DLH Yogyakarta pasang timbangan digital di depo sampah jelang Nataru

id sampah Yogyakarta,timbangan sampah,DLH Yogyakarta

DLH Yogyakarta pasang timbangan digital di depo sampah jelang Nataru

Tumpukan kantong sampah menumpuk di salah satu depo sampah di Kota Yogyakarta, Kamis (13/11/2025). ANTARA/Luqman Hakim

Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta memasang timbangan digital di depo-depo sampah untuk mengantisipasi lonjakan timbulan sampah jelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah DLH Kota Yogyakarta Ahmad Haryoko menyebut pemasangan timbangan digital untuk pendataan dan memastikan alur pengangkutan sampah terkendali.

"Baru terpasang di delapan titik. Targetnya 13 titik (depo sampah)," kata dia saat diskusi terkait pengelolaan sampah di DIY di Gedung DPRD DIY, Kota Yogyakarta, Kamis.

Delapan depo yang telah dipasang timbangan digital saat ini adalah Depo Lapangan Karang, THR, Pura Wisata, Argolubang, Mandala Krida, Pringgokusuman, Nitikan, Utoroloyo, dan Sorosutan.

Baca juga: Pakar UGM sebut PSEL harus diiringi transisi menuju ekonomi sirkular

Haryoko mengatakan seluruh pemasangan timbangan digital ditargetkan rampung pada Desember 2025, termasuk satu lokasi yang belum dipasangi perangkat, yakni depo di dekat RRI Kotabaru, Yogyakarta.

Menurut dia, timbangan digital dipasang untuk memastikan pencatatan volume sampah harian di setiap depo.

Alat itu tidak digunakan sebagai pembatas tonase, melainkan untuk mengetahui realitas volume timbulan sampah secara lebih akurat.

"Tidak ada batasan sebenarnya. Jadi, timbangan lebih untuk mengukur, kaitannya dengan realitas, sebenarnya berapa sih dari sampah kita. Intinya untuk pendataan," ujarnya.

Menjelang Nataru, lanjut Haryoko, DLH Kota Yogyakarta masih mendapat dukungan DLHK DIY untuk pembuangan sampah ke TPST Piyungan, Bantul.

DLH Yogya mengajukan kuota 300 ton per minggu untuk pengangkutan selama periode tersebut.

Baca juga: Alasan sampah pakaian berisiko munculkan mikroplastik

Haryoko menyebut kuota itu mencukupi meskipun rata-rata produksi sampah harian Kota Yogyakarta mencapai sekitar 200 ton karena sebagian ditangani melalui unit-unit pengolahan.

"Tidak hanya kemudian mengandalkan TPA saja. Kami optimalkan juga di unit pengolahannya," kata dia.

Ia memastikan kuota 300 ton per minggu itu akan berlaku hingga awal Januari 2026.

Apabila TPST Piyungan resmi ditutup pada Januari 2026, menurut dia, DLH akan mengoptimalkan kapasitas pengolahan oleh pihak swasta.

Salah satunya melalui ITF Bawuran yang, menurut Haryoko, telah menyampaikan komitmen untuk meningkatkan kapasitas pengolahan sampah.

"Mereka sudah berjanji ke Gubernur DIY untuk bisa mengoptimalkan. Insya Allah nanti kita mendorong teman-teman di ITF Bawuran itu bisa optimal sesuai dengan target mereka," ujarnya.

Baca juga: ORI DIY sampaikan saran korektif tata kelola sampah ke Pemkab Bantul

Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.