
Yogyakarta dorong pertumbuhan koperasi produsen

Yogyakarta (Antara Jogja) - Pemerintah Kota Yogyakarta mendorong pertumbuhan koperasi produsen untuk mendukung penguatan usaha mikro kecil dan menengah yang banyak terdapat di wilayah tersebut sehingga bisa bersaing dengan usaha yang lebih kuat.
"Banyak usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) seperti usaha bakpia. Mereka kami dorong untuk bisa membentuk koperasi sebagai penguatan usaha. Jika bergabung bersama-sama, diharapkan usahanya lebih kuat," kata Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti usai menerima tim penilai kota penggerak koperasi dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah di Yogyakarta, Jumat.
Menurut dia, penguatan usaha mikro kecil dan menengah melalui koperasi tersebut juga dapat menguatkan daya saing produk yang dihasilkan dengan produk lain, terlebih mulai 2015 akan terjadi persaingan bebas di pasar ASEAN dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
"MEA jangan hanya dipandang sebagai ancaman bagi produk dalam negeri. Justru, persaingan bebas tersebut harus dimanfaatkan oleh usaha mikro kecil dan menengah dengan cara memperbaiki kualitas produknya. Salah satunya, adalah melalui koperasi ini," katanya.
Selain mendorong perkembangan koperasi produsen, Haryadi juga berharap berbagai koperasi yang sudah berkembang seperti koperasi simpan pinjam bisa memberikan manfaat bagi anggotanya. "Jangan hanya untuk kebutuhan pinjam saja," katanya.
Hal senada dinyatakan Asisten Deputi Tata Laksana Koperasi dan UKM Deputi Kelembagaan Kementerian Koperasi dan UKM Sri Istiyati, yaitu koperasi produsen harus terus ditumbuhkan.
Ia menilai, Yogyakarta memiliki potensi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang cukup banyak seperti usaha batik, kerajinan tangan dan makanan.
"Perajin-perajin ini bisa mengembangkan produknya dengan bergabung dalam sebuah koperasi. Nanti dibentuk merk sendiri dengan terus memperbaiki mutu dan melakukan promosi. Jangan lupa, kemasan produk pun harus terus diperbaiki," katanya.
Berdasarkan data Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian Kota Yogyakarta, di wilayah tersebut terdapat 567 koperasi, namun 101 di antaranya dalam kondisi tidak aktif.
Jumlah koperasi produsen tidak terlalu banyak yaitu sekitar 10 persen dari total koperasi yang ada. Koperasi produsen tersebut bergerak di bidang produksi tempe, perak dan batik.
"Namun demikian, ada beberapa kendala terkait perkembangan koperasi produsen. Misalnya koperasi batik. Usaha batik ini biasanya turun temurun dan anggota yang sudah tua tidak mau menerima anggota baru," kata Kepala Disperindagkoptan Yogyakarta Suyana.
Sementara itu, penilaian Kota Penggerak Koperasi oleh Kementerian Koperasi dan UKM tersebut dilakukan berdasarkan usulan dari Pemerintah Kota Yogyakarta.
Pada 2011, Yogyakarta memperoleh penghargaan tersebut dan setelah tiga tahun dapat mengusulkan kembali.
(E013)
Pewarta : Oleh Eka Arifa Rusqiyati
Editor:
Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2026
