Yogyakarta (ANTARA) - Hotel INNSiDE by Meliá Yogyakarta kembali menghadirkan ruang ekspresi bagi seniman lokal melalui pameran seni berjudul INNSiDE Art Exhibition: Living Walls yang berlangsung pada 12 Mei hingga 8 November 2026.

Guest Experience Manager sekaligus Executive Secretary INNSiDE by Meliá Yogyakarta, Diella Avymengatakan pameran tersebut menjadi bentuk kolaborasi hotel dengan para seniman lokal agar karya mereka dapat lebih dikenal publik.

“Kami memang ingin membantu teman-teman seniman untuk memajang karya-karyanya di sini. Kalau ada tamu yang tertarik membeli, otomatis mereka juga mendapatkan hasil dari penjualan itu,” kata Diella saat ditemui di sela pembukaan pameran di Yogyakarta, Selasa.

Menurut dia, konsep “Living Walls” dipilih untuk memberi kebebasan kepada para seniman dalam mengekspresikan gagasan tanpa dibatasi tema tertentu.

“Kami ingin lebih luas, tidak terlalu sempit dengan tema tertentu. Seni itu bebas dan kami ingin memberi ruang untuk itu,” ujarnya.

Pameran tersebut menjadi penyelenggaraan ketiga yang digelar pihak hotel. Sebelumnya, INNSiDE pernah mengadakan pameran bersama seniman perempuan dalam rangka memperingati Hari Kartini serta berkolaborasi dengan komunitas disabilitas.

Pada edisi kali ini, sebanyak 11 seniman lokal terlibat dengan lebih dari satu karya yang dipamerkan.

Diella mengakui penjualan karya seni dalam pameran belum terlalu masif karena lukisan memiliki segmentasi penikmat tersendiri, namun menurutnya tujuan utama kegiatan tersebut bukan semata transaksi, melainkan menghadirkan pengalaman bagi pengunjung untuk menikmati dan memahami cerita di balik karya.

“Kami ingin mempertahankan branding hotel sebagai tempat yang terbuka untuk berkolaborasi dengan seniman lokal,” katanya.

Selain pameran lukisan, pihak hotel juga membuka peluang kolaborasi seni lainnya seperti lokakarya pembuatan lilin, eco-printing, hingga kerajinan pottery.

Sementara itu, Pembina Unit Seni Rupa (USER) Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. drg. Ahmad Syaify, Sp. Perio(K) menilai seni naif yang diangkat dalam pameran tersebut memiliki nilai kejujuran dan spontanitas yang penting di tengah kehidupan modern.

“Lukisan naif itu sangat bebas, sangat polos, sangat spontan dan sangat jujur. Di zaman yang penuh kepura-puraan seperti sekarang, kejujuran menjadi sesuatu yang sangat berharga,” katanya.

Menurut Prof. Dr. drg. Ahmad Syaify prospek seni rupa bagi anak muda saat ini masih terbuka luas seiring dukungan media sosial dan perkembangan platform digital, sehingga seniman muda tidak lagi hanya bisa mengandalkan pameran konvensional karena ruang publikasi karya kini semakin terbuka melalui media daring.

“Sekarang tidak bisa hanya mengandalkan pameran luring. Anak-anak muda harus memanfaatkan media sosial untuk self-marketing agar karya dan pelukisnya lebih dikenal,” katanya.

Ia menilai media sosial memungkinkan seniman menjangkau publik lebih luas tanpa harus menunggu lolos kurasi dalam sebuah pameran besar.

“Dunia sekarang tanpa batas dan tanpa waktu. Jadi anak muda harus berani membuat terobosan sendiri,” ujarnya.

Syaify juga mengapresiasi hotel-hotel di Yogyakarta yang mulai menyediakan ruang bagi seniman lokal untuk berpameran. Menurut dia, langkah tersebut dapat memperkuat identitas Yogyakarta sebagai kota budaya dan wisata seni.

Meski demikian, ia menilai kampus masih perlu meningkatkan perhatian terhadap perkembangan seni rupa di lingkungan mahasiswa.

“Kampus seharusnya ikut memfasilitasi ruang seni. Seni bukan hanya urusan kampus seni, tetapi menjadi bagian penting untuk menyeimbangkan kehidupan,” katanya.

Ia menambahkan penyediaan ruang mural maupun area ekspresi seni di lingkungan kampus dapat menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas.

“Saya mengapresiasi tempat-tempat yang memberikan ruang berekspresi seperti ini. Jogja itu kota wisata dan kebudayaan, jadi kesenian juga harus terus difasilitasi,” jelasnya.