Logo Header Antaranews Jogja

Sleman terus berupaya beri akses ekonomi difabel

Selasa, 30 September 2014 20:10 WIB
Image Print
Ilustrasi

Sleman (Antara Jogja) - Pemerintah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta berupaya memberikan akses baik di bidang ekonomi maupun pelatihan ketrampilan bagi para penyandang cacat atau difabel.

"Upaya ini dilakukan agar kaum difabel mampu memperoleh kesempatan yang sama dalam aktivitas ekonomi, sosial dan politik," kata Bupati Sleman Sri Purnomo, Selasa.

Menurut dia, berdasarkan data BPS pada 2013, jumlah penyandang disabilitas di Kabupaten Sleman sebanyak 4.938, yang terdiri dari 2.749 putra dan 2.189 putri.

"Undang-Undang No.4 tahun 1997 telah mengatur tentang kesamaan hak dan kedudukan penyandang disabilitas, tetapi dalam kenyataannya implementasi undang-undang tersebut masih mengalami berbagai hambatan," katanya.

Menurut dia, beberapa hambatan yang dialami tersebut antara lain sampai saat ini belum ada data representatif yang menggambarkan jumlah dan karakteristik penyandang disabilitas.

"Selain itu juga adanya stigma negatif tentang penyandang disabilitas yang menganggap mereka sebagai aib atau kutukan keluarga, sehingga masih banyak keluarga yang menyembunyikan keberadaan mereka," katanya.

Ia mengatakan, kendala lain dalam ketenagakerjaan masih banyak yang menganggap bahwa penyandang disabilitas sama dengan tidak sehat, sehingga tidak dapat diterima sebagai pekerja karena syarat untuk menjadi pekerja salah satunya adalah sehat jasmani dan rohani.

"Selain itu, masalah aksesibilitas bagi penyandang disabilitas juga masih rendah. Banyak fasilitas umum yang belum ramah terhadap mereka, sehingga menghambat akses dan partisipasi mereka diberbagai bidang. Mereka juga rentan mengalami diskriminasi ganda, terutama penyandang disabilitas perempuan," katanya.

Ia mengatakan Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah raga (Dikpora) juga memberikan fasilitasi terhadap anak-anak penyandang disabilitas dengan membuka sekolah inklusi.

"Hal ini sejalan dengan prinsip tiga pilar pendidikan, yaitu perluasan aksesibilitas, peningkatan mutu dan pencitraan publik," katanya.

Sri Purnomo mengatakan, dalam sekolah inklusi diciptakan kurikulum individual, yaitu kurikulum khusus individu tertentu, sehingga dengan metode seperti ini sistem kurikulum mencoba mengembangkan anak sesuai dengan bakat yang dimilikinya.

"Saat ini jumlah sekolah inklusi yang terdapat di wilayah Kabupaten Sleman sebanyak 45 sekolah baik negeri maupun swasta, yang terdiri dari 35 SD, enam SMP, tiga SMK, dan satu MA," katanya.

(V001)



Pewarta :
Editor: Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2026