Logo Header Antaranews Jogja

Permintaan dolar AS yang tinggi tekan rupiah hingga Rp17.700

Selasa, 19 Mei 2026 22:21 WIB
Image Print
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat ditemui di kantornya di Jakarta, Selasa (19/5/2026). (ANTARA/Bayu Saputra)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut tingginya permintaan dolar Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu faktor utama yang menekan nilai tukar rupiah hingga menembus level Rp17.700 per dolar AS.

“Faktor global juga sangat mempengaruhi dan seperti yang saya sampaikan selama bulan ibadah haji ini kan demand terhadap dolar juga tinggi,” kata Airlangga di kantornya, Jakarta, Selasa.

Menurut dia, kebutuhan dolar AS meningkat pada periode saat ini seiring aktivitas pembayaran dividen perusahaan setelah musim laporan keuangan tahunan. Hal itu diperparah dengan kenaikan harga minyak global imbas dari konflik AS dan Iran yang tak kunjung mereda.

Maka dari itu, ia memandang kombinasi tingginya permintaan dolar AS dan kenaikan harga minyak dunia menjadi tekanan eksternal yang kuat terhadap pergerakan rupiah.

“Sesudah laporan keuangan, pembayaran dividen itu kebanyakan juga di bulan-bulan ini. Jadi memang demand-nya sedang tinggi. Plus harga minyak masih naik,” jelasnya.

Menko berharap nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bisa kembali menguat di semester II.

“Mudah-mudahan semester II bisa lebih baik lagi,” tambahnya.

Adapun nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan Selasa melemah 38 poin atau 0,22 persen menjadi Rp17.706 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.668 per dolar AS.

Sementara itu, analis Bank Woori Saudara Rully Nova menilai pelemahan rupiah turut dipengaruhi tren kenaikan harga minyak dunia yang masih berada di atas 100 dolar AS per barel.

“Rupiah pada perdagangan hari ini melemah dipengaruhi faktor domestik menanti hasil RDG BI (Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia) yang diumumkan besok dan ruang fiskal yang masih terbatas akibat subsidi membengkak seiring tren kenaikan harga minyak dunia masih di atas 100 dolar,” ujar Rully.



Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026