
Sebagian petani Bantul enggan manfaatkan gudang SRG

Bantul (ANTARA Jogja) - Sebagian petani di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, enggan menyimpan hasil panen mereka di gudang komoditi dengan sistem resi gudang milik pemerintah setempat.
"Selama ini kami memang belum pernah menyimpan di gudang komoditi, karena selain lokasinya jauh, juga hasil panen terbatas," kata Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Guwosari, Nasuha di Bantul, Senin.
Menurut dia, gudang komoditi sistem resi gudang (SRG) milik pemerintah kabupaten (Pemkab) berfungsi sebagai tempat penyimpanan hasil panen baik gabah maupun jagung dan menjualnya nanti ketika harga sudah baik.
Ia mengatakan, hasil pertanian para petani di Desa Guwosari terbatas karena habis untuk dikonsumsi dan cadangan pangan sendiri, sehingga jarang ada sisa yang dapat diresigudangkan di gudang komoditi.
"Saat panen raya petani lebih memilih menyimpan di rumah maupun di balai, sehingga sewaktu-waktu bisa diambil, kalau disimpan di gudang komoditi itu kan minimal tiga bulan," katanya.
Ia mengaku sudah beberapa kali mendapatkan sosialisasi pemanfaatan gudang komoditi dengan SRG dari pemerintah setempat, namun belum bisa memanfaatkan karena selain kepemilikan lahan yang sempit juga berat diongkos.
"Kalau simpan di gudang SRG kan pakai ongkos dan harus memenuhi syarat, seperti kadar air minimal harus berapa persen. Daripada ribet petani memilih menjemur sendiri untuk dikonsumsi," katanya.
Menurut dia, kelompoknya mengelola lahan pertanian seluas 25 hektare dengan anggota sebanyak 219 petani, sehingga rata-rata petani hanya menggarap lahan tidak sampai 1.000 meter persegi.
Ketua Gapoktan "Tani Mulyo" Desa Sriharjo Imogiri, Warijo juga mengatakan hal yang sama, karena dengan kepemilikan lahan yang sempit, maka petani tidak memanfaatkan gudang SRG sebagai tempat penyimpanan gabah.
"Kelompok kami hanya petani kecil dengan lahan yang sempit, sehingga ketika panen hasilnya disimpan di rumah saja masih banyak tempat yang kosong," katanya.
Menurut dia, upaya pemeritah kabupaten menyediakan gudang komoditi untuk membantu menjual gabah petani memang tujuannya bagus, namun tidak akan bisa mendukung petani dengan kepemilikan lahan yang sempit.
"Luas lahan milik kelompok hanya 190 hektare yang digarap 1.700 orang, jadi hasilnya sudah habis untuk konsumsi sehari-hari. Berbeda kalau lahannya luas yang masih sisa banyak," katanya.
(KR-HRI)
Pewarta :
Editor:
Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026
