data yang ilmiah terkait kegunung apian harus dapat dikomunikasikan dengan bahasa yang sederhana agar bisa dipahami,"katanya.
Ia mengatakan siklus empat tahunan erupsi merapi tidak dapat diterjemhkan secara pasti. Sebab fenomena alam akan selalu berubah-ubah.
"Penggunaan penandaan empat tahunan tidak dapat disalahkan. Karena justru ketika mendekati siklus tersebut masyarakat dapat bersiap siaga. Selanjutnya apabila benar-benar terjadi letusan maka masyarakat tidak panik karena sudah siap,"katanya.
Sebelumnya Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Ma`arif mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Merapi untuk mewaspadai siklus letusan gunung ini yang diperkirakan empat tahun sekali.
Berkaitan dengan siklus tersebut, Syamsul juga meminta masyarakat yang masih bertahan tinggal di sekitar Gunung Merapi bersedia direlokasi di hunian tetap (huntap) yang disediakan pemerintah.
"Walaupun kita tidak bisa memastikan skala letusannya tapi sesuai siklus yang terjadi empat tahun sekali, harus diwaspadai oleh masyarakat setempat,"kata Syamsul.
Sesuai data terakhir BNPB jumlah rumah tangga yang belum bersedia direlokasi di wilayah Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta berjumlah 650 kepala keluarga (KK).
(KR-LQH)
Pewarta : Oleh Luqman Hakim
Editor : Hery Sidik
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Bupati Sleman terima "ubarampe" upacara adat Labuhan Merapi dari Keraton Yogyakarta
19 January 2026 17:41 WIB
SMA Global Darussalam Academy Yogyakarta siap cetak generasi unggul berkarakter dan keislaman
19 December 2025 21:31 WIB
BNNK Sleman tes urine operator jip Lava Tour Merapi jelang Natal-Tahun Baru
18 December 2025 19:03 WIB