Kulon Progo diingatkan waspadai lonjakan harga beras

id Penggilingan padi

Menjemur gabah Seorang petani sedang menjemur gabah di halaman rumahnya di Dusun Sogam, Kecamatan Wates, Kulon Progo, sabtu (4/4). Musim panen yang melimpah saat ini dengan cuaca yang sering hujan pada tengah hari membuat petani waspada jika sewaktu-waktu hujan turun.(Foto Antara/Mamiek/ags/15)

Kulon Progo (Antaranews Jogja) - Persatuan Penggilingan Padi Indonesia Cabang Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengingatkan Dinas Pertanian dan Pangan setempat mewaspadai lonjakan harga beras dari November hingga Februari 2019.
     
"Berhubung masa paceklik, stok padi di tingkat petani menipis, dinas terkait harus mewaspasai lonjakan harga beras," kata anggota Persatuan Penggilingan Padi Indonesia (Perpadi) Kulon Progo Yuliyantoro di Kulon Progo, Senin.
     
Selain itu, menurut Yuliyanto, perlu adanya koordinasi yang intensif antardinas dengan Bulog mengantisipasi ketersediaan pangan dan harga beras di pasar-pasar rakyat di wilayah itu. Walau pun harga beras dan ketersediaan di pasar terjadi persaingan sempurna dan dikendalikan oleh Bulog.
     
"Perlu adanya komunikasi dengan Bulog secara intensif. Kemudian pemetaan daerah rawan pangan, setelah itu bila dibutuhkan segera dilakukan operasi pasar sesuai potensi kerawanan pangan," katanya.
     
Ia mengatakan kemarau tahun ini sangat panjang. Di Kulon Progo musim tanam mundur karena saluran irigasi di Talang Bowong bermasalah, sehingga air tidak dapat mengalir maksimal. Akibatnya, masa panen yang dijadwalkan pada akhir Desember hingga awal Januari juga dipastikan mundur. Hal ini, akan memperparah stok pangan di tingkat petani.
     
"Tapi kita tetap tenang stok yang dimiliki pemerintah pusat melimpah. Walau harus dengan cara yang tidak kita inginkan, yaitu impor beras. Selain itu, saya kira tidak mengkhawatirkan masalah harga karena ada operasi pasar," katanya.
     
Yuliantoro juga mengingatkan rasa beras premium impor dibandingkan beras lokal, sangat jauh. Beras lokal sangat enak. "Harga sama-sama Rp10 ribu per kg, tapi rasanya beras lokal jauh lebih enak," katanya.
     
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo Bambang Tri Budi mengatakan produksi beras tahun ini di Kulon Progo anjlok. Namun, dia enggan menyebutkan berapa penurunannya. Turunnya produksi beras disebabkan oleh beberapa faktor, mulai dari kerusakan jaringan irigasi Kalibawang hingga tananam padi terendam air yang menyebabkan produktivitas turun dan puso.
       
"Kami masih melakukan penghitungan penurunan produksi beras tahun ini," kilahya.
     
Ia juga mengakui dampak kerusakan jaringan irigasi Kalibawang menyebabkan ribuan hektare sawah mundur tanam, seperti di Nanggulan, Kalibawang dan Sentolo.
     
"Kerusakan irigasi Kalibawang, khususnya Talang Bowong mengakibatkan musim tanam mundur," katanya.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar