Jakarta (ANTARA) - Peneliti ekonomi Great Institute Ani Asriyah menyarankan Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin, dari 4,75 persen menjadi 5,00 persen, sebagai langkah korektif untuk menjaga kredibilitas kebijakan moneter dan menahan depresiasi rupiah.

"BI perlu menunjukkan sinyal yang tegas bahwa stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas. Dalam situasi seperti sekarang, kenaikan 25 basis poin merupakan langkah korektif yang prudent untuk menahan depresiasi rupiah agar tidak berkembang menjadi dislokasi yang lebih mahal bagi perekonomian," katanya dalam keterangan di Jakarta, Selasa.

Ani mengatakan suku bunga acuan telah bertahan di level 4,75 persen sejak September 2025, namun tekanan terhadap rupiah belum mereda.

Dalam kondisi seperti ini, intervensi valas semata tidak lagi memadai dan setiap penundaan hanya akan memperbesar biaya stabilisasi yang pada akhirnya harus ditanggung perekonomian nasional.

Ia juga menyebut tekanan terhadap rupiah tidak dapat dilepaskan dari dinamika global, khususnya kebijakan moneter The Federal Reserve yang masih mempertahankan pendekatan higher for longer.

Kondisi ini menyebabkan diferensial suku bunga antara negara maju dan berkembang menjadi faktor krusial dalam menentukan arah aliran modal global.

Fenomena ini, lanjut Ani, mencerminkan dilema di mana otoritas moneter harus menyeimbangkan antara stabilitas nilai tukar, independensi kebijakan moneter dan keterbukaan arus modal.

"Indonesia, sebagai bagian dari emerging markets (pasar negara berkembang), menghadapi tekanan yang lebih besar karena sensitivitas terhadap perubahan sentimen global dan volatilitas capital flow," katanya.

Menurut Ani, kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin memiliki fungsi ganda.

Di satu sisi secara mekanisme transmisi moneter, kenaikan ini akan meningkatkan imbal hasil instrumen keuangan domestik, sehingga berpotensi menarik kembali aliran modal asing ke pasar keuangan Indonesia.

Di sisi lain, yang tidak kalah penting, kebijakan ini berperan sebagai sinyal kebijakan yang dapat membentuk ekspektasi pasar.

"Dalam situasi ketidakpastian tinggi, ekspektasi sering kali menjadi determinan utama dalam pergerakan nilai tukar, sehingga langkah kecil namun kredibel dapat menghasilkan dampak yang signifikan dalam jangka pendek," imbuhnya.

Meski demikian, ada beberapa hal yang perlu diwaspadai pemerintah, terutama karena kenaikan suku bunga dapat menahan laju investasi dan konsumsi berbasis kredit dalam jangka pendek.

Namun dalam situasi kurs yang sudah tertekan sedalam ini, biaya dari tidak bertindak bisa jauh lebih besar.

"Pelemahan rupiah yang berlanjut berisiko memicu imported inflation, memperbesar beban utang valas, dan memperburuk persepsi risiko investor terhadap Indonesia,” tambah Ani.

Dalam pandangan Great Institute, kenaikan BI-Rate 25 basis poin akan memberi sedikitnya empat manfaat.

Pertama, memberi sinyal tegas bahwa Bank Indonesia tetap independen dan kredibel dalam menjaga stabilitas rupiah.

Kedua, memperbaiki daya tarik imbal hasil aset keuangan domestik untuk membantu menopang aliran masuk portofolio.

Ketiga, mengurangi beban intervensi valas yang selama ini terus digunakan untuk meredam tekanan kurs.

Dan keempat, menekan risiko rambatan depresiasi rupiah ke inflasi dan pasar keuangan domestik.

Pengetatan ini juga tidak harus dibaca sebagai perubahan total arah kebijakan karena Bank Indonesia tetap dapat mempertahankan sikap makroprudensial yang akomodatif untuk menopang kredit dan sektor riil.

Great Institute juga memandang bahwa tugas Bank Indonesia saat ini bukan sekadar menjaga agar rupiah tidak bergejolak lebih dalam, melainkan memastikan pasar melihat bank sentral tetap kredibel dan responsif.

"Dalam konteks itu, kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin adalah langkah yang tepat, terukur, dan mendesak untuk memitigasi depresiasi rupiah dan menjaga stabilitas makroekonomi nasional," kata Ani.