Logo Header Antaranews Jogja

Bakso di Malioboro bebas babi dan formalin

Selasa, 22 Januari 2013 13:07 WIB
Image Print
Ilustrasi bakso (antarajateng.com)

Jogja (ANTARA Jogja) - Bakso yang dijual di sepanjang Jalan Malioboro dinyatakan tidak mengandung daging babi dan formalin yang dibuktikan dengan pemberian stiker di setiap gerobak bakso di sepanjang jalan tersebut.

"Pemberian stiker untuk menyatakan bahwa bakso yang dijual tidak mengandung daging babi dan formalin ditujukan agar masyarakat tidak khawatir saat mengonsumsi bakso. Apalagi, bakso sangat rentan dengan isu-isu penggunaan daging di luar daging sapi," kata Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian Kota Yogyakarta Heru Pria Warjaka di sela-sela penempelan stiker di Yogyakarta, Selasa.

Menurut dia, stiker akan diberikan kepada pedagang bakso yang benar-benar telah lolos uji laboratorium. Stiker tersebut akan berlaku selama tiga bulan sehingga sesudahnya perlu diperbarui lagi.

Heru mengatakan, pemberian label bebas daging babi dan formalin tersebut perlu dilakukan karena dari pantauan perdagangan daging sapi di pasar tradisional, sekitar 70 persen terserap untuk pedagang bakso.

Di Kota Yogyakarta ada sekitar 300 pedagang bakso yang berjualan menetap di satu tempat khusus, namun ada juga pedagang yang berjualan secara berkeliling. "Jumlahnya bisa lebih banyak lagi," katanya.

Sebelum pemberian stiker tersebut, Dinas Perindustrian mengadakan pengujian kepada 100 pedagang bakso yang ada di Kota Yogyakarta sebagai sampel.

Dari pengujian tersebut, diketahui ada satu pedagang yang dinyatakan tidak lolos karena bakso yang dijual masih mengandung babi.

"Setelah ditelusuri, kontaminasi daging babi tersebut terjadi saat di penggilingan secara tidak sengaja. Karenanya, kami juga membutuhkan komitmen dari penggilingan daging agar bisa menjaga prosesnya," katanya.

Untuk menjaga agar daging sapi tidak terkontaminasi oleh daging babi, lanjut Heru, asosiasi pedagang bakso bisa berkoordinasi dengan lebih baik dan nantinya Pemerintah Kota Yogyakarta akan memberikan bantuan mesin penggiling daging.

Sedangkan bagi pedagang bakso yang ingin memperoleh stiker bebas daging babi dan formalin bisa mendaftar ke Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian Kota Yogyakarta.

"Biaya uji laboratorium cukup mahal, sekitar Rp200.000. Pedagang bakso mungkin keberatan jika harus mengujinya sendiri," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, penempelan stiker bakso tanpa daging babi dan formalin dilakukan secara simbolis oleh Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti dan beberapa kepala dinas terkait.

Haryadi mengatakan, stiker bakso tidak mengandung daging babi dan formalin tersebut ditujukan untuk menjaga kepercayaan konsumen.

"Jika kepercayaan sudah jatuh, maka akan sulit dikembalikan lagi. Stiker ini untuk menjaga itu," katanya.

Namun demikian, lanjut dia, pedagang bakso yang sudah memiliki stiker tersebut harus bisa bertanggung jawab pada makanan yang dijualnya dengan tetap menjaga kualitas.

Sedangkan Ketua Paguyuban Handayani Sogi Wartono yang mewakili pedagang bakso berharap, dengan stiker tersebut konsumen tidak lagi ragu apabila membeli bakso di Malioboro.

"Dulu, saat ada isu formalin pada bakso, penjualan sangat menurun. Karenanya, setelah ditempel stiker ini, pembeli tidak lagi ragu. Makanan yang dibelinya halal," katanya yang berjualan bakso sejak 1993.

Dalam paguyuban tersebut tergabung sebanyak 61 pedagang makanan, 15 di antaranya adalah pedagang bakso dari depan Hotel Inna Garuda hingga Kepatihan. (E013)

(E013)



Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2026