Logo Header Antaranews Jogja

AGI : Indonesia butuh kebijakan pergulaan nasional terintegrasi

Kamis, 12 Desember 2013 21:48 WIB
Image Print
Ilustrasi gula pasir di pasar tradisional (Foto antaranews.com)

Jogja (Antara Jogja) - Indonesia membutuhkan kebijakan pergulaan nasional yang terintegrasi untuk mencapai swasembada gula, kata Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia Tito Pranolo.

"Selama ini sinergi antarpemangku kepentingan industri gula lemah, karena belum adanya kebijakan pergulaan nasional yang terintegrasi," katanya pada seminar `Arah Baru Kebijakan Pergulaan Nasional` di Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP) Yogyakarta, Kamis.

Menurut dia, berbagai hambatan baik teknis produksi, manajerial maupun strategi bisnis pabrik gula menyebabkan kelayakan ekonomis industri gula belum mampu mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis yang dinamis.

"Seminar itu bertujuan memberikan masukan kepada pemerintah untuk menghasilkan arah kebijakan baru industri gula nasional yang lebih komprehensif, berdaya saing, berkelanjutan, dan berkeadilan," katanya.

Ia mengatakan rencana aksi harus menghasilkan arah baru kebijakan pergulaan nasional dengan mengacu pengembangan kompetensi inti daerah berbasis klaster, mencegah konflik tidak produktif dalam mencapai tujuan swasembada gula.

Selain itu, mengantisipasi liberalisasi pasar gula pada Masyarakat Ekonomi ASEAN yang berlaku efeketif mulai 31 Desember 2015, meningkatkan daya saing bisnis baik "on-farm" dan "off-farm" yang perlu dilakukan oleh pelaku bisnis industri gula.

"Hal itu memerlukan dukungan regulasi bagi pengembangan industri gula terintegrasi dengan industri derivat (turunan) berbasis tebu untuk meningkatkan kelayakan bisnis industri gula khususnya dari sisi penurunan harga pokok produksi gula agar lebih mampu bersaing dengan gula impor," kata Tito.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Achmad Widjaja mengatakan industri gula merupakan salah satu dari 32 industri prioritas nasional. Namun, swasembada gula hingga saat ini belum tercapai.

Menurut dia, produksi gula nasional dari 63 pabrik gula selama 10 tahun terakhir masih berfluktuasi antara 1,6 hingga 2,6 juta ton. Produksi tertinggi dicapai pada 2008 sebanyak 2,66 juta ton.

"Setelah itu produksi gula nasional mengalami penurunan dan sedikit naik pada 2012 dengan produksi 2,59 juta ton. Produksi gula pada 2013 diprediksi mencapai 2,39 juta ton," kata Widjaja.

Seminar "Arah Baru Kebijakan Pergulaan Nasional" itu dihadiri pelaku industri gula baik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun swasta, perguruan tinggi, pemerintah daerah dan pusat, organisasi petani, lembaga pendidikan dan pelatihan, dan lembaga riset dari seluruh Indonesia.

(B015)



Pewarta :
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026