Usaha penggilingan gabah Bantul kehabisan stok
Rabu, 25 Februari 2015 9:04 WIB
Penggilingan padi keliling (Foto antaranews.com)
Bantul (Antara Jogja) - Usaha penggilingan gabah di Pedukuhan Sudimoro, Desa Timbulharjo, Kabupaten Bantul, Daereah Istimewa Yogyakarta, kehabisan stok gabah sejak beberapa pekan ini karena kesulitan mendapat bahan baku pangan tersebut dari petani.
"Stok gabah sudah habis sejak Januari lalu, mungkin karena petani banyak yang gagal panen akibat cuaca buruk, jadi gabahnya `gabug` (kosong)" kata pemilik usaha penggilingan gabah di Sudimoro Bantul, Zubaedi, Rabu.
Pihaknya tidak menyangka sulit mendapatkan gabah dari petani, karena meskipun memperoleh gabah dari petani lokal kualitasnya tidak baik yakni kosong atau gabug, dirinya juga enggan mengambil gabah dari petani luar daerah.
"Saat ini kan harga beras naik, kalau dipaksa mengambil dari luar, khawatir harga beras turun secara tiba-tiba, padahal biasanya pada Januari harga beras sudah turun," katanya.
Untuk meminimalisir risiko, pihaknya kemudian hanya menerima gilingan gabah sesuai pesanan tanpa mau menyetok barang, kemudian sesekali membeli beras yang masih kotor untuk kembali digiling agar lebih bersih.
Ia mengaku, karena kesulitan mendapatkan gabah untuk digiling, terpaksa harus berhenti beroperasi sejak beberapa pekan ini, dan menunggu stok tersedia dan harga beras mengalami penurunan.
Sementara itu, tingginya harga beras juga dikeluhkan salah satu warga Tamanan Banguntapan, Ani. Ibu rumah tangga ini mengaku menghabiskan sekitar 15 kilogram beras setiap bulan untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga.
"Terakhir beli masih sekitar Rp9.000 per kilogram, tiba-tiba sekarang beli dengan harga Rp10.500 per kilogram, bisa dibayangkan tambahan pengeluaran saya karena kenaikan harga beras ini," katanya.
Oleh sebab itu, ibu dua anak ini mengharapkan pemerintah turun tangan untuk mengendalikan harga beras di pasaran termasuk harga kebutuhan pokok strategis lainnya, sehingga harganya terjangkau.
KR-HRI
"Stok gabah sudah habis sejak Januari lalu, mungkin karena petani banyak yang gagal panen akibat cuaca buruk, jadi gabahnya `gabug` (kosong)" kata pemilik usaha penggilingan gabah di Sudimoro Bantul, Zubaedi, Rabu.
Pihaknya tidak menyangka sulit mendapatkan gabah dari petani, karena meskipun memperoleh gabah dari petani lokal kualitasnya tidak baik yakni kosong atau gabug, dirinya juga enggan mengambil gabah dari petani luar daerah.
"Saat ini kan harga beras naik, kalau dipaksa mengambil dari luar, khawatir harga beras turun secara tiba-tiba, padahal biasanya pada Januari harga beras sudah turun," katanya.
Untuk meminimalisir risiko, pihaknya kemudian hanya menerima gilingan gabah sesuai pesanan tanpa mau menyetok barang, kemudian sesekali membeli beras yang masih kotor untuk kembali digiling agar lebih bersih.
Ia mengaku, karena kesulitan mendapatkan gabah untuk digiling, terpaksa harus berhenti beroperasi sejak beberapa pekan ini, dan menunggu stok tersedia dan harga beras mengalami penurunan.
Sementara itu, tingginya harga beras juga dikeluhkan salah satu warga Tamanan Banguntapan, Ani. Ibu rumah tangga ini mengaku menghabiskan sekitar 15 kilogram beras setiap bulan untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga.
"Terakhir beli masih sekitar Rp9.000 per kilogram, tiba-tiba sekarang beli dengan harga Rp10.500 per kilogram, bisa dibayangkan tambahan pengeluaran saya karena kenaikan harga beras ini," katanya.
Oleh sebab itu, ibu dua anak ini mengharapkan pemerintah turun tangan untuk mengendalikan harga beras di pasaran termasuk harga kebutuhan pokok strategis lainnya, sehingga harganya terjangkau.
KR-HRI
Pewarta : Oleh Heri Sidik
Editor : Nusarina Yuliastuti
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Harga gabah Rp6.500/kg wajib dipatuhi, Presiden tekankan kesejahteraan petani
04 February 2025 7:05 WIB, 2025
Dinas Pertanian dan Pangan: Stok gabah di penggilingan Kulon Progo aman
21 September 2023 17:57 WIB, 2023