
Sultan pimpin upacara puncak HUT Ke-96 Sleman

Jogja (ANTARA Jogja) - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X bertindak sebagai inspektur upacara puncak peringatan Hari Jadi ke-96 Kabupaten Sleman, Selasa sore.
Upacara yang sarat dengan nuansa Jawa tersebut berlangsung meriah meski di tengah guyuran hujan deras.
Bertindak sebagai komandan upacara, Camat Prambanan Sukamto dan semua tamu undangan serta para peserta upacara mengenakan busana Jawa mataram lengkap dan menggunakan bahasa Jawa.
Peristiwa budaya ini juga menarik perhatian masyarakat sekitar dan antusiasme masyarakat yang tidak terganggu hujan dalam menyaksikan kirab di sepanjang jalan.
Rangkaian kegiatan upacara ini diawali dengan kirab Bregodo dari Jalan Parasamya dengan membawa Pusaka Kabupaten Sleman berupa Tombak "Turun Sih" yang merupakan pemberian dari Keraton Yogyakarta serta panji-panji upacara.
Setelah seluruh Bregodo atau peserta upacara memasuki arena upacara di Lapangan Denggung, para tamu undangan disuguhi pagelaran Tari "Gumreget" yang diikuti 30 penari yang terdiri dari para seniman dan seniwati Kabupaten Sleman dan para penari atas Sanggar Tari Sarayuda.
Gelar tari bertajuk "Gumreget" ini menceritakan semangat kebersamaan dan kegotongroyongan warga dalam membangun daerah, mencintai, melestarikan dan mengembangkan budaya.
Tarian ini juga berisi ajakan bagi seluruh warga untuk menyatukan tekad dan tujuan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Hal ini sesuai dengan tema Hari Jadi Kabupaten Sleman "Dengan Hari Jadi Kabupaten Sleman Kita Tingkatkan Kebersamaan Dalam Kedamaian dan Kesantunan".
Upacara diikuti oleh 79 bregada yang di antaranya terdiri atas bergada pembawa rontek dan pusaka, bregada dari instansi di lingkungan Pemkab Sleman, bregada dari 17 kecamatan, bergada prajurit dari berbagai wilayah yang seluruhnya berjumlah kurang lebih 2.600 orang serta tamu undangan.
Sri Sultan dalam sambutan yang disampaikan dalam bahasa Jawa mengatakan, rangkaian acara hari jadi diharapkan berjalan lancar dan selamat atas berkah Yang Maha Kuasa.
"Rangkaian acara hari jadi dengan doa syukur, tirakatan kirab merupakan wujud menyatunya antara agama dan tradisi budaya. Seperti `kidung kamulyan` (kemuliaan) yang diperuntukan pada Yang Maha Kuasa," katanya.
Ia mengatakan, bentuk tirakat dan kirab broto punya maksud perilaku bersatu, tekad bulat untuk mencari berkah, perlindungan, keselamatan dari Yang Maha Kuasa.
"Segala kegiatan, seperti arak arakan `mega ngapak` (awan berarak) sebagai bentuk pelestarian klebet dan umbul umbul abdi dalem keprajuritan yang beraneka warna menurut wilayahnya masing masing, seperti Podang Ngisep Sari dari Gunung Kidul, Pandhan binethot dari Bantul, pare anom dari Kulon Progo," katanya.
Kemudian, Bangun Tolak dari Kota Yogyakarta dan Mego Ngapak dari Sleman. Mego Ngampak ini menggambarkan sifat Gunung Merapi yang sering mengeluarkan awan panas/ "Wedhus Gembel".
"Dengan hari jadi ini sebaiknya seluruh aparat pemerintah instospeksi apakah selama ini cita cita dan langkah yang diambil telah sesuai dengan visi dan misi Kabupaten Sleman. Segala sesuatu harus dijalani dengan usaha keras untuk mencapai harapan dengan mengikis sifat nafsu angkara murka. Semua itu agar tercapai menyatunya rakyat dan pemimpinya dalam pemerintahan di Kabupaten Sleman," katanya.
(V001)
Pewarta :
Editor:
Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2026
