Gunung Merapi mengalami empat gempa guguran
Selasa, 1 Oktober 2019 13:31 WIB
Awan panas guguran Gunung Merapi. (FOTO ANTARA)
Yogyakarta (ANTARA) - Gunung Merapi mengalami empat kali gempa guguran selama periode pengamatan pada Senin (30/9) mulai pukul 00:00-24:00 WIB, demikian pernyataan pejabat pada Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).
Kepala BPPTKG Hanik Humaida melalui keterangan resminya di Yogyakarta, Selasa menyebutkan, selain gempa guguran, pada periode pengamatan itu juga tercatat empat kali gempa hybrid atau fase banyak, satu kali gempa tektonik, dua kali gempa vulkanik dangkal, dan satu kali gempa vulkanik dalam.
Gunung Merapi, berdasarkan pengamatan visual pada periode itu, tampak mengeluarkan asap solfatara berwarna putih berintensitas tebal dengan ketinggian 50 meter di atas puncak.
Pada periode pengamatan sejak Senin (30/9) pukul 00:00 WIB hingga Selasa (1/10) pukul 06:00 WIB, BPPTKG tidak mencatat adanya guguran lava yang keluar dari Gunung Merapi.
Hingga saat ini BPPTKG mempertahankan status Gunung Merapi pada Level II atau Waspada dan untuk sementara tidak merekomendasikan kegiatan pendakian kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian yang berkaitan dengan mitigasi bencana.
BPPTKG mengimbau warga tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi.
Sehubungan semakin jauhnya jarak luncur awan panas guguran Merapi, BPPTKG mengimbau warga yang tinggal di kawasan alur Kali Gendol meningkatkan kewaspadaan.
Masyarakat juga diminta tidak terpancing isu-isu mengenai meletusnya Gunung Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan Gunung Merapi atau kantor BPPTKG, atau melalui media sosial BPPTKG.
Kepala BPPTKG Hanik Humaida melalui keterangan resminya di Yogyakarta, Selasa menyebutkan, selain gempa guguran, pada periode pengamatan itu juga tercatat empat kali gempa hybrid atau fase banyak, satu kali gempa tektonik, dua kali gempa vulkanik dangkal, dan satu kali gempa vulkanik dalam.
Gunung Merapi, berdasarkan pengamatan visual pada periode itu, tampak mengeluarkan asap solfatara berwarna putih berintensitas tebal dengan ketinggian 50 meter di atas puncak.
Pada periode pengamatan sejak Senin (30/9) pukul 00:00 WIB hingga Selasa (1/10) pukul 06:00 WIB, BPPTKG tidak mencatat adanya guguran lava yang keluar dari Gunung Merapi.
Hingga saat ini BPPTKG mempertahankan status Gunung Merapi pada Level II atau Waspada dan untuk sementara tidak merekomendasikan kegiatan pendakian kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian yang berkaitan dengan mitigasi bencana.
BPPTKG mengimbau warga tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi.
Sehubungan semakin jauhnya jarak luncur awan panas guguran Merapi, BPPTKG mengimbau warga yang tinggal di kawasan alur Kali Gendol meningkatkan kewaspadaan.
Masyarakat juga diminta tidak terpancing isu-isu mengenai meletusnya Gunung Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan Gunung Merapi atau kantor BPPTKG, atau melalui media sosial BPPTKG.
Pewarta : Luqman Hakim
Editor : Herry Soebanto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
DPR: Penindakan aktivitas ilegal di TNGM harus disertai solusi ekonomi masyarakat
10 July 2026 20:30 WIB
BNPB selesaikan perbaikan jaringan air bersih penyintas erupsi Merapi di Magelang
03 July 2026 19:42 WIB
Terpopuler - Jogja Terkini
Lihat Juga
Daop 6 Yogyakarta perkuat kesiapsiagaan petugas pengamanan perkeretaapian
30 September 2026 16:56 WIB
Pemkab Sleman-Klaten sepakati pembagian pajak PBJT kawasan Candi Prambanan
28 September 2026 16:50 WIB
Pemda DIY peringati 14 tahun UUK untuk kenalkan keistimewaan ke anak muda
12 September 2026 18:45 WIB