Logo Header Antaranews Jogja

Bangunan modern belum tentu tahan gempa

Sabtu, 26 Mei 2012 18:06 WIB
Image Print
Domes, rumah tahan gempa di Sengir, Kecamatan Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Rumah ini dibuat berdasar konstruksi rumah tahan gempa, angin dan kebakaran. (Foto antarafoto.com)

Jogja (ANTARA Jogja) - Struktur bangunan modern dan bagus belum tentu aman dari ancaman gempa bumi, karena ketika dibangun tidak menggunakan konstruksi tahan gempa, kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Syamsul Ma`arif.

"Sebaliknya, rumah tradisional belum tentu tidak tahan gempa. Rumah tradisional yang dibangun berdasarkan kearifan lokal yang ditemukan nenek moyang Bangsa Indonesia justru lebih akrab dengan segala ancaman bencana," katanya di Yogyakarta, Sabtu.

Oleh karena itu, menurut dia sebelum tampil sebagai pembicara dalam lokakarya "Pengembangan Kurikulum Penguatan Aspek Kebencanaan" di Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII), menjadi tugas universitas untuk melakukan penelitian dan menyosialisasikan bangunan tahan gempa.

"Universitas juga perlu meluruskan struktur bangunan modern dan bagus yang tidak akrab dengan ancaman bencana gempa, karena kampus merupakan tempat ditemukannya teori yang dimanfaatkan untuk melindungi masyarakat," katanya.

Ia mengatakan hal itu penting karena struktur bangunan yang tidak kokoh menjadi pemicu jatuhnya banyak korban bencana gempa bumi.

"Berdasarkan pengalaman gempa bumi 2006 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan sekitarnya yang menelan ribuan nyawa, struktur bangunan yang lemah menjadi penyebab utama, bukan gempa itu sendiri," katanya.

Ia mengatakan di Bantul, DIY, misalnya, ternyata struktur bangunan kantor bupati yang kokoh tidak runtuh bangunannya karena gempa. Begitu juga sebuah rumah di Imogiri tidak runtuh karena goncangan gempa, hanya gentengnya yang berjatuhan.

"Tentu sudah ada kearifan lokal yang cukup `cespleng` sejak dulu untuk arsitektur Indonesia, bukan meniru gaya modern ala Inggris atau Spanyol yang sebenarnya menjauhi sisi keamanan," kata Syamsul.

Dekan FTSP UII Mochamad Teguh mengatakan lokakarya itu bertujuan untuk memperolah pemaparan tentang kebencanaan. Saat ini kurikulum Program Studi Teknik Sipil akan lebih difokuskan pada aspek kebencanaan.

Hal itu, menurut dia, masih sangat langka di Indonesia. Dengan lokakarya penyusunan kurikulum itu fokus pada aspek kebencanaan lebih dirasakan manfaatnya, sehingga UII lebih "rahmatan lil`alamin".

"Lokakarya penguatan kurikulum ini merupakan upaya untuk mendapat akreditasi internasional. Sebelumnya Program Studi Teknik Sipil telah memperoleh hibah kompetisi yang diadakan UII, dan program studi yang terpilih berhak diajukan untuk mendapat akreditasi internasional," kata Teguh.

(B015)



Pewarta :
Editor: Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2026