Sleman, (Antara Jogja) - Koalisi partai pengusung calon Bupati Sleman nomor urut 1 Yuni Satia Rahayu-Danang Wicaksana yakni PDI Perjuangan, Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahteramengambil kebijakan tidak memusatkan kampanye terbuka di Lapangan Denggung, pada Minggu, 29 November 2015.

"Kami mengambil kebijakan untuk tidak melakukan kampanye terbuka rapat umum dengan mengundang massa pendukung," kata Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kabupaten Sleman Supriyoko, Rabu.

Menurut dia, koalisi partai pengusung Yuni Satia Rahayu-Danang Wicaksana Sulistya memilih kampanye simpatik dengan menggelar pertunjukan budaya di 17 titik kecamatan.

"Pilihan gelar budaya dilakukan setelah mengkaji pola pengerahan massa bisa memancing aksi kekerasan," katanya.

Ia mengatakan, pihaknya sudah membicarakan bersama dengan koalisi partai pengusung pasangan Yuni-Danang atas pilihan model kampanye simpatik untuk mengajak warga Sleman memanfaatkan hak politiknya dalam pilkada serentak, 9 Desember 2015.

"Pilihan dibuat bukan karena takut tapi lebih karena adanya masukan, imbauan, saran dari kelompok masyarakat untuk menjaga situasi bisa lebih kondusif hingga hari H pemungutan suara," katanya.

Supriyoko mengatakan, lewat gelar budaya secara terbuka ke kecamatan akan lebih membawa kesemarakan, kampanye budaya penting untuk merajut budaya nasional yang khas di masing-masing wilayah.

Sedangkan Sukaptono dari Partai Gerindra mengatakan, adanya peristiwa kekerasan pada 22 November 2015 mengakibatkan adanya korban dari masyarakat.

"Kami sepakat untuk ditiadakan model kampanye dengan konvoi kendaraan bermotor karena tak lagi disukai rakyat," katanya.

Menurut dia, kampanye berbudaya yang dialihkan di tingkat kecamatan bisa membuat masyarakat dan pemilih pemula tahu budaya dan sosialisasi pilkada bisa diketahui lebih banyak warga.

"Kami ingin masyarakat lebih tergerak ke TPS dan memberikan hak suaranya," katanya.

Sementara Hasto yang mewakili Partai Keadilan Sejahtera Sleman menambahkan pihaknya menyesalkan adanya kejadian kekerasan yang seharusnya tidak lagi terjadi. Polisi dan aparat penegak hukum diminta untuk bekerja, siapa yang menzalimi warga masyarakat harus diproses hukum.

"Sudah waktunya demokrasi disterilkan dari anarkisme, kami dukung proses demokrasi yang baik, cara memilih yang baik untuk mendapatkan pemimpin yang baik," katanya.

Ia mengatakan, proses kampanye yang diambil untuk mendapatkan pemimpin Sleman tak hanya dalam jargon saja, tapi terwujud dalam tindakan politik yang mengedepankan penghormatan hak warga.

Yuni Satia Rahayu, calon bupati Sleman menegaskan pilihan kampanye berbudaya menjadi sikap politiknya.

"Kami memahami jika ada kekecewaan dari simpatisan maupun laskar di bawah yang sudah ingin meramaikan kampanye terbuka dengan swadaya. Saya banyak dapat pesan melalui media sosial agar bisa memilih cara berkampanye yang lebih simpatik, tidak dengan pengerahan massa, " kata Yuni.

Ia meyakini pilihan berkampanye yang berbudaya akan membawa ketenangan bagi warga Sleman dalam menentukan pilihan pada 9 Desember 2015.

"Ini juga sejalan dengan pesan korban kekerasan, yang berharap tidak ada lagi peristiwa serupa. Kepada anak-anak muda, saya ajak jangan kecewa karena tak bisa berkonvoi. Saatnya juga dorong perilaku berpolitik yang mau mendengarkan dan menerima partisipasi banyak pihak," katanya.***2***

(V001)


Pewarta : Victorianus Sat Pranyoto
Editor : Victorianus Sat Pranyoto
Copyright © ANTARA 2024