Badung, Bali (ANTARA) - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyampaikan sektor fesyen dan kriya memiliki peran strategis dalam memperkuat pemerataan ekonomi nasional melalui pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) yang berdaya saing.

‎"Industri fesyen dan kriya memiliki peran penting dalam upaya mendukung perekonomian nasional. Pada triwulan I tahun 2026, PDB industri fesyen dan kriya tercatat sebesar Rp120,13 triliun, meningkat 7,89 persen dibandingkan triwulan I tahun 2025 yang sebesar Rp111,34 triliun,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita di Badung, Bali, Jumat.

‎Ia juga menyampaikan, pertumbuhan industri fesyen dan kriya pada tahun 2025 mencapai 4,93 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tahun 2024 yang sebesar 2,43 persen.

Menperin menambahkan, sektor fesyen dan kriya juga mengalami peningkatan investasi yang signifikan. Pada triwulan I tahun 2026, investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di sektor tersebut mencapai Rp4,83 triliun, sedangkan Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp9,38 triliun, sehingga total investasi menembus Rp14,21 triliun.

‎Kinerja positif tersebut turut tercermin dari capaian ekspor industri fesyen dan kriya nasional pada awal tahun 2026. Pada periode Januari-Februari 2026, nilai ekspor industri fesyen pakaian jadi tercatat mencapai 1,44 miliar dolar AS, industri tekstil sebesar 0,52 miliar dolar AS, dan industri kriya mencapai 2,43 miliar dolar AS.

‎Lebih lanjut, selain industri besar, IKM fesyen dan kriya juga memiliki kontribusi strategis terhadap pemerataan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja nasional.

‎Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2024, jumlah unit usaha industri fesyen dan kriya pada skala IKM mencapai 1,75 juta unit usaha dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 3,69 juta orang.

‎“Jumlah tersebut menjadi bagian penting dalam penguatan industri fesyen dan kriya nasional,” katanya.

Salah satu upaya untuk memperkuat pemerataan ekonomi melalui sektor ini diwujudkan Kemenperin melalui Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) sebagai pusat pengembangan pelaku IKM kreatif di Indonesia.

‎Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita menjelaskan, gedung BPIFK yang diresmikan hari ini memiliki fungsi strategis sebagai creative hub yang berperan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia melalui penguatan soft skill dan hard skill.

Kemenperin menilai, penguatan sektor fesyen dan kriya melalui BPIFK menjadi langkah penting dalam menciptakan pemerataan ekonomi berbasis industri kreatif di berbagai daerah.

Selain mendorong peningkatan kualitas produk lokal, pengembangan IKM fesyen dan kriya juga diharapkan mampu membuka lapangan kerja baru serta memperkuat daya saing industri nasional di pasar domestik maupun global.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kemenperin tekankan fesyen-kriya industri strategis perkuat pemerataan