Sleman (Antara Jogja) - Taman Nasional Gunung Merapi berharap agar kamera trap yang dipasang beberapa waktu lalu membuahkan hasil merekam jejak satwa langka seperti macam tutul di kawasan hutan lereng Gunung Merapi.

"Selama ini belum cukup bukti terdeteksi adanya kehidupan macan di kawasan Gunung Merapi, sehingga diharapkan bisa terjawab dari kamera trap yang dipasang belum lama ini," kata Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) Dhany Suryawan, Selasa.

Menurut dia, selama ini sudah ada jejak yang ditinggalkan macan tutul, seperti cakaran, maupun kotoran dari hewan tersebut.

"Dari bukti jejak itu kami belum bisa sepenuhnya meyakini keberadaan macan tutul," katanya.

Ia mengatakan, secara indikasi memang masih ada kehidupan macan di hutan TNGM.

"Secara indikasinya memang ada, hanya belum cukup, karena belum ada bukti foto," katanya.

Dhany mengatakan, dengan tambahan kamera trap, yang saat ini sudah ada enam unit tersebut diharap nantinya bisa merekam. Setidaknya dalam jangka waktu satu bulan kedepan sejak pemasangan alat tersebut.

"Sebab pengamatan macan seperti ini, akan banyak berhasilnya jika waktunya lebih lama. Satu bulan lagi baru akan kami lihat. Itu baru minimal. Lebih baik lagi jika lebih lama. Semakin lama akan semakin tinggi potensi berhasilnya," katanya.

Ia mengatakan, tidak hanya keberadaan macan saja, tetapi, hewan-hewan langka lainnya juga diharap bisa terekam. Seperti yang telah berhasil di dua kamera sebelumnya, yang dipasang pada akhir 2014.

"Kamera yang sebelumnya, berhasil mengidentifikasi tambahan jenis burung yang hidup di hutan," katanya.

Apalagi akibat terjadinya erupsi pada akhir 2010, kata dia, jenis burung yang hidup di hutan Merapi menurun drastis. Sebelum peristiwa bencana itu, terdeteksi lebih dari 150 jenis burung yang hidup.

"Pada 2011 setelah bencana, berkurang menjadi 96 jenis saja. Terakhir pada 2013 saat pendataan, sudah menginjak angka 145 jenis. Ada tambahan jenis burung lagi kemarin yang terekam," katanya.***4***Budi Suyanto

(V001)


Pewarta : Oleh Victorianus Sat Pranyoto
Editor : Victorianus Sat Pranyoto
Copyright © ANTARA 2024