Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan pembangunan konektivitas di Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan jalan tol, melainkan harus diperkuat dengan transportasi laut dan udara.
Menurut AHY, pendekatan pembangunan infrastruktur di Indonesia tidak dapat disamakan dengan negara-negara kontinental yang bertumpu pada jaringan darat. Sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan strategi konektivitas yang lebih komprehensif.
“Pembangunan tidak boleh Jawa sentris. Kita bukan negara kontinental, sehingga pembangunan konektivitas tidak bisa menggunakan resep negara-negara kontinental,” ujar AHY dalam acara Ikatan Alumni SMA Taruna Nusantara (Ikastara) di Jakarta, Sabtu.
Ia menjelaskan negara-negara seperti Amerika Serikat, China, India, hingga Rusia memiliki karakteristik wilayah daratan yang luas dan terhubung, sehingga pengembangan infrastruktur darat menjadi tulang punggung konektivitas.
Sementara itu, ia menyebut Indonesia yang merupakan negara maritim dengan lebih dari 17.000 pulau memerlukan keseimbangan antara transportasi darat, laut, dan udara.
AHY menekankan bahwa penguatan konektivitas antarpulau menjadi kunci untuk mendorong pemerataan pembangunan sekaligus menekan biaya logistik nasional.
Tanpa sistem transportasi yang terintegrasi, distribusi barang dan jasa disebutnya akan tetap mahal dan menghambat pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah.
Lebih lanjut, Menko AHY menyoroti pentingnya aspek keselamatan transportasi menyusul sejumlah kecelakaan yang terjadi belakangan ini, khususnya pada moda kereta api.
Ia menegaskan bahwa perbaikan sistem dan penguatan aspek pengamanan harus menjadi prioritas.
“Keselamatan itu tidak ada duanya. Tidak hanya kereta, tetapi semua moda transportasi harus mendapatkan perhatian serius,” katanya.
Selain itu, AHY juga menekankan pentingnya menekan biaya logistik guna meningkatkan efisiensi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.
Ia menyebut indikator Incremental Capital Output Ratio (ICOR) sangat dipengaruhi oleh tingkat keterjangkauan transportasi, baik untuk mobilitas manusia maupun distribusi barang dan jasa.
“Semakin efisien biaya transportasi, maka biaya pembangunan bisa ditekan dan kita bisa lebih fokus pada pertumbuhan serta produktivitas,” ujar dia.
Lebih lanjut, AHY menyoroti pentingnya pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan dan tangguh terhadap bencana.
Ia menyinggung bencana besar yang terjadi pada akhir tahun lalu di sejumlah wilayah seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, yang berdampak luas terhadap masyarakat dan infrastruktur.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan perlunya pembangunan yang lebih tangguh dengan dukungan inovasi dan teknologi yang tepat guna, selain dukungan anggaran yang memadai.
Di sisi lain, pemerintah juga membidik pembangunan jaringan kereta api di Pulau Kalimantan sepanjang 2.772 kilometer sebagai bagian dari upaya memperkuat konektivitas dan distribusi logistik di wilayah tersebut.
Ia mengatakan rencana tersebut masih dalam tahap perhitungan dan perencanaan matang.
Pemerintah juga akan membentuk komite khusus yang melibatkan berbagai kementerian dan lembaga guna mengakomodasi masukan serta menyempurnakan perencanaan pembangunan jaringan perkeretaapian nasional.
AHY menambahkan bahwa pembangunan tidak hanya berfokus pada pertumbuhan, tetapi juga pemerataan dan keadilan. Menurut dia, tanpa distribusi pembangunan yang merata, manfaatnya tidak akan dirasakan oleh seluruh masyarakat.
“Tanpa pemerataan, tidak ada gunanya pembangunan. Oleh karena itu, kita harus memastikan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi terdistribusi ke seluruh wilayah Indonesia,” ujar AHY.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: AHY: Pembangunan konektivitas RI tak bisa hanya andalkan jalan tol