
BPS: Nilai tukar petani DIY naik

Jogja (ANTARA Jogja) - Nilai tukar petani Daerah Istimewa Yogyakarta mencapai angka 115,65, naik sebesar 0,20 persen dibandingkan dengan indeks bulan sebelumnya yang hanya 115,43, kata Kepala Badan Pusat Statistik provinsi itu Wien Kusdiatmono.
"Hal itu disebabkan harga produk pertanian yang diterima petani lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dibayar petani," katanya di Yogyakarta, Selasa.
Ia mengatakan bahwa nilai tukar petani subsektor tanaman pangan naik sebesar 0,13 persen, subsektor hortikultura 1,12 persen, dan subsektor perikanan 0,42 persen.
Sebaliknya, nilai tukar petani subsektor tanaman perkebunan rakyat dan subsektor peternakan turun masing-masing sebesar 0,08 persen dan 0,39 persen.
Menurut dia, nilai tukar petani subsektor tanaman pangan tercatat sebesar 115,50, nilai tukar petani subsektor hortikultura 130,97.
Nilai tukar petani subsektor tanaman perkebunan rakyat tercatat sebesar 121,36, nilai tukar petani subsektor peternakan 103,69, dan nilai subsektor perikanan 113,99.
"Naiknya indeks nilai tukar petani gabungan pada bulan ini disebabkan oleh naiknya indeks nilai tukar petani pada sebagian besar subsektor," katanya.
Ia mengatakan bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) di daerah perdesaan di DIY pada April 2012 secara umum mencapai 131,11 atau mengalami inflasi sebesar 0,27 persen dibandingkan dengan IHK pada bulan sebelumnya yang tercatat 130,75.
Kenaikan indeks terjadi pada kelompok bahan makanan sebesar 0,15 persen, kelompok makanan jadi 0,72 persen, kelompok perumahan 0,53 persen, kelompok sandang 0,54 persen, kelompok kesehatan 0,26 persen, dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,03 persen.
"Namun, indeks kelompok transportasi dan komunikasi mengalami penurunan sebesar 0,19 persen," kata Wien.
Menurut dia, dari 32 provinsi kecuali DKI Jakarta yang dihitung angka nilai tukar petani pada bulan April 2012, sebanyak 13 provinsi di antaranya mengalami kenaikan, sedangkan 19 provinsi mengalami penurunan NTP.
"Kenaikan nilai tukar petani tertinggi terjadi di Provinsi Jawa Timur sebesar 0,67 persen, sedangkan penurunan terbesar terjadi di Provinsi Jawa Barat sebesar 0,60 persen," katanya.
(B015)
Pewarta :
Editor:
Agus Priyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
