Logo Header Antaranews Jogja

Indonesia targetkan jadi produsen kakao terbesar dunia

Senin, 18 Maret 2013 14:38 WIB
Image Print
Menteri Pertanian Suswono (rri.co.id)

Jakarta (Antara Jogja) - Menteri Pertanian Suswono mengatakan, Indonesia sebagai negara produsen kakao terbesar ketiga di dunia menargetkan mampu menempati posisi pertama menggantikan Pantai Gading.

Saat ini, menurut Mentan di Jakarta, Senin, pemerintah terus menggalakkan Gerakan Nasional (Gernas) Kakao untuk meningkatkan produksi agar dapat menggeser Pantai Gading dan Ghana yang menempati posisi sebagai produsen kakao pertama dan kedua terbesar dunia.

"Dalam Gernas ini, ada peremajaan dan meningkatkan produktifitas dengan pemeliharaan yang baik seperti me-manage pembudidayaan dan pemupukan untuk meningkatkan hasil," katanya.

Sebelumnya Mentan sempat melakukan pembukaaan The 87th Meeting of International Cocoa Council di Denpasar, Bali.

Suswono menyatakan, peremajaan tersebut berupa mengganti pohon- pohon kakao yang sudah tidak produktif lagi.

Peremajaan itu telah dilakukan sejak 2009 sehingga, menurut dia, tahun ini akan panen dan meningktnya produksi menjadi satu juta ton dari 2012 sebesar 833.310 ton atau meningkat 17 persen dari produksi 2011 sebesar 712.231 ton.

Sementara itu, lanjut Suswono, untuk meningkatkan produktifitas, dalam Gernas Kakao juga dilakukan pula budidaya dengan cara sambung samping dan sambung pucuk, serta pemupukan yang baik.

"Mudah-mudahan produktifitas semakin meningkat," katanya.

Suswono menyebutkan, produktifitas saat ini hanya mencapai 700-800 kilogram per hektare per tahun, padahal, Indonesia memiliki potensi meningkatnya menjadi 1,5 ton per hektare per tahun mengalahkan Pantai Gading yang hanya 1,4 ton per hektare.

Menurut Suswono, Pantai Gading sudah tidak dapat meningkatkan produktifitasnya lagi dan ini merupakan kesempatan Indonesia untuk menggeser posisi Pantai Gading sebagai negara produsen nomor satu di dunia.

Mentan menetapkan target produkrifitas sebesar 1,5 ton per hektare pada 2016 mendatang.

Dia menambahkan, dengan diterapkannya bea keluar lima persen untuk biji kakao, maka industri mulai menggarap produk hilir kakao.

Ke depannya, dia berharap, Indonesia juga dapat memproduksi hasil akhir kakao seperti cokelat.

Ditambah lagi, Indonesia juga akan menerapkan sertifikasi kakao yang dapat meyakinkan konsumen atas sustainability kakao Indonesia.
(S025)



Pewarta :
Editor: Heru Jarot Cahyono
COPYRIGHT © ANTARA 2026