Logo Header Antaranews Jogja

Ekspor Gunung Kidul turun akibat krisis Eropa

Kamis, 18 Oktober 2012 14:26 WIB
Image Print
Ilustrasi produk kerajinan ekspor. (Foto ANTARA/Sidik)

Gunung Kidul (ANTARA Jogja) - Krisis ekonomi yang melanda Benua Eropa dan Amerika berdampak pada penurunan ekspor kerajinan di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, sekitar 25 persen.

"Memang, krisis di Eropa dan Amerika berdampak bagi ekspore di Gunung Kidul. Kami meminta perajin kerajinan kecil untuk tetap mempertahankan kualitas produksi dan terus melakukan inovasi," kata Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Pertambangan, Siwi Iriyanti di Gunung Kidul, Kamis.

Untuk mengantisipasi produksi kerajinan di Gunung Kidul terus menurun, kata Siwi, pemerintah Gunung Kidul telah melakukan sosialisasi kepada perajin untuk membidik pasar dalam negeri atau domestik. Karena permintaan pasar domestik juga tidak kalah dengan permintaan barang dari luar negeri.

"Untuk mempertahankan produksi, perajin mulai kami dampingi supaya meningkatkan mutu kerajinan dan daya saing. Selain itu, kami minta melakukan pemetaan wilayah yang potensial untuk memasarkan produk kerajinan," kata Siwi.

Pemilik FDA Handicraft Produsen Bamboo Craft Gunung Kidul, Suwarji mengatakan, produksi kerajinan bambung tidak terkena dampak dari krisis Eropa dan Amerika. Permintaan kerajinan bambu, di dua benua tersebut justru terus mengalami peningkatan.

Pesanan kerajinan bambu, kata Suwarji, mencapai ribuan dengan berbagai jenis kerajinan bambu. Untuk pasar Eropa, permintaan bambu cukup banyak tetapi, sehingga tidak setiap bulan mengekspore. Permintaan yang paling banyak, yakni dari Amerika yang tiap bulannya harus ekspor sekeitar 5.000 berbagai jenis kerajinan bambu.

"Kami memiliki 400 jenis kerajinan yang berbahan bambu yang fungsional, dekoratif dan unik, diantaranya baki, tempa sampah, ornamen, gerai batik, topeng dan piring," kata dia.

Kata Suwarji, harga kerajinan bambu hasil produksinya berkisar Rp1.500 hingga Rp1,5 juta per itemnya. Harga tergantung dari jenis barang dan tingkat kesulitannya. Untuk kerajinan natural atau belum dibatik harganya masih standar, tetapi kerajinan bambu yang sudah dilakukan pembantikan harga akan naik dua hingga tiga kalilipat karena besarnya ongkos produksi.

"Belakangan ini, pasar Eropa dan Amerika lebih tertarik dengan kerajinan bambu yang natural. Sedangkan pasar domestik seperti Jakarta dan Kota Yogyakarta kebanyakan permintaan dengan hiasan batik. Kami memproduksi kerajinan bambu sesuai permintaan pasar," kata Suwarji.
(KR-STR)



Pewarta :
Editor: Agus Priyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2026