Jogja (Antara Jogja) - Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah di Daerah Istimewa Yogyakarta mengeluhkan mahalnya harga bahan baku setelah rata-rata mengalami kenaikan akibat masih lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
"Semua mengaku kerepotan, karena bahan baku mahal sebab kebanyakan masih menggunakan bahan baku impor," kata Ketua Komunitas Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Prasetyo Atmosutidjo di Yogyakarta, Selasa.
Menurut dia, hampir 50 persen UMKM di DIY masih bergantung pada bahan baku impor. Misalnya, ia menyebutkan, perajin batik, pengusaha pakaian, tahu-tempe serta pengusaha kecil menengah lainnya.
"Perajin pakaian sebagian besar membutuhkan kain `cotton` sementara perajin batik juga masih membutuhkan pewarna tekstil yang seluruhnya impor, bahkan perajin tahu-tempe pun pakai kedelai impor," katanya.
Dengan fenomena tersebut, menurut dia, tidak ada pilihan lain bagi UMKM di DIY selain menaikkan harga jual produksi.
"Saat ini dampaknya masih belum menyatu, nanti kalau penurunan ini terus terjadi tentu akan semakin dirasakan gejolaknya," katanya.
Sementara itu, ia mengakui bahwa terdapat beberapa pengusaha UMKM yang telah melakukan ekspor sehingga memiliki kemungkinan diuntungkan. Namun, lanjut dia, sebagian besar bahan baku mereka tetap impor.
"Memang bagi yang ekspor diuntungkan, tapi sebagian besar bahan baku mereka tetap impor sehingga keuntungan tidak terlalu besar," katanya.
Menurut dia, menyikapinya tentu diperlukan strategi untuk mengurangi ketergantungan bahan baku impor dengan dukungan pemerintah sebab Indonesia memiliki bahan baku lokal yang memadai.
"Kami berharap pemerintah dapat mendukung kalangan perajin untuk mencarikan alternatif bahan baku lokal," katanya.
(KR-LQH)
UMKM DIY keluhkan mahalnya harga bahan baku
Selasa, 3 September 2013 20:21 WIB
Ilustrasi kayu sebagai bahan baku kerajinan (Foto Antara/Noveradika)
Pewarta : Oleh Luqman Hakim
Editor : Hery Sidik
Copyright © ANTARA 2026