Bantul (ANTARA) - Wakil Bupati Bantul Aris Suharyanta mengatakan tradisi Pisungsung Jaladri, upacara adat merti dusun oleh masyarakat Dusun Mancingan, Kelurahan Parangtritis, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi bagian dari kekayaan budaya Yogyakarta.
"Tradisi Pisungsung Jaladri adalah bagian dari kekayaan budaya Yogyakarta yang sangat berharga. Ini bukan hanya sekadar upacara adat, tetapi juga memiliki makna yang mendalam," kata dia saat menghadiri tradisi Pisungsung Jaladri di Joglo Parangtritis di Bantul, Selasa.
Pisungsung Jaladri yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda ini, merupakan tradisi tahunan yang dilaksanakan sejak 1989, sebagai wujud syukur masyarakat pesisir pantai kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahan rezeki berupa hasil bumi dan hasil laut.
"Sebagai masyarakat Bantul, kita patut berbangga karena memiliki tradisi luhur yang diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang kita. Pisungsung Jaladri juga menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan dan keharmonisan antara manusia dan alam," katanya.
Ia juga menilai tradisi ini menjadi penegasan bahwa masyarakat Bantul religius dengan menyandarkan segala sesuatu kepada Tuhan Yang Maha Esa.
"Upacara adat ini dapat terus hidup dan berkembang karena adanya kesadaran dan tanggung jawab dari masyarakat untuk menjaga warisan budaya ini," katanya.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Kalurahan, Kependudukan, dan Pencatatan Sipil DIY Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Yudanegara mengatakan tradisi ini menjadi bagian dari roh keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
"Inilah tugas kita, menjaga harmoni antara manusia, alam, dan juga sang pencipta. Budaya yang tidak hanya dijaga dan dilestarikan tapi juga menghidupi dan memberi arah. Mari terus kita rawat tradisi ini," katanya.
Upacara adat Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri tersebut diikuti ratusan masyarakat yang berpakaian adat jawa. Mereka berkumpul di Joglo Pariwisata Pantai Parangtritis, Kabupaten Bantul untuk kemudian mengarak beragam ubo rampe atau sesaji menuju Cepuri Parangkusumo.
Di Cepuri Parangkusumo, ubo rampe yang dikirab itu kemudian didoakan abdi dalem dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Upacara adat tersebut diakhiri dengan melarung atau melabuh sesaji di Pantai Parangkusumo Bantul.