Logo Header Antaranews Jogja

Harga biji kakao di Kulon Progo rendah

Kamis, 20 September 2012 19:55 WIB
Image Print
Ilustrasi, Seorang petani mengambil buah kakao yang membusuk sebelum di panen. (Foto ANTARA/Irwansyah Putra)

Kulon Progo (ANTARA Jogaj) - Harga biji kering kakao di tingkat petani Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, masih rendah karena masih diolah secara tradisional.

"Pengelolaan tanaman kakao oleh petani di Kecamatan Kalibawang masih dilakukan secara tradisional sehingga memengaruhi kualitas atau mutu dan harga kakao," kata Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Kalibawang Jumari di Kulon Progo, Kamis.

Upaya meningkatkan mutu dan harga kakao ditingkat petani, kata Jumari, pihkanya akan melakukan sosialisasi kepada petani untuk menerapkan pengolahan dengan Standar Nasional Indonesia (SNI).

"Ke depannya, tidak ada lagi penjualan kakao secara apa adanya tanpa disortir atau dipilih, tetapi harus melalui fermentasi terlebih dahulu. Supaya harga kakao lebih tinggi," kata dia.

Ia mengatakan, pasar kakao di Kulon Progo dimonopoli satu perusahaan bahan minuman di Pegunungan Menoreh itu sehingga harga kakao dipermainkan oleh tengkulak atau perusahaan tersebut.

"Pemerintah kabupaten akan memperbaiki cara budi daya dan penjualan kakao petani, agar kakao yang dijual petani memenuhi SNI," kata dia.

Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Kulon Progo memberikan sosialiasi kepada 12 kelompok tani kakao di Kecamatan Kalibawang yang masing-masing kelompok diikuti 25 orang.

Sejumlah materi dalam sosisalisasi di antaranya agar hasil panen kakao terlebih dahulu difermentasi, dicuci bersih dan dijemur. Kakao yang hendak dijual terlebih dahulu disortasi terlebih dahulu sehingga diperoleh biji yang berkualitas tinggi, sedang, dan rendah.

"Dengan demikian, harga yang diperoleh bervariasi dan menguntungkan," kata dia.

Kepala Dusun Salam, Desa Banjarharjo, Suwandi, mengatakan, petani di wilayahnya melakukan pengelolaan tanaman kakao secara tradisional. Penjualan kakao tidak terlebih dahulu difermentasi dan disortir.

"Kakao hasil panen biasanya hanya dijemur, kemudian dijual ke pedagang lokal atau tengkulak yang datang ke rumah, dengan kisaran harga Rp16.000 hingga Rp18.000 per kilogram. Dari dulu penjualan seperti itu karena kami tidak punya alat fermentasi," kata Suwandi.


(KR-STR)



Pewarta :
Editor: Mamiek
COPYRIGHT © ANTARA 2026