
Mentrans sebut ukuran sukses transmigrasi kini kesejahteraan

Jakarta (ANTARA) - Menteri Transmigrasi (Mentrans) M Iftitah Sulaiman Suryanagara menyebutkan ukuran keberhasilan program transmigrasi saat ini bukan lagi jumlah penduduk yang dipindahkan, melainkan jumlah masyarakat yang dapat disejahterakan.
"Ukuran kesuksesan transmigrasi itu bukan berapa banyak yang bisa dipindahkan, tidak. Ukuran kesuksesannya adalah berapa banyak yang bisa disejahterakan," kata Iftitah di Kantor Kementerian Transmigrasi, Jakarta, Kamis.
Ia mengatakan paradigma pembangunan kawasan transmigrasi kini diarahkan untuk menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat.
Menurut dia, pendekatan transmigrasi yang hanya berfokus pada pemindahan penduduk tidak cukup efektif, apabila tidak dibarengi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.
"Kalau mereka pindah hanya sekadar pindah diberi rumah, tapi tidak tahu mau ngapain, itu pasti mereka tidak betah dan kembali lagi, sehingga tidak tercapai (target kesejahteraan)," ujarnya.
Karena itu, Kementerian Transmigrasi saat ini menitikberatkan pengembangan kawasan berbasis potensi ekonomi lokal di masing-masing daerah.
Ia menjelaskan desain pembangunan setiap kawasan transmigrasi dapat berbeda sesuai karakter dan potensi wilayah masing-masing.
Iftitah memberikan contoh Kementerian Transmigrasi menjajaki kerja sama dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja masyarakat lokal di kawasan sekitar proyek minyak dan gas di Kalimantan Timur.
Selain itu, kementerian juga memetakan pengembangan ekonomi kreatif dan pasar digital di sejumlah kawasan transmigrasi bersama Kementerian Ekonomi Kreatif.
"Konteksnya bagaimana menyediakan lapangan kerja," ucap Iftitah.
Ia juga mencontohkan peningkatan pendapatan petani durian di kawasan Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, setelah terbukanya akses ekspor ke China.
"Setelah kita buka keran ekspor ke China itu tingkat pendapatannya naik lima sampai enam kali lipat," ungkapnya.
Menurut dia, pendekatan pengembangan kawasan transmigrasi saat ini dilakukan secara bottom-up berdasarkan usulan dan kesiapan pemerintah daerah.
Ia mengatakan pemerintah akan memprioritaskan daerah-daerah yang memiliki komitmen kuat dalam pengentasan kemiskinan dan pengembangan ekonomi masyarakat.
"Transmigrasi hari ini tidak bisa top-down, tapi bottom-up. Jadi, harus ada usulan dari pemerintah daerah untuk daerahnya dikembangkan ekonominya," tuturnya.
Sebelumnya, Kementerian Transmigrasi menyebut sebanyak 1.394 kepala keluarga mengikuti program transmigrasi sepanjang 2025 yang terdiri atas program transmigrasi lokal dan Transmigrasi Karya Nusantara.
Pemerintah juga menjadikan pengentasan kemiskinan ekstrem sebagai salah satu prioritas nasional.
Berdasarkan data pemerintah, angka kemiskinan ekstrem turun dari 1,26 persen pada Maret 2024 menjadi 0,78 persen pada September 2025.
Dalam kesempatan yang sama, Kementerian Transmigrasi memberangkatkan 36 peserta pelatihan ke China untuk mempelajari praktik pengentasan kemiskinan dan pembangunan pedesaan yang akan diterapkan di kawasan transmigrasi di Indonesia.
Peserta terdiri atas unsur Kementerian Transmigrasi, balai pelatihan transmigrasi, serta akademisi dari 10 perguruan tinggi, antara lain Universitas Indonesia, IPB University, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Hasanuddin.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Mentrans sebut ukuran sukses transmigrasi kini kesejahteraan
Pewarta : Aria Ananda
Editor:
Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
