Logo Header Antaranews Jogja

Distan: abu vulkanik bermanfaat bagi pertanian

Jumat, 14 Maret 2014 22:33 WIB
Image Print
Ilustrasi (Foto antaranews.com)

Bantul (Antara Jogja) - Hujan abu vulkanik pascaerupsi Gunung Kelud, Jawa Timur yang sampai di wilayah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, berpengaruh positif bagi sektor pertanian di wilayah ini, kata pejabat Dinas Pertanian dan Kehutanan setempat.

"Abu vulkanik yang jatuh ke Bantul berdampak positif bagi pertanian, karena partikel abu yang membawa belerang itu akan menambah kesuburan lahan," kata Koordinator Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul, Widodo, Jumat.

Namun demikian, kata dia dampak positif bagi sektor pertanian itu akan dirasakan petani setelah jangka panjang, karena proses pelapukan tanah membutuhkan waktu selama bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun.

"Kondisi geografis di Daerah Istimewa Yogyakarta yang diapit gunung-gunung ini yang menjadikan potensi terdampak bencana, namun di balik itu ada pengaruh positif khususnya di sektor pertanian yang semakin subur," katanya.

Menurut dia, selain dalam jangka panjang, dampak positif jangka pendek dari hujan abu vulkanik pada sekitar Februari lalu adalah tanaman yang sudah tumbuh dewasa saat tertutup abu terhindar dari segala macam hewan pemangsa tumbuhan.

"Tanaman yang tertutup abu baik itu hewan pengerat seperti tikus dan penggorok tidak mau makan tumbuhan karena partikel vulkanik itu, jadi memang sementara menguntungkan," katanya.

Ia mengatakan, meskipun terdapat dampak positif, namun abu vulkanik juga mempunyai dampaok negatif bagi tanaman khusus bunga yang sedang masa penyerbukan akan terganggu, sehingga mengakibatkan pada rontok.

Selain itu, kata dia abu vulkanik yang mengenai tanaman cabai di lahan pasir diindikasikan memperparah kerusakan tanaman hortikultura itu, namun bencana alam itu bukan menjadi salah satu penyebab utama kerusakan tanaman cabai.

"Tanaman cabai di lahan pasir dilaporkan pada layu dan membusuk, namun faktornya bukan karena abu, namun hama, karena lahan cabai ini merupakan tanaman "off-season" (di luar musim), sehingga rentan terhadap serangan penyakit," katanya.

(KR-HRI)



Pewarta :
Editor: Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2026