
Perilaku Merapi kini berbeda

Jogja (Antara Jogja) - Gunung Merapi (2.968 mdpl) di perbatasan wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta kini menunjukkan perilaku yang berbeda dari biasanya, yakni sering terjadi letusan kecil, dan terdengar dentuman.
Kepala Pusat Badan Geologi Surono mengatakan perilaku Merapi berbeda pascaletusan 2010, karena sejak letusan yang bersifat eksplosif itu, gunung api aktif ini tidak lagi memiliki kubah lava.
"Sejak letusan 2010, Merapi tidak lagi punya `topi`. Sistemnya sudah sangat terbuka. Oleh karena itu, sering terjadi letusan minor, dan akhir-akhir ini bahkan terdengar dentuman," kata Surono.
Menurut dia, magma di perut gunung diperkirakan sudah nyaris habis, setelah dikeluarkan saat meletus pada 2010. Merapi sekarang sedang mengisi kembali dapur magma yang hampir kosong tersebut.
Proses pengisian dapur magma itu, kata Surono, terkadang dengan mengeluarkan gas, karena ada proses pendinginan saat magma naik.
Selain itu, menurut dia, sifat magma gunung api di Pulau Jawa umumnya kaya akan kandungan gas. "Oleh karena itu, sering terdengar dentuman yang berasal dari pelepasan gas. Asap solfatara juga terlihat, karena tidak lagi ada sumbatan di kawah Merapi. Gas yang terbentuk terlepas sedikit demi sedikit tanpa ada akumulasi dalam jumlah besar," katanya.
Ia berharap proses yang kini terjadi di Merapi adalah murni pelepasan gas dalam sistem yang terbuka. "Merapi pasti akan kembali ke tipe letusan yang seharusnya, yaitu tipe Merapi dengan pembentukan kubah lava, muncul api diam di puncak dan awan panas. Sekarang, kita ikuti saja prosesnya," katanya.
Surono mengatakan peningkatan status aktivitas vulkanik Merapi dari Normal ke Waspada (Level II) untuk memberikan hak kepada gunung ini, dan juga memenuhi hak masyarakat sebagai bentuk peringatan dini.
"Perubahan status tersebut diikuti dengan peningkatan kesiap-siagaan. Masyarakat tahu harus berbuat apa saat ada perubahan status Merapi. Lebih baik melakukan persiapan, dari pada tidak sama sekali, tetapi kemudian terjadi hal yang tidak diinginkan," katanya.
Sementara itu, Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta Subandriyo mengatakan Merapi pernah mengalami perubahan perilaku seperti saat ini yaitu pascaletusan 1872. "Kemudian Merapi kembali ke tipe letusannya pada 1883," katanya.
Ia mengatakan masyarakat dapat beraktivitas seperti biasa, meskipun status Merapi dinaikkan menjadi waspada sejak 29 April lalu, namun dengan tetap meningkatkan kesiap-siagaan.
Menurut Subandriyo, dinaikkannya status menjadi siaga karena pertimbangan sejak 20 April hingga 29 April 2014 tercatat gempa guguran sebanyak 37 kali, gempa multifase 13 kali, empat kali embusan, 24 gempa tektonik, dan gempa frekuensi rendah sebanyak 29 kali.
Ia menyebutkan peningkatan signifikan terjadi pada jenis gempa "low frequency", bahwa dalam satu hari yaitu Selasa, 29 April 2014, terjadi gempa 20 kali lebih, yang dimungkinkan sebagai indikasi meningkatnya fluida gas vulkanik yang berpotensi menimbulkan letusan.
"Pada tanggal yang sama pula terdengar dentuman yang terjadi berulang kali, dan terdengar hingga radius delapan kilometer dari puncak Merapi," katanya.
Subandriyo mengatakan, berdasarkan pemantauan seismik, perubahan status dari normal ke waspada juga berdasarkan meningkatnya aktivitas gas di perut gunung.
Dilarang mendaki
Ia mengatakan atas peningkatan status Gunung Merapi ini, BPPTKG memberikan beberapa rekomendasi, di antaranya larangan pendakian ke puncak, kecuali untuk kepentingan penelitian dan mitigasi bencana.
"Kami juga minta kepada seluruh warga masyarakat di kawasan Merapi untuk tidak terpancing isu mengenai erupsi, dan tetap mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat," katanya.
