Logo Header Antaranews Jogja

Warga Timbulharjo olah bambu menjadi miniatur kapal

Senin, 5 November 2012 15:53 WIB
Image Print
Kerajinan miniatur kapal produksi perajin Kepek, Desa Timbulharjo, Bantul, DIY (Foto ANTARA/Sidik)

Bantul (ANTARA Jogja) - Warga Desa Timbulharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengolah bambu menjadi produk aneka kerajinan miniatur kapal sehingga memiliki nilai jual.

"Saya sudah sejak 2000 menekuni usaha ini (perajin miniatur kapal) dan alhamdulillah produk saya bisa diterima pasar," kata perajin miniatur kapal dari bambu di Kepek, Timbulharjo Bantul "Adhie Craft" Widadi, Senin.

Menurut dia, dalam seminggu setidaknya dirinya bisa membuat kerajinan miniatur kapal sebanyak tiga hingga empat buah untuk ukuran besar dan untuk kerajinan ukuran kecil sekitar delapan sampai 10 buah per minggu.

Miniatur kapal yang diproduksinya cocok untuk hiasan interior rumah maupun souvenir bagi warga yang hobi koleksi kerajinan yang ditawarkan dengan harga mulai dari puluhan ribu hingga seratusan ribu per buah.

"Tergantung ukuran dan tingkat kesulitan, untuk ukuran besar saya jual sebesar Rp120.000 sampai Rp150.000 per buah, namun kalau yang kecil harganya dibawah Rp100.000 per buah," katanya.

Menurut dia, miniatur kapal miliknya selama ini di titipkan ke sejumlah toko kerajinan di Kota Yogyakarta diantaranya di Mirota Batik, karena untuk saat ini pihaknya mengaku kesulitan untuk menembus pembeli langsung.

"Pemasaran kerajinan saat ini masih sebatas titip di toko dan melalui online, karena untuk pembelian langsung saya kesulitan, jadi konsumen masih lokalan," katanya.

Ia mengatakan, meski begitu tidak menutup kemungkinan kerajinan miniatur kapal diminati wisatawan mancanegara yang membeli langsung di toko kerajinan yang selama ini menampung produknya.

"Memang dulu saya pernah mendapat pesanan dari warga Makassar dan Jakarta, namun sekarang tidak lagi, jadi saya hanya rutin titip di toko kerajinan," katanya yang mengaku lebih mudah menitipkan ke toko dari pada mengirim ke luar daerah dengan risiko brang rusak.

Ia mengatakan saat ini perajin miniatur kapal ini belum banyak, karena menurut sepengetahuannya di desa ini hanya dirinya yang menekuni usaha yang membutuhkan ketelitian dan kehati-hatian ini.

"Awal memulai usaha ini saya hanya melihat dan kemudian mencoba, hasil awal memang tidak berhasil, namun setelah beberapa kali mencoba hasilnya lebih bagus, jadi usaha ini mulai dari nol secara otodidak," katanya.

(KR-HRI)



Pewarta :
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026