Logo Header Antaranews Jogja

CSIS menilai asing tidak mendukung separatisme

Kamis, 10 Mei 2012 18:20 WIB
Image Print
Ilustrasi aksi teror separatisme (Foto antaranews.com)

Jogja (ANTARA Jogja) - Negara-negara di dunia tidak ada yang mendukung separatisme di Indonesia, kata Direktur Centre for Strategic and International Studies Rizal Sukma.

"Negara-negara di dunia justru mengharapkan stabilitias di Indonesia, karena secara ekonomi menguntungkan internasional," katanya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Yogyakarta, Kamis.

Menurut dia pada seminar "Campur Tangan Internasional Terhadap Separatisme di Indonesia", Indonesia saat ini menjadi aset strategis bagi negara-negara Asia Tenggara maupun dunia, termasuk China dan Amerika Serikat (AS).

"Indonesia juga memiliki tingkat konsumsi yang tinggi terhadap produk-produk asing. Hal itu menjadikan dunia internasional justu tidak ingin terjadi konflik apa pun yang mengakibatkan instabilitas di Indonesia," katanya.

Ia mengatakan Indonesia juga memiliki posisi strategis dalam perdagangan internasional. Indonesia berada dekat dengan Selat Malaka yang menjadi selat tersibuk kedua di dunia karena menjadi lalu lintas perdagangan internasional.

"Jadi, tidak hanya AS, tetapi juga Jepang, China, Korea Selatan, dan negara-negara Asia Tenggara yang notabene kebanyakan merupakan sekutu AS, tidak menginginkan instabilitas di Indonesia," katanya.

Menurut dia, pada kasus Aceh misalnya, satu-satunya negara yang secara resmi mendukung Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan melatih gerilyawan-gerilyawan GAM adalah Libya.

"Libya merupakan revolusioner, sehingga mendukung banyak gerakan revolusioner, tidak hanya GAM," kata intelektual yang namanya masuk dalam 100 pemikir terkemuka dunia versi Majalah Foreign Policy pada 2009 itu.

Ia mengatakan masyakarat diharapkan tidak selalu menganggap adanya campur tangan asing dalam separatisme di Indonesia.

"Campur tangan Finlandia pada kasus Aceh dan Australia pada kasus Papua, terjadi karena pemerintah Indonesia yang justru terus melakukan politik eksploitasi dan politik sentralisme," kata Rizal.

(B015)



Pewarta :
Editor: Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2026