Subandriyo mengatakan status waspada ini tidak langsung mengacu pada pelaksanaan pengungsian, karena pengungsian baru akan dilakukan apabila status dinaikkan lagi, atau melalui rekomendasi yang dikeluarkan BPPTKG Yogyakarta maupun PVMBG.
"Kami juga minta pemerintah daerah untuk mensosialisasikan kondisi Gunung Merapi saat ini kepada masyarakat dengan jelas," kata dia.
Ia mengatakan warga masih bisa bekerja seperti biasa, namun tetap waspada. "Hindari bekerja di lokasi-lokasi yang sulit dijangkau," katanya.
Menurut dia, BPPTKG Yogyakarta akan lebih mengintensifkan pengamatan terhadap Merapi, seiring dengan peningkatan status tersebut.
"Apabila dari hasil pengamatan ternyata dirasa status Merapi perlu dinaikkan lagi, maka kami akan segera meninjau status itu, dan mengkoordinasikan dengan pihak terkait terutama pemerintah daerah," katanya.
Perkembangan terakhir, menurut Subandriyo, belum ada pergerakan magma ke atas, meskipun status aktivitas vulkanik Merapi meningkat dari aktif normal ke waspada.
"Dari pemantauan seismik, gempa yang paling banyak muncul adalah gempa `low frekuensi` (LF), bukan `high frekuensi` (HF). Gempa LF itu berasosiasi dengan pergerakan fluida gas, bukan magma. Migrasi magma ke atas akan selalu ditandai dengan gempa HF dan deformasi," katanya.
Saat ini, kata dia, tidak terdeteksi adanya deformasi di Gunung Merapi. "Deformasinya nol," tandasnya.
Ia mengatakan tidak ada rumus yang pasti untuk memperkirakan kapan gunung ini akan meletus. "Jika kenaikan status itu tidak diikuti dengan kejadian lain, misalnya letusan, maka tidak apa-apa. Yang penting masyarakat sudah meningkatkan kewaspadaannya," katanya.
Menurut dia, perilaku Merapi yang kini berbeda juga karena kandungan gas yang sangat tinggi. Meningkatnya gas di gunung ini menimbulkan letusan minor, dan telah terjadi 10 kali pascaerupsi 2010.
Letusan minor tersebut ditandai dengan embusan asap solfatara, termasuk lontaran batu pijar. "Sama sekali tidak terjadi guguran lava pijar. Lava pijar terjadi apabila sudah ada magma baru yang naik ke permukaan," katanya.
Namun demikian, kata Subandriyo, aktivitas gas tersebut perlu diwaspadai, karena apabila aktivitas gas-nya kuat, bisa menyebabkan terjadi guguran material lama yang ada di puncak gunung.
Dipicu gempa
Sementara itu, menurut Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG Yogyakarta Sri Sumarti, seringnya terjadi gempa di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta memicu pelepasan gas CO2 yang ada di kawah Merapi, sehingga terjadi embusan yang terkadang membawa abu vulkanik.
"Beberapa kali gempa bumi yang terjadi di kawasan DIY mendorong pelepasan CO2 di kawah Gunung Merapi," katanya.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Merapi di Babadan mencatat suara dentuman pada Rabu, 30 April lalu sebanyak 24 kali. Suara dentuman lebih sering terdengar berasal dari sisi barat gunung.
Kepala BPPTKG Yogyakarta Subandriyo menambahkan, aktivitas seismik lain seperti gempa frekuensi tinggi yang menandakan migrasi magma ke permukaan, hampir tidak pernah terjadi. Bahkan deformasi nol.
"Perubahan aktivitas seismik inilah yang membedakan perilaku Gunung Merapi sebelum meletus pada 2010 dengan kondisi sekarang," katanya.
Empat tahun lalu, kata dia, terjadi rentetan gempa frekuensi tinggi dalam waktu singkat tanpa banyak disertai gempa frekuensi rendah. "Hal itu yang membedakannya dengan tahun ini, sehingga diambil keputusan untuk menaikkan status aktivitas dari normal ke waspada, agar masyarakat dan aparat bisa lebih waspada," katanya.
Ia mengatakan BPPTKG Yogyakarta masih terus memantau aktivitas Gunung Merapi. "Bisa saja aktivitasnya melemah, atau meningkat," katanya.
(M008)
Pewarta : Oleh Masduki Attamam
Editor:
Heru Jarot Cahyono
COPYRIGHT © ANTARA 2026
