
Akademisi ISI Yogyakarta dorong seni jadi medium edukasi bencana

Yogyakarta (ANTARA) - Staf pengajar Jurusan Tata Kelola Seni, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Mikke Susanto mendorong karya seni menjadi medium edukasi dan pemulihan emosional serta advokasi publik dalam membangun ketangguhan bencana masyarakat.
"Sedikitnya ada tiga relasi penting antara seni dan bencana, yakni bencana sebagai representasi dalam karya, seni sebagai bagian dari pemulihan, serta seni sebagai advokasi publik," kata Mikke dalam diskusi "Peran Budaya dalam Membangun Ketangguhan Bencana pada Masyarakat" di Kampus ISI Yogyakarta, Jumat.
Menurut dia, seni juga bisa menjadi advokasi publik untuk memberi kesadaran atas berbagai macam peristiwa maupun upaya penanggulangan atau ketangguhan menghadapi bencana.
Pada diskusi yang digelar dalam rangka memperingati 20 tahun Gempa Jogja itu, Mikke menilai bahwa seniman memiliki cara berbeda dalam mencatat peristiwa bencana sekaligus mengingatkan masyarakat agar dampak serupa tidak terulang lebih besar pada masa mendatang.
"Seniman selalu punya upaya untuk mencatat sekaligus mengingatkan, jangan sampai terjadi korban lebih banyak dari yang dulu," katanya.
Mikke mengatakan seni juga dapat berperan dalam pemulihan emosional masyarakat pascabencana, termasuk setelah gempa Yogyakarta 2006.
Ia mengenang suasana malam setelah gempa di kawasan Sewon, Bantul, ketika masyarakat tetap menghadirkan ekspresi karawitan sederhana di tengah kegelapan dan keterbatasan.
"Secara emosi kita harus tenang dulu. Masyarakat harus tenang dulu secara emosional, kemudian baru melaksanakan sesuatu secara rasional," katanya.
Ia menilai literasi budaya visual penting untuk membantu masyarakat memahami risiko bencana melalui cara yang lebih kreatif dan mudah diterima. Literasi budaya visual akan sangat membantu masyarakat dalam penyadaran.
"Pendekatan seni dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk, mulai dari karya visual, pertunjukan, konten edukatif, hingga praktik partisipatif yang melibatkan masyarakat," katanya.
Pada diskusi yang menghadirkan Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK, Andre Notohamijoyo tersebut, Mikke mengusulkan agar perguruan tinggi seni mulai mempertimbangkan pembelajaran khusus mengenai hubungan seni dan kebencanaan.
"Saya mengusulkan kalau ada mata kuliah seni dan kebencanaan, karena kita ada di lokasi yang paling utama," kata Mikke.
Diskusi tersebut juga menghadirkan Rektor ISI Yogyakarta Irwandi, Guru Besar Sosiologi Kebencanaan Universitas Pertahanan, Syamsul Maarif serta seniman Endang Lestari.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Akademisi ISI Yogyakarta gagas seni jadi medium edukasi bencana
Pewarta : V001 dan Rahid Putra Laksana
Editor:
Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
