Logo Header Antaranews Jogja

Pemkab Bantul: Nilai ekspor hingga April 2026 capai Rp532 miliar

Jumat, 22 Mei 2026 21:28 WIB
Image Print
ilustrasi - Foto udara kapal tanker membongkar muat crude palm oil (CPO) di Terminal Belawan, Medan, Sumatera Utara, Kamis (21/052026). ANTARA FOTO/Yudi Manar/wsj.

Yogyakarta (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian, dan Perdagangan (DKUKMPP) mencatat nilai ekspor produk lokal pada medio Januari-April tahun ini mencapai USD 30.05 juta dolar atau setara dengan Rp 532.08 miliar.

"Volume produk ekspornya mencapai 6.829.898,67 kilogram," kata Kepala DKUKMPP Bantul Praptanugraha, di Yogyakarta, Jumat (22/5).

Ia merinci ada 10 negara tujuan ekspor terbesar sebagai penerima produk lokal Bantul di antaranya, Jerman, China, United States of America (USA), Perancis, dan Jepang.

"Lima negara lainnya yakni Australia, Belanda, Spanyol, Belgia, dan Korea Selatan," katanya.

Analis Perdagangan DKUKMPP Bantul Gardana Purnama menambahkan 10 besar komoditas ekspor produk dari Bantul yakni garmen, furniture, sarung tangan.kerajinan anyaman, briket, kerajinan kulit, gula kelapa, alat kesehatan, casting semen, dan kerajinan batu.

Upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan ekspor di Bantul, lanjutnya, di antaranya mengadakan kegiatan Business Matching yang mempertemukan UMKM dengan pelaku usaha besar.

"Kami memfasilitasi perluasan pasar melalui pameran internasional, seperti JIFFINA (Jogja International Furniture Craft Fair Indonesia)," kata Gardana.

Pihaknya juga aktif menggandeng perbankan untuk mengadakan gathering usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) potensial melakukan ekspor maupun mereka yang sudah mengekspor produknya di pasar internasional.

Pelatihan-pelatihan, lanjut dia, juga telah diselenggarakan untuk mendukung pengembangan ekspor, perluasan pasar ekspor hingga diversifikasi produk ekspor.

"Sinergi lintas sektor baik dengan Perangkat Daerah Kabupaten Bantul,provinsi maupun dari kementerian untuk terus mencari peluang pengembangan pasar baru," jelasnya.

Menurutnya kenaikan dolar cukup berdampak bagi pelaku ekspor di Bantul, khususnya terkait biaya produksi yang naik, terutama bagi komoditas yang mengimpor bahan baku atau komponen produksinya.

"Misalnya UMKM yang bergerak di bidang kerajinan/furniture, harga thinner naik, apalagi komponen produksi yang dibeli melalui impor pasti naik juga," kata Gardana.



Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026