Yogyakarta (ANTARA) - Taman Budaya Yogyakarta (TBY) menggelar Parade Teater melalui Yogyakarta Urban Teater Festival (YUTFest) 2026 bertajuk "Pembacaan Atas Kota" pada 6–8 Mei 2026, yang menjadi bagian dari penguatan fungsi TBY sebagai ruang kreatif sekaligus wadah pengembangan ekosistem seni pertunjukan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

"Yogyakarta Urban Teater Festival digambarkan bukan lantas dari kata urban secara harafiah maupun terminologinya. Namun, urban dalam hal ini sebagai prespektif melihat Yogyakarta pada kontekstual hari ini melalui teater," kata Kepala TBY Purwiati di Yogyakarta, Selasa.

Ia mengatakan, teater dan Yogyakarta adalah irisan yang memuai melaju bersama dalam lintasan zaman dari era lampau ke masa kini. Yogyakarta tidak lepas dari perjalanan historis perkembangan teater.

"Pada satu sisi, urban dipandang pada pengertian kehidupan perkotaan, sisi lain pada substansinya kota turut melahirkan dan menumbuhkan interaksi sosial dibaliknya," katanya.

Teater sebagai panggung atau peristiwa kota menjadi medan perundingan isu-isu sosial baik yang dibawa oleh kota, sudah ada sejak lama di kota maupun dibalik laju pertumbuhan kota. Yang patut ditengarai dan orang sering lupa yaitu ketika masih terjadinya interkoneksi antara urban dan rural.

"Urban tidak melulu persoalan proses menuju kemapanan namun sub dibaliknya yang berimbas menyertainya, baik tentang ekonomi, politik maupun budaya lokal," ujarnya.

Yogyakarta dalam prespektif budaya, kata dia, ada makna lain sebagai pusat keragaman, tapi ada pula ketegangan sosial dibalik itu semua. Kota Yogyakarta bukan sekedar situs-situs ingatan saja namun kota yang dimaknai secara dinamis sekaligus kacau secara produktif.

"Maka urban selebihnya sebagai metode atau cara membaca zaman oleh kelompok-kelompok teater dalam upayanya membaca geliat dan kelindan kota hari ini. Bisa jadi urban adalah cara membaca kota dengan gaya maupun ekspresi berteater," ucapnya.

Menurut dia, wajar saja jika teater di Yogyakarta menjadi bagian dari lingkungan yang bertumbuh bersama dengan pesatnya pembangunan kota, dan tidak sekadar seni pertunjukan bagian dari "lingkungan yang bertumbuh", tetapi juga menjadi instrumen yang membantu mengoordinasikan, menegosiasikan, dan mengeksplorasi ikatan sosial masyarakat yang tinggal di lingkungan mereka.

Jika teater menjadi ruang yang juga menumbuhkan gagasan, kritik, dan tawaran artistik, maka teater bisa didudukkan sebagai arena produktif. Proses negosiasi nilai yang ada di dalamnya menjadi sangat kondusif jika teater diberikan juga arena pertarungan nilai.

"Hanya yang dibutuhkan adalah bagaimana menjadikan teater sebagai ruang pembacaan atas pertumbuhan kota saat ini. Selamat membaca kota para kelompok teater Yogyakarta," tuturnya.

Kurator YUTFest 2026 Koes Yuliadi mengemukakan YUTFest mulai berproses pada bulan Januari 2026 dengan langkah awalan yaitu para narasumber bersama TBY mencari Formula kebaruan format Pentas Teater di TBY.

Setelah itu membuka proposal bagi kelompok teater yang ada di Yogyakarta. Proses panjang yang dimulai pada bulan Februari mengajak kelompok teater di Yogyakarta untuk mengirimkan konsep pertunjukan mereka hingga terkumpul 20 proposal pelamar yang ingin mengikuti kegiatan YUTFest.

"Tim kemudian menyeleksi menjadi 10 nominasi kelompok. Para nominasi ini diundang kembali untuk menjabarkan secara detail mulai dari bentuk garapan, setting, hingga tim keproduksian. Dari presentasi tersebut kami mendapatkan 6 kelompok yang akan pentas di YUTFest," katanya.

Keenam kelompok tersebut adalah Teater Seriboe Djendela dan Sanggar Ori Gunung Kidul pentas pada 6 Mei, Emprit Sett Panggung dan Serbet Budaya tampil pada 7 Mei, serta Mendak Creative dan Hurung Nemu pentas pada 8 Mei.