Gubernur DIY ingatkan akar budaya Sekaten

id sekaten

Gubernur DIY ingatkan akar budaya Sekaten

Pasar Malam sekaten (Foto Antara/dok)

Yogyakarta, (Antara Jogja) - Gubernur DIY Sri Sultan HB X dalam sambutannya yang dibacakan Asisten Sekretaris Daerah Pemerintah DIY Didik Purwadi mengingatkan akar budaya sekaten yang sudah berusia ratusan tahun harus selalu dijaga.

"Sekaten memiliki sejarah panjang dalam proses penyebaran Islam di Jawa pada masa Sunan Kalijaga dan dalam perkembangannya menjadi sarana yang menghubungkan manusia, Tuhan dan alam. Generasi muda saat ini harus bisa memahami dan melestarikannya," kata Didik saat membacakan sambutan Sri Sultan HB X pada pembukaan Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) 2015 di Yogyakarta, Jumat.

Menurut dia, sekaten yang diselenggarakan saat ini memiliki dua makna penting yaitu sebagai peristiwa budaya yang sakral yang ditandai dengan keluarnya pusaka gamelan dari Keraton Yogyakarta yaitu Kyai Nogo Wilogo dan Kyai Guntur Madu dan sebagai peristiwa pariwisata.

Kedua gamelan tersebut diarak menuju Masjig Gedhe Kauman Yogyakarta untuk dibunyikan secara terus menerus selama satu pekan menjelang Maulid Nabi Muhammad SAW.

"Gamelan menjadi sarana penting dalam proses penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Sunan Kalijaga membunyikan gamelan di halaman masjid untuk menarik minat masyarakat. Beliau kemudian menyiarkan agama Islam," katanya.

Budaya dalam sekaten yang memiliki makna sakral tersebut, lanjut dia, harus tetap dipertahankan sehingga masyarakat mengetahui makna yang sesungguhnya dari perayaan sekaten.

Sedangkan sebagai peristiwa pariwisata, lanjut dia, budaya dan kemeriahan dalam penyelenggaraan sekaten dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung.

"Selain unsur religi dan budaya, terdapat unsur ekonomi yang juga berkembang dalam penyelenggaraan sekaten yaitu dengan adanya pasar malam," katanya.

Pada penyelenggaraan sekaten tahun ini, panitia memilih "sego gurih" atau nasi gurih sebagai ikon setelah pada tahun lalu "ndog abang" atau telur merah.

Ketua Panitia Pasar Malam Perayaan Sekaten 2015 Suyana mengatakan, setiap tahun dipilih ikon yang menegaskan tradisi perayaan sekaten. Selain "sego gurih" dan "ndog abang", tradisi sekaten juga identik dengan "pecut" atau cambuk serta kinang.

Penyelenggaraan Pasar Malam Perayaan Sekaten tahun ini berbeda dibanding tahun sebelumnya yaitu dari 40 hari dipadatkan menjadi 21 hari, 4-24 Desember di Alun-Alun Utara Yogyakarta.

Sejumlah peserta yang meramaikan arena Pasar Malam Perayaan Sekaten di antaranya adalah permainan, kerajinan, fashion dan kuliner dari usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), serta anjungan dari sejumlah pemerintah daerah.

Panitia menyiapkan sekitar 850 petak anjungan yang bisa dimanfaatkan peserta dan sekitar 98 persen di antaranya sudah terisi. Peserta dibebaskan dari biaya sewa lahan.

Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti mengatakan pengurangan durasi penyelenggaraan pasar malam sekaten berkaitan dengan penataan konstruksi di Alun-Alun Utara Yogyakarta.

Selain sektor ekonomi, masyarakat juga bisa menyaksikan pentas seni dan budaya di arena pasar malam perayaan sekaten setiap harinya.

"Sekaten adalah pusaka budaya yang harus dilestarikan dan menjadi bagian dari keistimewaan Yogyakarta," katanya. ***4***

(E013)

Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar