
Nilai tukar petani Yogyakarta merosot

Jogja (ANTARA Jogja) - Nilai tukar petani Daerah Istimewa Yogyakarta pada Mei 2012 mengalami penurunan sebesar 0,30 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya, kata Kepala Badan Pusat Statistik provinsi itu, Wien Kusdiatmono.
"Pada Mei 2012, nilai tukar petani Daerah Istimewa Yogyakarta tercatat sebesar 115,30, turun dibandingkan dengan indeks bulan sebelumnya yang mencapai 115,65," katanya di Yogyakarta, Jumat.
Menurut dia, menurunnya nilai tukar petani itu karena kenaikan indeks harga produk pertanian yang diterima petani lebih rendah dibandingkan dengan kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dibayar petani.
"Penurunan itu disebabkan turunnya nilai tukar petani yang terjadi pada subsektor tanaman pangan sebesar 0,60 persen dan subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,07 persen," katanya.
Namun demikian, kata dia, nilai tukar petani subsektor holtikultura naik sebesar 0,13 persen, subsektor peternakan naik 0,24 persen, dan subsektor perikanan naik 0,47 persen.
Ia mengatakan, indeks harga yang diterima petani pada Mei 2012 secara umum mengalami kenaikan sebesar 0,07 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
"Indeks harga pada Mei 2012 tercatat 150,46, naik dibandingkan April 2012 yang hanya 150,35. Kenaikan tertinggi terjadi pada subsektor perikanan karena naiknya harga lele, bawal, dan layur," katanya.
Menurut dia, indeks harga yang dibayar petani juga mengalami kenaikan dari 130,01 menjadi 130,49. Kenaikan terjadi pada seluruh subsektor.
"Kenaikan tertinggi terjadi pada subsektor tanaman perkebunan rakyat yang disebabkan oleh naiknya beberapa barang konsumsi rumah tangga seperti gula pasir, daging ayam, dan telur ayam," katanya.
Ia mengatakan, dari 32 provinsi, kecuali DKI Jakarta, yang dihitung nilai tukar petani-nya pada Mei 2012, sebanyak 17 provinsi mengalami kenaikan dan 15 provinsi mengalami penurunan.
"Kenaikan nilai tukar petani tertinggi terjadi di Provinsi Jawa Timur sebesar 0,51 persen, sedangkan penurunan terbesar terjadi di Provinsi Sumatra Barat sebesar 1,01 persen," katanya.
(B015)
Pewarta :
Editor:
Agus Priyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
