Logo Header Antaranews Jogja

Pertamina dorong masyarakat beralih ke bright gas

Selasa, 18 Oktober 2016 00:17 WIB
Image Print
Pemasaran Bright Gas 5,5 kg (Foto ANTARA)

Yogyakarta, (Antara Jogja) - PT Pertamina Persero Marketing Operation Region IV Jawa Tengah dan DIY, mendorong masyarakat kelas menengah secara sadar beralih mengonsumsi bright gas untuk mengurangi potensi kelangkaan stok elpiji 3 kg di masyarakat.

"Sampai sekarang memang masih banyak masyarakat kelas menengah yang belum beranjak dari elpiji bersubsidi ke bright gas," kata Communication and Relation PT Pertamina Marketing Operation IV Jawa Tengah dan DIY Didi Andrian Indra Kusuma di Yogyakarta, Senin.

Didi menyebutkan pada September 2016 permintaan elpiji 3 kg di DIY mencapai 2,5 juta tabung atau meningkat tiga persen dari konsumsi normal, jauh dari permintaan bright gas yang masih mencapai 1.500 tabung pada bulan yang sama.

Peningkatan konsumsi tersebut bahkan sempat memicu kelangkaan persediaan gas melon di pasaran pada pekan pertama Oktober. Untuk menjaga stok elpiji bersubsidi itu tetap aman pada 16-17 Oktober Pertamina menggelar Operasi Pasar (OP) di Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, dan Sleman.

Selain disebakan meningkatnya kegiatan rumah tangga pada momen Idul Adha, dan tingginya tren seremoni keagamaan, menurut dia tingginya permintaan elpiji bersubsidi tersebut juga disebabkan belum meningkatnya kesadaran masyarakat kelas menengah untuk beralih ke bright gas.

Padahal jika penjualan elpiji bersubsidi tepat sasaran, menurut dia, kecil kemungkinan akan terjadi kelangkaan di kalangan masyarakat.

"Sebagai barang bersubsidi, elpiji 3 kg sejatinya merupakan komoditas yang diperuntukan bagi masyarakat miskin dan usaha kecil," kata dia.

Didi mengakui masih rendahnya animo masyarakat untuk beralih ke bright gas dengan harga eceran tertinggi (HET) Rp57.500 per tabung itu antara lain karena bahan bakar gas berwarna pink tersebut masih terbilang baru bagi masyarakat. Untuk mendorong minat mereka menggunakan elpiji 5,5 kg, PT Pertamina terus meningkatkan upaya promosi dan edukasi.

Upaya promosi itu, di antaranya dengan mengadakan berbagai program diskon, bekerja sama dengan apartemen hingga penukaran dua tabung bekas elpiji 3 kg untuk satu tabung bright gas. Di DIY sentra penjualan bright gas dapat di jumpai di mini market modern, SPBU, atau agen elpiji.

"Kami juga terus mengedukasi bahwa penggunaan braght gas sama dengan elpiji 3 kg tidak memerlukan regulator dan kompor khusus," kata dia.

Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) DIY Siswanto mengatakan rata-rata konsumen bright gas di DIY hingga kini masih banyak yang sekadar penjajakan atau coba-coba.

Oleh sebab itu, menurut dia, pemasaran bright gas masih membutuhkan peningkatan sosialisasi oleh PT Pertamina (persero) bersama masing-masing pemerintah daerah hingga menjangkau masyarakat di perdesaan.

Senada dengan Didi, Siswanto menduga kelangkaan elpiji bersubsidi selama beberapa hari terakhir di DIY juga disebabkan faktor pendistribusian elpiji yang tidak sesuai peruntukannya. Menurut dia, elpiji 3 kg, pada dasarnya hanya diperuntukkan bagi masyarakat dengan penghasilan Rp1,5 juta ke bawah.

"Sedang kenyataanya di lapangan banyak orang menggunakan mobil ikut membeli elpiji bersubsidi itu. Ini namanya tidak tepat sasaran," kata dia.

Jika kesalahan penyalurannya pada agen maka Hiswana Migas tentu akan memberikan teguran dan sanksi. Namun demikian, apabila penjualan tidak tepat sasaran itu ada di level pengecer pihaknya tidak dapat melakukan intervensi.

"Ya kalau kesalahannya di toko atau pengecer kami tidak bisa apa-apa karena sudah berkaitan dengan mekanisme pasar dan berkaitan kesadaran masyarakat," Siswanto.

(T.L007)




Pewarta :
Editor: Luqman Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026