Logo Header Antaranews Jogja

Sleman gelar forum kesiapsiagaan cuaca ekstrem

Selasa, 29 Januari 2013 13:47 WIB
Image Print
Ilustrasi (dok istimewa)

Sleman (ANTARA Jogja) - Pemerintah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa, Selasa, menggelar Forum Kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem yang terjadi menyertai pergantian musim.

"Cuaca ekstrim yang sering terjadi akhir-akhir ini perlu diwaspadai sejak dini karena sering terjadi bencana akibat cuaca ekstrim. Dengan kewaspadaan sejak dini, maka dampak bencana dapat lebih diminimalisir," kata Bupati Sleman Sri Purnomo saat membuka Forum kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem.

Menurut dia, dalam penanganan bencana harus terbangun sistem koordinasi dan sinergi yang baik, masing-masing pihak harus dapat berperan maksimal sesuai dengan kapasitasnya.

"Juga harus terbangun jaringan informasi yang solid, valid, serta didasarkan atas akurasi data," katanya.

Ia mengatakan, yang perlu diperhatikan untuk menghindari kesimpang siuran informasi maka informasi yang disampaikan kepada masyarakat harus mengacu pada informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta.

"Jangan sampai masyarakat justru menjadikan isu atau informasi yang tidak bertanggung jawab sebagai informasi yang dipercaya, sehingga seringkali menimbulkan kepanikan yang justru kontraproduktif pada upaya mitigasi bencana," katanya.

Sri Purnomo mengatakan, pihak yang terkait harus dapat menyampaikan informasi yang benar dengan cara efektif kepada masyarakat.

"Diharapkan pula jaringan informasi yang terbangun sampai dengan tingkat padukuhan bahkan RT, dapat segera menyampaikan informasi yang cepat kepada pemerintah, bila terjadi bencana. Sehingga pemerintah dapat segera memberikan bantuan dan kebutuhan masyarakat yang tertimpa bencana," katanya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman Urip Bahagia mengatakan tujuan forum tersebut sebagai wahana penyampaian persepsi penyelenggaraan penanggulangan bencana di wilayah Sleman.

"Koordinasi saat operasional tanggap darurat merupakan hal yang sangat penting dalam penanggulangan bencana," katanya.

Ia mengatakan, titik-titik rawan sungai yang perlu diperhatikan masyarakat adalah 300 meter kanan kiri sungai, daerah diluar belokan sungai, daerah yang mengalami penyempitan aliran, daerah yang elevasinya sama dengan sungai dan daerah yang berada di perpindahan elevasi sungai dari dalam ke dangkal.

"Dan yang sangat penting untuk diperhatikan oleh masyarakat untuk merespon peringatan dini antara lain menjauh dari lokasi bahaya yang diperkirakan, menjauhi sungai/ tidak melintasi sungai. Menuju ke titik kumpul, mengungsi ke tempat pengungsian, mengikuti petunjuk pengungsian melalui jalur evakuasi yang disepakati," katanya.

Armada yang siap di titik kumpul, pengemudi armada evakuasi terlatih, bergerak setelah komandan tanggap darurat peringatan mengungsi dan memprioritaskan kelompok rentan.

"Dampak tingginya curah hujan di Sleman yang perlu diwaspadai adalah potensi banjir lahar di Sungai Gendol, Opak, Boyong, Kuning, Krasak. Banjir dan genangan luapan drainase kota, Longsor di Kecamatan Prambanan dan angin kencang kecepatan 65 km per jam, dampak diwaspadai terjadinya pohon tumbang dan kerusakan benda yang tertiup angina kencang," katanya.

Forum tersebut diikuti 150 peserta antara lain para Kapolsek yang masuk daerah rawan bencana, kepala desa yang rawan bencana, camat se Kabupaten Sleman, komunitas , perwakilan Korem 072, Kepala Rumah Sakit Angkatan Udara dan BPPTK.

(U.V001)



Pewarta :
Editor: Heru Jarot Cahyono
COPYRIGHT © ANTARA 2026